Cerita Kreator Konten Bev Tan Menyelami Dunia Wastra, Diawali Rasa Penasaran

Wait 5 sec.

Bev Tan, kreator konten wastra. Foto: Instagram @/itsbxtanJika kamu pencinta dunia mode, mungkin kamu sudah familier dengan nama Bev Tan. Ia adalah kreator konten yang berfokus pada informasi dan edukasi mengenai tekstil Indonesia, seperti wastra (kain tradisional Nusantara), kebaya, dan pakaian tradisional lainnya.Lewat foto dan video yang diunggah di Instagram miliknya, @itsbxtan, Bev menunjukkan bagaimana para perempuan mengenakan kebaya dan kain di masa lalu. Selain itu, Bev juga mengunggah video-video informatif mengenai cara reparasi baju yang rusak, teknik menjahit, hingga vlog yang mengabadikan proses menjahit siluet baju-baju tradisional, seperti kamisol.Namun, wastra tidak muncul dalam ruang digital Bev saja. Di kesehariannya, Bev gemar mengenakan kebaya dan kain di berbagai kesempatan. Dalam wawancara bersama kumparanWOMAN pada Rabu (22/4), Bev mengatakan bahwa dia senang bereksperimen dengan pakaiannya.Bev Tan, kreator konten wastra. Foto: Instagram @/itsbxtan“Awal mulanya, aku berpikir, ‘Oh, aku ingin berpakaian seperti para perempuan di zaman dulu’. Semakin lama, semakin sering pakai (kebaya, kamisol, dan kain), aku sudah terbiasa dan aku tidak merasa ribet memakainya,” ucap Bev lewat sambungan telepon.Meski sudah mendalami dunia wastra Nusantara sejak 2023, ketertarikan Bev tidak muncul tiba-tiba. Sejak masa sekolah, ia sudah tertarik dengan tekstil karena ini merupakan karya seni yang bisa dilihat dan disentuh langsung.Selain itu, dia menjelaskan, minatnya dengan tekstil Indonesia dan jahit-menjahit juga muncul berkat rasa penasaran dengan cara hidup orang-orang di zaman dahulu.Banyak cerita masa lalu yang menarik untuk diulik, dipelajari, dan dipahami. Terlebih, di zaman itu, kebaya dan kain tradisional lainnya bisa menjadi penanda status sosial seseorang.“Walaupun mungkin terlihatnya kita hanya mempelajari kain atau pakaian, kita bisa belajar banyak, seperti sejarah, pakem-pakem pakaian. Terkadang, jika kita melihat foto-foto dulu, kita bisa mengetahui status sosial seseorang. Di masa itu, pakaian punya makna yang sangat berbeda dengan sekarang,” jelas Bev.Bev Tan, kreator konten wastra. Foto: Instagram @/itsbxtanBagaimana dengan komitmen Bev dalam menjahit? Sebelum menyelami dunia wastra, Bev sudah jauh lebih dulu belajar menjahit. Dia mulai belajar pada 2013 dengan menggunakan mesin jahit manual. Dorongannya pun sama, rasa penasaran tentang kehidupan orang di zaman dulu.“Jadi, awalnya aku memang selalu tertarik dengan bagaimana cara orang dulu hidup; how they live their day-to-day. Nah, aku pengin tahu bagaimana mereka bertahan hidup di zaman depresi atau zaman perang. Dulu, kalau baju rusak, mereka harus bisa membetulkannya sendiri. Dari sana, aku melihat ini sebagai hal yang berguna dan menarik untuk dipelajari,” ucap Bev.Ketertarikan ini sejalan dengan latar belakang pendidikan Sejarah Seni yang dia ambil di University of California, Los Angeles (UCLA), Amerika Serikat.Saat ia masih berkuliah, ia terekspos dengan fashion-fashion vintage dari dunia Barat. Namun, ia ingin kembali ke akarnya sebagai orang Indonesia dan mulai mencari tahu soal fesyen masa lampau Tanah Air. Dari sanalah, ia mulai mengenal wastra.Di 2019, dia akhirnya membeli kain pertamanya dari jenama Sejauh Mata Memandang. Meski begitu, kainnya sempat “menganggur” karena dia tidak tahu cara mengikat kain batik yang benar. Barulah Bev mempelajari tata cara memakai rok kain lewat YouTube, meskipun saat itu langkahnya sering kali kurang tepat.Bev mengatakan, kala itu ia cukup sering ditegur soal pemakaian kainnya—baik dari cara mengikat kain, arah lipatan rok kain, sampai perpaduan warnanya. Meski begitu, ia tak berhenti belajar dan memproduksi konten soal wastra. Menurutnya, ruang untuk belajar dan berkembang terkait wastra tidak pernah berhenti.“Itulah yang saya pelajari dari budaya. Karena kita terus-menerus belajar, kesalahan pasti akan menjadi bagian dari prosesnya,” tegas Bev.