Ilustrasi perang antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat. Sumber: Doc. AIMendengar berita bahwa perang antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat sedang pecah di Timur Tengah, anak saya yang duduk di bangku kelas 1 sekolah dasar bertanya: Kenapa mereka berperang?Pertanyaan itu terdengar sederhana. Tetapi, menjawabnya tidaklah mudah. Mungkin pertanyaan sebenarnya bukan sekadar mengapa negara berperang, sebab sejarah sudah memberi terlalu banyak jawabannya. Pertanyaan yang lebih sulit adalah setelah ribuan tahun pengalaman perang, mengapa manusia modern masih terus berperang?Eskalasi di Timur Tengah yang ditandai dengan ketegangan kembali antara Iran dan Israel yang didukung Amerika Serikat menunjukkan bahwa bahkan di era globalisasi dan diplomasi multilateral, konflik bersenjata tetap menjadi bagian penting dari politik internasional. Harus diakui memang bahwa sejarah dunia modern dibentuk dari serangkaian perang besar yang mengubah tatanan dunia dan arah peradaban manusia.Dinamika Perang Salah satu contoh adalah Perang Peloponnesian. Perang antara Athena dan Sparta di Yunani kuno ini memang sangat jauh dari dunia modern, tetapi refleksi dari konflik itu masih dipelajari hingga hari ini. Sejarawan Yunani, Thucydides, mencatat bagaimana ketakutan Sparta terhadap kebangkitan kekuatan Athena memicu perang yang panjang dan melelahkan, yang kemudian melahirkan fondasi pemikiran bahwa persaingan kekuatan besar hampir selalu membawa potensi konflik.Berabad-abad kemudian, Eropa mengalami salah satu perang paling menghancurkan, dikenal dengan Thirty Years' War. Perang 30 tahun ini bermula sebagai konflik agama antara Katolik dan Protestan, tetapi lalu berkembang menjadi perebutan kekuasaan geopolitik di seluruh benua. Dampaknya luar biasa, karena sebagian wilayah Eropa mengalami kehancuran demografis yang besar hingga tatanan politik lama runtuh. Dari kehancuran itu lahir satu konsep yang kemudian menjadi dasar sistem internasional modern, yaitu kedaulatan negara. Melalui serangkaian perjanjian yang dikenal sebagai Peace of Westphalia, negara-negara Eropa sepakat bahwa setiap negara memiliki otoritas penuh atas wilayahnya sendiri. Prinsip ini kemudian berkembang menjadi fondasi sistem negara modern yang masih bertahan hingga hari ini.Pada abad ke-19, dunia kembali diguncang oleh konflik besar yang berawal dari Prancis, yang dikenal sebagai Napoleonic Wars. Perang ini tidak hanya mengubah peta politik Eropa, tetapi juga menyebarkan gagasan nasionalisme ke berbagai wilayah. Banyak kerajaan lama runtuh, sementara konsep negara-bangsa (nation-state) modern semakin menguat.Ketika dunia memasuki abad ke-20, pecah Perang Dunia I yang menandai perubahan dramatis dalam sejarah manusia. Perang ini melibatkan kekuatan besar dunia dan menggunakan teknologi industri modern dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Setelah perang berakhir, muncul upaya untuk menciptakan mekanisme perdamaian global melalui pembentukan Liga Bangsa-Bangsa (League of Nations). Sayangnya, kelemahan struktural dan ketegangan geopolitik membuat lembaga ini gagal mencegah konflik global berikutnya. Sehingga kurang dari tiga dekade kemudian, pecah Perang Dunia II. Perang ini bukan hanya konflik militer terbesar dalam sejarah, tetapi juga titik balik dalam pembentukan tatanan dunia modern. Setelah perang berakhir tahun 1945, lahir Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menjadi forum global yang dapat mencegah konflik besar melalui diplomasi, hukum internasional, dan kerja sama multilateral. Perang Dunia II juga membuka jalan bagi perubahan geopolitik besar lainnya, yakni munculnya rivalitas ideologis antara dua kekuatan super, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Rivalitas ini berkembang menjadi konflik global yang dikenal sebagai Perang Dingin. Ketika Perang Dingin berakhir pada awal 1990-an, banyak pengamat percaya bahwa dunia sedang memasuki era baru yang lebih stabil. Namun sejarah tampaknya tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Konflik regional, rivalitas kekuatan besar, dan persaingan geopolitik tetap menjadi bagian dari politik internasional hingga hari ini.Dari Yunani kuno hingga era modern, pola yang muncul cukup konsisten. Perang besar hampir