Filipina Ekspor 23 Juta Ton Bijih Nikel ke RI pada 2026

Wait 5 sec.

Seorang pekerja mengambil bijih nikel. Foto: reutersKemampuan Filipina mengekspor bijih nikel ke Indonesia diperkirakan hanya sekitar 23 juta ton pada tahun ini. Jumlah itu dinilai terbatas karena sebagian besar produksi Filipina telah terikat kontrak jangka panjang dengan China.Sekretaris Umum Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) Meidy Katrin Lengkey mengatakan, dari total 37 Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang berproduksi di Filipina, kapasitas produksi maksimalnya sekitar 50 juta ton per tahun."Maksimal 50 juta ton di mana mereka sudah mendapatkan kontrak dari China yang tidak bisa diganggu gugat sekitar 28-30 juta ton. Yang bisa diekspor ke Indonesia hanya 23 juta ton, gak tau ada penambahan IUP di Filipina atau enggak, tapi sepertinya susah," ucap Meidy dalam acara Apindo di Jakarta, Senin (2/3).Menurut Meidy, keterbatasan pasokan dari Filipina menjadi perhatian karena kebutuhan bijih nikel domestik RI pada 2026 diperkirakan mencapai 380-400 juta ton. Sementara, dari sisi produksi dalam negeri, total pengajuan RKAB dari 416 IUP nikel mencapai 440 juta ton, namun yang disetujui pemerintah baru sekitar 250-270 juta ton."Total yang mengajukan dari 416 IUP nikel, 440 juta total pengajuan, dan confirm disetujui hanya 250-270 juta," lanjutnya.Dia menilai, jika kuota produksi hanya berada di kisaran 270 juta ton sementara kebutuhan industri menyentuh 400 juta ton, maka potensi kekurangan pasokan akan sangat besar."Kemudian kalau kita juga sampaikan bahwa demand untuk tahun 2026, itu kurang lebih 380-400 juta ton domestik. Dari 270, kalau demand-nya sampai 400 juta, tentu luar biasa ya minusnya," kata Meidy.Selain persoalan volume pasokan, industri nikel juga menghadapi tekanan biaya akibat kondisi geopolitik global yang mendorong kenaikan harga energi."Ditambah baru-baru ini kan kita lihat sendiri kondisi geopolitik, tentu tonjakan harga energi global luar biasa, karena sasaran perang itu kan wilayah yang jalur utama untuk perputaran minyak," jelas dia.Meidy menjelaskan, proses pengolahan nikel di dalam negeri baik menggunakan teknologi Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) maupun High Pressure Acid Leaching (HPAL) membutuhkan energi tinggi, termasuk batu bara dan bahan bakar minyak (BBM)."Ya tentu dari seluruh produksi tambang kemudian sekitar RKEF, HPAL, itu membutuhkan energi yang tinggi, selain batubara, tentunya ya BBM. Kemudian otomatis ada konfirmasi baru tadi pagi, sulfur acid akan naik karena untuk kebutuhan HPAL," terang Meidy.Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia akan memangkas produksi nikel dan batu bara pada Rancangan Anggaran Kerja dan Belanja (RKAB) tahun 2026. Tujuannya agar harga kedua komoditas, yang mengalami tren penurunan sepanjang tahun 2025, bisa pulih kembali."Semuanya kita pangkas, bukan hanya nikel, batu bara pun kita pangkas. Kenapa? Karena kita akan mengatur supply and demand. Hari ini harga batu bara anjlok semua," ungkapnya usai konferensi pers, Jumat (19/12).Dia menyebutkan, jumlah batu bara yang diperjualbelikan kurang lebih sekitar 1,3 miliar ton. Sementara Indonesia memasok sekitar 500-600 juta ton, alias hampir 50 persen.Meski begitu, Bahlil tidak menjelaskan lebih lanjut terkait berapa besar pemangkasan produksi jika dibandingkan tahun ini, baik itu untuk batu bara maupun nikel.