OJK Terus Pantau Dampak Israel-AS Serang Iran ke Pasar Modal RI

Wait 5 sec.

Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan, Aset Keuangan Digital, dan Aset Kripto Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hasan Fawzi dalam peluncuran Peta Jalan IAKD 2024-2028. Foto: dok. OJKOtoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memantau dampak memanasnya konflik Israel dan Amerika Serikat (AS) yang menyerang Iran ke pasar modal Indonesia.Pjs Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengatakan hal tersebut dilakukan agar kebijakan yang diambil bisa sesuai kondisi yang terjadi di lapangan.“Sehubungan dengan volatilitas pasar di awal Maret 2026 yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, OJK tentu terus memantau pergerakan pasar serta terus melakukan koordinasi dengan SRO Bursa Efek Indonesia, KSEI dan KPEI dan juga para pelaku di industri pasar modal dalam mengambil langkah-langkah kebijakan yang diperlukan,” kata Hasan dalam Konferensi Pers RDKB Februari 2026, Selasa (3/3).Terkait adanya tekanan pada pasar saham domestik pada Februari lalu, Hasan menegaskan kondisinya saat ini sudah membaik. Ia mencatat IHSG pada akhir Februari 2026 ditutup pada level 8.235,49. Level itu, terkoreksi 1,13 persen secara month to date atau koreksi 4,76 persen secara year to date.Meski begitu, kata Hasan, dari sisi rata-rata nilai transaksi harian pada Februari cukup tinggi mencapai Rp 25,62 triliun.Ilustrasi Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI). Foto: Shutterstock“Konsisten kalau kita lihat selalu ada di atas Rp 20 triliun sejak bulan Agustus 2025 yang lalu,” ujar Hasan.Dari sisi jumlah investor, pada Februari 2026 tercatat ada penambahan sebanyak 1,8 juta investor di pasar modal domestik. Sehingga dengan begitu total jumlah investor ada pada angka 22,88 juta investor.Sementara itu, investor asing membukukan net buy sebesar Rp 0,36 triliun pada Februari 2026. Angka ini berbalik arah dibandingkan Januari 2026 di mana saat itu investor asing mencatat net sell sebesar Rp 9,888 triliun.Hasan menuturkan di tengah dinamika pasar, industri pengelolaan investasi juga masih melanjutkan kinerja yang positif. Hal itu karena nilai Asset Under Management (AUM) sudah mencapai Rp 1.115,71 triliun per 26 Februari 2026. meningkat 1,11 persen month to date atau 7 persen secara year to date.