Sebuah perahu mendekati kapal kontainer Marsa Victory berbendera St Kitts dan Nevis saat berlayar di perairan Selat Hormuz di lepas pantai Khasab di semenanjung Musandam utara Oman pada 25 Juni 2025. Foto: Giuseppe Cacace/AFPPenutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran pasar energi global. Jalur vital yang terletak di selatan Iran itu ditutup menyusul serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada Sabtu (28/2), sehingga memicu penahanan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, hingga gas alam cair (LNG) oleh pemilik kapal tanker, perusahaan minyak, dan perusahaan perdagangan.Meski Angkatan Laut Inggris menilai perintah tersebut tidak memiliki kekuatan hukum dan meminta kapal tetap melintas dengan kewaspadaan tinggi, aktivitas pelayaran dilaporkan terganggu. Perusahaan pialang Poten & Partners mencatat gangguan meningkat cepat dalam beberapa hari terakhir.Mengutip Reuters, seorang eksekutif perusahaan perdagangan besar mengatakan, "Kapal-kapal kami akan tetap di tempat selama beberapa hari," katanya.Citra satelit pelacak kapal menunjukkan antrean tanker menumpuk di sekitar pelabuhan utama seperti Fujairah, Uni Emirat Arab, tanpa bergerak menuju Hormuz. Situasi ini mempertegas kekhawatiran pasar atas potensi tersendatnya pasokan energi global.Ilustrasi Selat Hormuz dan Teluk Persia. Foto: lavizzara/ShutterstockNegara-negara Terdampak Blokade Selat HormuzSelat Hormuz merupakan jalur krusial bagi sekitar 20 persen pasokan minyak global. Sejumlah produsen utama seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak mengekspor sebagian besar minyak mentahnya melalui selat tersebut, terutama ke kawasan Asia.Qatar, salah satu pengekspor LNG terbesar di dunia, juga mengirimkan hampir seluruh gas alam cairnya melalui jalur ini.Produsen utama OPEC+ seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dilaporkan telah meningkatkan ekspor minyak dalam beberapa hari terakhir sebagai bagian dari rencana darurat. Kedua negara juga mengupayakan jalur alternatif untuk menghindari Hormuz.Badan Informasi Energi AS sebelumnya mencatat terdapat kapasitas tidak terpakai sekitar 2,6 juta barel per hari (bpd) dari pipa UEA dan Saudi yang dapat dimanfaatkan untuk mengalihkan pengiriman.Berdasarkan analisis Bloomberg, negara yang paling bergantung pada minyak yang transit di Selat Hormuz adalah China, dengan porsi 38 persen. Disusul India sebesar 15 persen, kawasan Asia lainnya 14 persen, Korea Selatan 12 persen, dan Jepang 11 persen.Jika konflik berlarut, harga minyak berpotensi melonjak saat perdagangan awal pekan dibuka. Harga minyak mentah Brent sebelumnya telah naik ke kisaran USD 70 per barel, tertinggi sejak Agustus 2025, seiring meningkatnya tensi geopolitik.Petugas tanggap darurat Israel bekerja di lokasi serangan rudal Iran di jalan raya, setelah Iran melancarkan rentetan rudal menyusul serangan oleh AS dan Israel, di Yerusalem, 1 Maret 2026. Foto: REUTERS/Ammar AwadDampak ke Biaya Logistik RIImbas kenaikan harga minyak global berpotensi merembet ke dalam negeri. Founder dan CEO Supply Chain Indonesia (SCI), Setijadi, mengatakan gangguan di Selat Hormuz bisa memicu kenaikan harga solar yang berdampak langsung pada biaya angkut truk di Indonesia.“Dalam skenario moderat, kenaikan harga minyak global sebesar USD 25 per barel berpotensi mendorong kenaikan harga keekonomian solar sekitar Rp 750-2.000 per liter, tergantung kurs dan kebijakan penyesuaian harga. Dalam skenario lebih berat dengan kenaikan hingga USD 50 per barel, tekanan terhadap biaya distribusi dapat meningkat lebih signifikan,” kata Setijadi dalam keterangan tertulis, Minggu (1/3).Dia menjelaskan, komponen bahan bakar minyak (BBM) menyumbang sekitar 35-40 persen dari total biaya operasional truk. Dengan asumsi tersebut, kenaikan harga solar 10 persen dapat mendorong kenaikan ongkos angkut sekitar 3,5 hingga 4 persen.Jika harga solar meningkat 20 persen, biaya angkut truk berpotensi naik 7 hingga 8 persen. Dalam skenario lebih berat, jika kenaikan solar mencapai 30 persen, lonjakan ongkos angkut bisa menyentuh 10,5 sampai 12 persen.Rata-rata biaya logistik di Indonesia diperkirakan sekitar 14 persen dari harga produk, dengan sekitar separuhnya berasal dari transportasi jalan.Kenaikan ongkos angkut berpotensi menekan harga berbagai komoditas, terutama pangan dan kebutuhan pokok, serta meningkatkan risiko inflasi biaya distribusi. Industri berbasis impor juga menghadapi risiko ganda akibat lonjakan biaya impor dan distribusi domestik.Data Perdagangan RISementara itu, Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS), Ateng Hartono, menyatakan dampak langsung terhadap kinerja ekspor-impor Indonesia masih perlu kajian lebih lanjut."Untuk melihat potensi dampak jika konflik meningkat, tentunya ini diperlukan kajian yang lebih lanjut lagi,” kata Ateng dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Senin (2/3).Berdasarkan data 2025, impor nonmigas Indonesia mencatat impor dari Iran sebesar USD 8,4 juta. Komoditas terbesarnya adalah buah-buahan (HS08) senilai USD 5,9 juta, diikuti besi dan baja sebesar USD 0,8 juta, serta mesin dan peralatan mekanis beserta bagiannya (HS84) sebesar USD 0,7 juta.Impor nonmigas dari Oman mencapai USD 718,8 juta, dengan komoditas utama besi dan baja sebesar USD 590,5 juta. Selain itu terdapat bahan kimia organik (HS29) sebesar USD 56,7 juta, serta garam, belerang, batu dan semen (HS25) sebesar USD 44,2 juta.Sementara itu, impor nonmigas dari Uni Emirat Arab tercatat sebesar USD 1,4 miliar. Komoditas dominannya berupa logam mulia dan perhiasan sebesar USD 511,1 juta, aluminium dan barang daripadanya sebesar USD 181,6 juta, serta garam, belerang, batu dan semen sebesar USD 43,2 juta.Dari sisi ekspor, nilai perdagangan Indonesia dengan negara-negara tersebut juga cukup besar.“Ekspor nonmigas ke Iran tercatat USD 249,1 juta, didominasi buah-buahan (HS08) sebesar USD 86,4 juta, kendaraan dan bagiannya (HS87) sebesar USD 34,1 juta, serta lemak dan minyak hewan nabati (HS15) sebesar USD 22 juta,” ungkapnya.Ekspor nonmigas ke Oman mencapai USD 428,8 juta, dengan komoditas utama lemak dan minyak hewan nabati sebesar USD 227,7 juta, kendaraan dan bagiannya sebesar USD 64,2 juta, serta bahan mineral (HS27) sebesar USD 48,1 juta.Untuk ekspor nonmigas ke Uni Emirat Arab menjadi yang terbesar, yakni USD 4 miliar. Komoditas utamanya meliputi lemak dan minyak hewan nabati sebesar USD 510,3 juta, kendaraan dan bagiannya sebesar USD 363,5 juta, serta logam mulia dan perhiasan sebesar USD 183,6 juta.