● Riset kami berhasil menemukan bayi hiu paus di Teluk Saleh.● Penemuan ini terjadi berkat kolaborasi nelayan dan ilmuwan (sains warga).● Teluk Saleh menjadi habitat ideal bagi hiu paus muda karena kondisi perairannya kaya nutrisi.Pernahkah kamu membayangkan seekor ikan yang ukurannya bisa sebesar bus sekolah? Kira-kira sebesar itulah ukuran hiu paus (Rhincodon typus) dewasa.Meski badannya berukuran raksasa, spesies ini pandai menyembunyikan dirinya dan juga anak-anaknya. Selama puluhan tahun, para ilmuwan dari seluruh penjuru Bumi dibuat kebingungan untuk mencari tahu di mana si induk hiu paus ini melahirkan dan di mana anak-anaknya tumbuh berkembang. Belum ada satu tempat pun di dunia yang diketahui sebagai tempat melahirkan (pupping ground) hiu paus sampai sekarang.Lalu teka-teki global ini perlahan mulai terungkap di perairan Indonesia, tepatnya di Teluk Saleh, Nusa Tenggara Barat.Riset kami yang terbit di jurnal Diversity, berhasil mengonfirmasi penemuan neonatus atau bayi hiu paus berukuran panjang kurang dari 1,5 meter di Teluk Saleh.Sepanjang catatan sejarah, baru ada 33 kali penampakan kemunculan bayi hiu paus berukuran kurang dari 1,5 meter di dunia. Itulah mengapa penemuan kami ini menjadi sangat langka. Kejutan dari Teluk SalehTerletak di Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Teluk Saleh memang sudah lama dikenal sebagai habitat penting bagi populasi hiu paus muda (juvenil) berukuran 3 hingga 7 meter. Di daerah ini, hiu paus acap berinteraksi dengan bagan, yaitu alat tangkap nelayan tradisional berupa kerangka kayu di atas laut yang dilengkapi dengan lampu terang untuk menangkap ikan-ikan kecil pada malam hari.Pada Agustus 2024, para nelayan bagan di timur Teluk Saleh melaporkan kepada kami, tim peneliti, ihwal kemunculan hiu paus yang ukurannya sangat kecil, hanya sekitar 1,2–1,5 meter. Biasanya, hiu paus yang muncul di bagan, berukuran 3 hingga 7 meter.Hiu paus mungil ini dilaporkan terlihat di beberapa bagan pada kesempatan yang berbeda, sedang mencari makan pada malam hari hingga menjelang subuh.Puncaknya terjadi pada 6 September 2024 pukul 04:38 pagi. Nelayan bagan tak sengaja mendapati seekor bayi hiu paus yang terjebak masuk ke dalam jaring angkat mereka. Sesuai dengan arahan kami, mereka mengangkat sang bayi hiu paus dan segera memindahkannya ke dalam boks pendingin (styrofoam) berisi air laut. Setelah beberapa menit direkam dan amati di dalam boks, nelayan melepaskan dengan sangat hati-hati sang bayi dalam keadaan sehat tersebut kembali ke laut.Kami berhasil mengidentifikasi bahwa sang bayi itu berkelamin jantan (terlihat dari organ kelamin jantan atau clasper). Panjang total, dari ujung kepala sampai ujung ekor, diperkirakan sekitar 135–145 cm. Dari panjangnya dan berdasarkan laju pertumbuhan neonatus yang dipelihara di Taiwan, kami memperkirakan bayi hiu paus ini baru berumur sekitar empat bulan.Ini merupakan penemuan pertama bayi hiu paus di Indonesia dan salah satu yang terkecil yang pernah didokumentasikan dalam keadaan berenang bebas secara global.Kenapa hiu paus muda suka berada di Teluk Saleh?Teluk Saleh merupakan perairan semi-tertutup yang memiliki perputaran arus air yang terbatas, tapi sangat kaya akan nutrisi. Lokasi ini mendapatkan banyak asupan organik dari hutan mangrove, padang lamun, dan terumbu karang di sekelilingnya.Kondisi tersebut menyebabkan teluk ini dipenuhi dengan makanan lezat dan bernutrisi tinggi, seperti ikan pelagis kecil (misalnya teri) dan udang berukuran kecil yang disebut rebon (Acetes intermedius), yang penting bagi pertumbuhan hiu paus muda.Kelimpahan makanan ini, ditambah dengan geografis perairannya yang membentuk cekungan semi-tertutup, menjadikannya tempat berlindung yang sangat ideal bagi hiu paus muda dari pemangsa.Dari temuan langka ini, kami menduga Teluk Saleh tidak hanya berperan sebagai tempat pembesaran hiu paus muda, tetapi juga menjadi tempat lahirnya anak-anak hiu paus.Temuan ini memperkuat posisi Teluk Saleh sebagai habitat penting bagi populasi hiu paus dunia yang saat ini sejalan juga dengan inisiatif pemerintah daerah dan pusat untuk membentuk kawasan konservasi khusus hiu paus pertama di Indonesia. Baca juga: Mengapa ratusan hiu paus terdampar di Selatan Jawa dalam 13 tahun terakhir? Riset kami temukan jawabannya Kolaborasi nelayan dan ilmuwanSatu hal yang paling membanggakan dari riset ini adalah pendekatan sains warga (citizen science) yang kami terapkan. Informasi langka ini sukses kami dapat karena terjalinnya kerja sama yang erat antara masyarakat lokal sebagai nelayan bagan dan kami sebagai ilmuwan.Sebelum penemuan ini, tim riset sudah melatih dan berkoordinasi dengan para nelayan bagan untuk mengidentifikasi hiu paus dan cara melakukan pelaporan.Ketika menemui bayi hiu paus, para nelayan ini memotret, merekam video, dan mengirimkan laporan berikut tanggal dan lokasi melalui pesan WhatsApp kepada tim riset. Penemuan bayi hiu paus di Teluk Saleh ini menjadi kebanggaan ilmiah bagi bangsa Indonesia sekaligus memberi kontribusi luar biasa terhadap pengetahuan dan literatur kelautan global, khususnya tentang spesies ikan raksasa ini. Meski begitu, riset dan pengawasan yang lebih mendalam masih sangat dibutuhkan untuk melihat pola kehadiran mereka dari waktu ke waktu, meneliti bagaimana bayi hiu paus menggunakan Teluk Saleh sebagai habitat penting mereka.Masyarakat lokal harus terus diberdayakan sebagai penjaga keanekaragaman hayati kita. Begitu pula ekosistem mangrove, lamun, dan ekosistem terumbu karang di sekitar Teluk Saleh harus dilestarikan demi menjaga kelangsungan hidup “raksasa jinak” ini.Mochamad Iqbal Herwata Putra menerima dana dari David and Lucile Packard Foundation, MAC3 Impact Philanthropies, GIZ IKI SOMACORE (International Climate Initiative – Solutions for Marine and Coastal Resilience), Pemerintah Prancis, serta Ant International, yang telah memberikan dukungan bagi upaya konservasi hiu paus di Indonesia. Para pemberi dana tidak terlibat dalam perancangan penelitian, pengumpulan data, analisis dan interpretasi data, penulisan artikel ini, maupun dalam keputusan untuk mengirimkan naskah ini untuk dipublikasikan.Edy Setyawan tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.