Lapar Mata Berburu Takjil di Bulan Ramadan

Wait 5 sec.

Ilustrasi pedagang takjil. Foto: Nugroho Sejati/kumparanBulan puasa memberikan pengalaman tersendiri. Banyak hal-hal yang di bulan lain kita sebut biasa saja, namun saat bulan puasa itu menjadi luar biasa. Sebut saja penjual gorengan yang menjamur di pinggir jalan, mereka menjajakan barang dagangannya selepas Asar, bahkan ada yang setelah Zuhur telah menggelar barang dagangannya.Bulan puasa memberikan keberkahan kepada para pedagang. Bukan hanya pedagang yang sering menjajakan dagangannya, namun kita juga bisa melihat banyak dari mereka adalah pedagang musiman. Selain menyajikan segala bentuk makanan dan minuman, para pedagang takjil juga memberikan promo menarik dan juga cara berdagang yang unik.Ada beberapa pedagang memanfaatkan bulan Ramadan sebagai ajang untuk mendapatkan banyak keuntungan. Di luar bulan Ramadan, harga gorengan hanya seribu rupiah per potong, namun saat ini kita mendapatkan harga yang fantastis untuk sebuah gorengan, mereka menjual dengan harga lima ribu rupiah mendapatkan empat buah gorengan.Pada bulan Ramadan juga banyak kita temui fenomena ajaib yang terjadi pada jam 16.30-18.00. dalam waktu yang sesingkat itu kita dapati beberapa orang yang biasanya rasional dalam berbelanja, namun saat Ramadan menjadi seorang yang irasional, yaitu mereka berburu makanan takjil yang disajikan oleh pedagang makanan di pinggir jalan dengan tidak mempedulikan kalori yang masuk ke dalam tubuh mereka. Mereka membeli makanan yang mereka lihat. Mereka tidak lagi memperhitungkan jumlah uang yang mereka keluarkan hanya untuk membeli makanan takjil yang banyak.Fenomena itu bisa kita bilang sebagai esensi dari lapar mata. Sebuah kondisi di mana mata kita memiliki kapasitas jauh lebih besar daripada lambung sendiri. Risoles yang berwarna coklat keemasan seolah-olah berbisik “beli aku sekarang, atau kamu akan menyesal saat azan nanti.” Di titik itu kita tidak sedang makanan, kita sedang membeli kebahagiaan. Kita takut jika kita tidak membeli semuanya, moment berbuka akan terasa kurang “sah”.Fenomena berburu takjil bisa kita bilang sebagai esensi dari lapar mata, kemampuan berhitung menjadi berantakan, kita tidak mampu menahan hawa nafsu untuk terus berburu takjil. (Foto Pribadi)Saat kita melakukan ngabuburit, kemampuan berhitung kita menjadi berantakan. Saat sebelum Ramadan, satu gelas es buah sudah cukup untuk membasahi tenggorokan, namun saat ngabuburit, satu gelas es buah, satu buah es campur, kolak, dan gorengan itu merupakan kebahagiaan. Hasilnya, saat menjelang berbuka puasa, meja makan berubah menjadi pameran makanan warna-warni. Kita lupa bahwa setelah minum satu gelas air putih dan memakan satu buah kurma, perut kita seringkali sudah mengirim sinyal “kenyang”.Hasilnya? Meja makan kita berubah menjadi pameran minuman warna-warni. Kita lupa bahwa setelah minum satu gelas air putih dan memakan satu buah kurma, perut kita seringkali sudah mengirim sinyal "penuh". Puncak dari komedi “lapar mata” ini adalah saat menjelang salat Isya dan tarawih, piring-piring kotor menumpuk, dan kita duduk bersandar kekenyangan. Di pojok meja, masih ada bungkusan makanan yang belum tersentuh. Sepertinya perut ini sudah terisi penuh dan akan memuntahkan isi yang ada di dalamnya.Gorengan yang tadi sore terlihat sangat seksi, sekarang tampak berminyak dan layu. Es yang tadi segar, kini sudah mencair dan hambar. Di sinilah kita biasanya berjanji pada diri sendiri, “besok belinya dikit aja” tapi kita semua tahu, itu adalah kebohongan paling manis yang kita buat setiap hari. Sebenarnya, lapar mata adalah perayaan kecil atas rasa syukur. Kita begitu bergembira menyambut waktu berbuka hingga ingin menghidangkan yang terbaik.Sebenarnya, lapar mata adalah perayaan kecil atas rasa syukur kita. Kita begitu bergembira dalam menyambut waktu berbuka hingga ingin menghidangkan yang terbaik. Namun, Ramadan juga tentang menahan diri. Mungkin esok, sebelum tangan kita merogoh kantong celana untuk membeli makanan dan minuman, kita perlu bertanya: “ini perut yang minta, atau cuma ego yang ingin berpesta?”Takjil itu ibarat mantan, saat belum dimiliki terasa sangat berharga, tetapi setelah ada di depan mata, kadang kita bingung mau diapakan.