selalu menghancurkan tatanan lama, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan sistem baru. Ironisnya, hampir semua sistem internasional yang lahir dari perang dibangun dengan satu tujuan utama, yakni mencegah perang berikutnya. Namun faktanya, perang tetap dan terus terjadi.Barangkali di situlah paradoks terbesar sejarah manusia. Perang jelas membawa kehancuran yang luar biasa, tetapi perang terus saja terjadi dan berulang. Kenapa?Alasan PerangDalam diskursus Hubungan Internasional, para pemikir telah lama mencoba menjawab pertanyaan itu. Salah satu penjelasan yang paling klasik adalah dari sejarawan Yunani kuno, Thucydides, yang menulis tentang perang antara Athena dan Sparta lebih dari dua ribu tahun lalu. Thucydides berargumen bahwa perang sering dipicu oleh tiga hal, yaitu kepentingan, rasa takut, dan kehormatan. Menariknya, meskipun dunia telah berubah drastis sejak masa Yunani kuno, tiga motif itu masih sangat relevan hingga hari ini.Pertama, perang sering kali berkaitan dengan kepentingan. Dalam perspektif realisme dalam hubungan internasional, negara pada dasarnya berusaha mempertahankan keamanan dan memperluas pengaruhnya. Dalam situasi anarki, yakni dunia yang tidak memiliki otoritas global yang benar-benar kuat, negara tidak bisa sepenuhnya mengandalkan pihak lain untuk melindungi kepentingannya. Karena itu, kekuatan militer tetap menjadi alat penting dalam politik global.Pemikir lain seperti Hans J. Morgenthau bahkan menekankan bahwa politik internasional pada dasarnya adalah politik kekuasaan. Negara bertindak berdasarkan kepentingan nasional, dan ketika kepentingan itu berbenturan dengan kepentingan negara lain, konflik menjadi sulit dihindari. Dalam konteks ini, perang bukan selalu sebagai pilihan yang diinginkan, tetapi sering dipandang sebagai pilihan yang tersedia.Kedua, perang juga bisa lahir dari rasa takut. Dalam studi Hubungan Internasional, ada konsep yang dikenal sebagai security dilemma. Ketika sebuah negara meningkatkan kemampuan militernya untuk melindungi diri, negara lain bisa menafsirkan langkah itu sebagai ancaman. Akibatnya, negara lain juga memperkuat militernya. Spiral kecurigaan ini dapat menciptakan perlombaan senjata yang akhirnya meningkatkan kemungkinan konflik. Dalam situasi seperti ini, tindakan defensif (bertahan) satu pihak bisa terlihat ofensif (menyerang) bagi pihak lain. Ketidakpercayaan menjadi bahan bakar yang terus memperbesar ketegangan.Ketiga, perang bisa dipengaruhi oleh politik domestik. Pemimpin negara tidak hanya berhadapan dengan tekanan dari luar negeri, tetapi juga dari dalam negerinya. Ketika menghadapi krisis politik, penurunan popularitas, atau ketegangan sosial, konflik eksternal acapkali digunakan untuk mengalihkan perhatian publik atau memperkuat legitimasi politik. Fenomena ini dikenal sebagai diversionary war theory. Ide dasarnya sederhana, bahwa konflik eksternal bisa menciptakan efek “rally around the flag”, di mana publik bersatu di belakang pemerintah ketika menghadapi ancaman dari luar. Sejarah menunjukkan bahwa dinamika domestik sering kali berperan penting dalam keputusan untuk meningkatkan eskalasi konflik.Namun, meskipun berbagai teori dapat menjelaskan logika perang, tetap ada satu ironi. Hampir setiap perang dalam sejarah selalu dimulai dengan alasan yang terdengar rasional bagi para pelakunya. Negara berperang demi keamanan dunia, demi stabilitas kawasan, demi melindungi sekutu, atau demi mempertahankan kehormatan nasional. Dalam narasi para pengambil keputusan, perang selalu dibungkus dengan bahasa pembelaan diri atau kepentingan yang dianggap sah. Narasi itulah yang sepertinya dibangun oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara membabi-buta.Karena itu, pertanyaan tentang mengapa negara berperang mungkin tidak akan pernah memiliki jawaban tunggal. Perang adalah hasil dari kombinasi kepentingan strategis, ketakutan, rivalitas politik, dan dinamika domestik. Dan jangan lupa, bahwa dunia modern justru dibentuk oleh serangkaian perang besar yang mengubah arah peradaban manusia. Dalam banyak kasus, perang melahirkan tatanan baru dan mengubah bagaimana dunia diatur. Tapi, itu tidak berarti bahwa kita melegitimasi terjadinya perang, ya. Sebab bagaimana pun, perdamaian dunia jauh lebih berarti.