Antisipasi Dampak Perang, Selandia Baru Tambah Cadangan Solar 90 Juta Liter

Wait 5 sec.

Ilustrasi SPBU Foto: Stepan Skorobogadko/ShutterstockPemerintah Selandia Baru telah mengamankan tambahan pasokan solar untuk sembilan hari sebagai persiapan menghadapi gangguan rantai pasok akibat perang yang berkepanjangan di Timur Tengah. Mengutip Bloomberg, Menteri Keuangan Nicola Willis, menyatakan bahwa kesepakatan dengan Z Energy untuk pengadaan 90 juta liter bahan bakar ini merupakan langkah perlindungan jika skenario terburuk terjadi.Cadangan tambahan tersebut akan digunakan apabila negara mulai mengalami kelangkaan bahan bakar. Nicola Willis menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan langkah praktis untuk memastikan negara memiliki ketahanan yang lebih kuat di tengah ketidakpastian pasar bahan bakar global saat ini."Langkah ini memperkuat benteng ekonomi dan energi kita serta mengurangi dampak potensial dari gangguan pasokan internasional akibat konflik di Timur Tengah," ujar Nicola Willis mengutip Bloomberg, Selasa (28/4).Tambahan pasokan ini meningkatkan cadangan solar nasional sekitar 50 persen, menambah stok yang sebelumnya hanya cukup untuk 21 hari menjadi total 30 hari. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Z Energy yang merupakan unit dari perusahaan Australia Ampol Ltd akan melakukan pengadaan dan memiliki bahan bakar itu, sementara pemerintah memegang kendali penuh atas pelepasannya ke pasar.Meskipun detail finansial bersifat rahasia, Nicola Willis menjelaskan bahwa pemerintah telah bernegosiasi secara ketat untuk membatasi risiko kerugian anggaran jika harga pasar menurun di masa depan. Bahan bakar tersebut akan disimpan di fasilitas Channel Infrastructure NZ di Marsden Point dan hanya akan dilepaskan jika terjadi gangguan besar pada rantai pasok, seperti keterlambatan pengiriman tanker yang signifikan."Memiliki tambahan pasokan untuk sembilan hari akan memberikan ruang bernapas bagi kita sambil menunggu kedatangan tanker alternatif," tutur Nicola Willis.Selain fokus pada solar, pemerintah Selandia Baru juga sedang mengkaji kebutuhan untuk mengamankan pasokan tambahan bahan bakar pesawat atau jet fuel. Namun, keterbatasan ruang penyimpanan di dalam negeri menjadi tantangan tersendiri, sehingga opsi penyimpanan cadangan di luar negeri kini tengah dipertimbangkan sebagai solusi alternatif.