Gerhana Bulan Total Sambangi RI Malam Ini, Mulai Muncul Jelang Buka Puasa

Wait 5 sec.

Fenomena alam gerhana bulan terlihat di langit Jakarta pada Senin (8/9) dini hari. Foto: Aditia Noviansyah/kumparanMasyarakat Indonesia berkesempatan menyaksikan salah satu fenomena astronomi paling menakjubkan tahun ini Gerhana Bulan Total (GBT) yang akan terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026, malam WIB menjelang buka puasa. Fenomena alam ini bisa disaksikan secara langsung di berbagai wilayah Indonesia.Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Gerhana Bulan kali ini akan berlangsung selama 5 jam 41 menit 51 detik. Untuk durasi parsialitasnya berlangsung selama 3 jam 27 menit 47 detik. Sementara fase totalitas di mana Bulan benar-benar berada dalam bayangan umbra Bumi akan berlangsung selama 59 menit 27 detik."Gerhana Bulan terjadi akibat dinamisnya posisi Matahari, Bumi, dan Bulan, yang hanya terjadi pada saat fase bulan purnama. Gerhana Bulan Total secara spesifik terjadi ketika posisi Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis sejajar," papar Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika BMKG.Hal ini membuat Bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi. Fenomena ini menyajikan pemandangan yang indah.- Nelly Florida Riama, Deputi Bidang Geofisika BMKG -Jika kondisi langit cerah, masyarakat dapat melihat Bulan berubah warna menjadi merah saat puncak gerhana terjadi. Warna merah ini merupakan hasil dari hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi, di mana cahaya Matahari dengan panjang gelombang pendek (biru) tersebar, sementara cahaya dengan panjang gelombang panjang (merah) lolos mencapai permukaan Bulan.Fenomena alam gerhana bulan terlihat di langit Jakarta pada Senin (8/9) dini hari. Foto: Aditia Noviansyah/kumparanAdapun waktunya, berdasarkan data BMKG, Gerhana Bulan Total akan dimulai pukul 18.03.56 WIB dan mencapai puncak Gerhana Bulan pada pukul 18.33.39 WIB, 19.33.39 WITA, dan 20.33.39 WIT.Pada awal kemunculannya, ketinggian Bulan kurang dari 7 derajat di atas ufuk timur sehingga pengamat disarankan mencari lokasi dengan pandangan lapang ke arah timur tanpa terhalang gedung atau perbukitan. Kondisi medan pandang yang bebas halangan akan membantu masyarakat menikmati keseluruhan fase gerhana dengan lebih leluasa.Lebih lanjut, pengamatan di wilayah Timur Indonesia memiliki visibilitas yang lebih baik karena dapat mengamati fase-fase awal gerhana saat Bulan terbit. Sebaliknya, untuk wilayah Barat Indonesia, gerhana akan ditemukan dalam kondisi sudah berlangsung (fase totalitas atau puncak) sesaat setelah Bulan terbit."Fenomena ini akan benar-benar berakhir sepenuhnya pada pukul 21.24 WIB (atau tengah malam di wilayah WIT) saat bulan keluar dari bayangan penumbra bumi. Masyarakat diimbau untuk mencari lokasi pengamatan yang minim polusi cahaya dan memiliki pandangan langit yang cerah ke arah terbitnya bulan," ujar Fachri Radjab, Plt. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu, BMKG.Tahun 2026 diprediksi akan mengalami empat kali gerhana, yaitu dua kali gerhana Matahari dan dua kali gerhana Bulan. Namun, hanya Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026 yang dapat diamati dari Indonesia.Secara astronomis, Gerhana Bulan Total merupakan anggota ke-27 dari 71 anggota pada seri Saros 133. Fenomena ini sebelumnya pernah terjadi pada 21 Februari 2008 dan diprediksi akan kembali berasosiasi pada 13 Maret 2044 mendatang.Perhitungan astronomi untuk periode 2000–2100 mencatat adanya 453 peristiwa gerhana. Dari jumlah itu, 217 di antaranya bisa diamati dari Indonesia dan hanya 19 yang terjadi beririsan dengan bulan Ramadan, menunjukkan bahwa gerhana saat puasa bukanlah kejadian tahunan yang rutin.