Label sebagai Senjata: Name-Calling dalam Narasi 'Teroris' pada Konflik Gaza

Wait 5 sec.

Polisi Hamas berjaga setelah dikerahkan di jalan-jalan untuk menjaga ketertiban, menyusul gencatan senjata antara Israel dan Hamas, di Kota Gaza, Senin (20/1/2025). Foto: Dawoud Abu Alkas/REUTERSKonflik Gaza dalam beberapa tahun terakhir bukan hanya menjadi perang militer, melainkan juga perang narasi global. Dunia menyaksikan bagaimana peristiwa yang sama dapat diceritakan dengan cara yang sangat berbeda, tergantung pada siapa yang menyampaikan informasi.Di layar televisi dan media sosial, istilah seperti teroris, militan, ekstremis, atau penjajah muncul hampir setiap hari, membentuk persepsi publik tentang siapa yang benar dan siapa yang salah.Narasi yang beredar sering terlihat begitu jelas dan sederhana: ada pihak yang menjadi korban dan ada pihak yang menjadi pelaku kekerasan.Namun di balik kesederhanaan itu, terdapat proses komunikasi yang sarat kepentingan politik. Bahasa yang digunakan dalam konflik internasional tidak pernah benar-benar netral. Kata-kata tertentu dipilih dengan sengaja untuk membangun persepsi moral tertentu di mata publik global.Fenomena ini menunjukkan bahwa konflik modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh kemampuan mengendalikan opini publik. Dalam konteks ini, propaganda menjadi alat penting dalam hubungan internasional, terutama melalui teknik yang dikenal sebagai name-calling, yaitu penggunaan label negatif untuk membentuk citra suatu pihak.Teknik propaganda ini bekerja secara sederhana tapi efektif, yaitu cukup dengan memberi label tertentu, konflik kompleks dapat disederhanakan menjadi cerita tentang pihak "baik" melawan pihak "jahat". Dalam konflik Gaza, label yang paling dominan dan berpengaruh adalah istilah "teroris".Propaganda dan Kekuasaan Opini PublikDalam hubungan internasional modern, komunikasi telah menjadi sumber kekuasaan yang tidak kalah penting dibandingkan kekuatan militer atau ekonomi. Negara tidak hanya berusaha memenangkan perang di lapangan, tetapi juga berusaha memenangkan persepsi global.Ilustrasi komunikasi publik. Foto: Pressmaster/ShutterstockMedia memainkan peran penting dalam proses ini karena mampu menentukan isu apa yang dianggap penting oleh masyarakat. Fenomena ini dikenal sebagai agenda setting, yaitu kemampuan media untuk menentukan fokus perhatian publik.Ketika media secara konsisten menyoroti peristiwa tertentu sambil mengabaikan konteks lain, publik akan melihat realitas melalui kerangka yang telah dibentuk sebelumnya.Penelitian tentang konflik Gaza menunjukkan bahwa media sering membingkai peristiwa dengan cara yang berbeda-beda, sehingga menghasilkan persepsi yang berbeda pula.Beberapa media menekankan aspek emosional serangan Hamas, sementara yang lain menyoroti penderitaan warga Palestina, menunjukkan bagaimana framing dapat memengaruhi cara publik memahami konflik.Dalam situasi seperti ini, opini publik menjadi arena perebutan pengaruh. Negara dan aktor politik berusaha memastikan bahwa narasi yang dominan adalah narasi yang menguntungkan posisi mereka.Salah satu cara paling efektif untuk memenangkan narasi tersebut adalah dengan menentukan siapa yang dianggap sebagai musuh.Name-Calling sebagai Senjata PropagandaName-calling adalah teknik propaganda yang menggunakan label emosional untuk menciptakan citra negatif terhadap pihak tertentu. Teknik ini bekerja bukan dengan argumentasi rasional, melainkan dengan asosiasi emosional (Hobbs & McGee, 2014).Ilustrasi Teroris. Foto: Shutter StockKetika suatu kelompok diberi label "teroris," publik secara otomatis mengaitkan kelompok tersebut dengan kekerasan, ekstremisme, dan ancaman terhadap keamanan. Label ini membuat publik tidak lagi melihat konflik sebagai persoalan politik yang kompleks, tetapi sebagai pertarungan antara peradaban dan ancaman keamanan.Dalam konflik Gaza, istilah "teroris" sering digunakan untuk menggambarkan kelompok Hamas. Penggunaan istilah ini bukan sekadar deskripsi faktual, melainkan juga bagian dari pembentukan narasi global.Beberapa penelitian menunjukkan bahwa media internasional menggunakan diksi tertentu untuk menekankan sisi negatif Hamas sekaligus menonjolkan sisi positif Israel.Dalam beberapa kasus, framing media secara konsisten menampilkan Israel sebagai pihak yang mempertahankan diri, sementara Hamas digambarkan sebagai pelaku kekerasan utama (Rahmat & Roselani, 2025).Teknik name-calling bekerja dengan menyederhanakan konflik menjadi dua kubu moral yang jelas. Publik tidak lagi didorong untuk memahami akar sejarah konflik atau kondisi politik yang melatarbelakanginya.Sebaliknya, mereka hanya diminta untuk menentukan posisi: mendukung pihak yang dianggap korban atau menolak pihak yang diberi label negatif.Dalam situasi seperti ini, label menjadi lebih kuat daripada fakta.Politik Label "Teroris" dalam Konflik GazaPenggunaan label "teroris" dalam konflik Gaza memiliki dampak yang sangat luas terhadap opini publik global. Ketika label tersebut digunakan secara konsisten, publik mulai menerima narasi bahwa konflik Gaza adalah konflik antara negara yang mempertahankan diri melawan organisasi kekerasan.Orang-orang merayakan di "alun-alun sandera", setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Israel dan Hamas menyepakati fase pertama gencatan senjata Gaza, di Tel Aviv, Israel, Kamis (9/10/2025). Foto: Shir Torem/REUTERSNamun, label negatif tidak hanya digunakan terhadap Hamas atau Palestina. Di sisi lain, Israel juga sering diberi label seperti "penjajah", "rezim apartheid", atau bahkan "genosida" dalam berbagai kampanye politik dan aktivisme global.Pertarungan label ini menunjukkan bahwa konflik Gaza juga merupakan konflik bahasa.Salah satu contoh paling jelas adalah munculnya istilah "Pallywood", sebuah istilah yang digunakan untuk menuduh warga Palestina memalsukan atau merekayasa penderitaan mereka demi mendapatkan simpati internasional.Istilah ini sering digunakan untuk meragukan laporan korban sipil Palestina dan bahkan dianggap sebagai bagian dari kampanye disinformasi.Ketika istilah seperti ini digunakan secara luas, dampaknya bukan hanya pada persepsi politik, melainkan juga pada empati publik terhadap korban konflik. Korban yang dianggap sebagai bagian dari pihak "jahat" sering kali kehilangan simpati internasional.Dalam konteks ini, name-calling tidak hanya membentuk opini politik, tetapi juga menentukan siapa yang dianggap layak untuk mendapatkan empati global.Media Sosial dan Propaganda ModernPerkembangan media sosial telah mempercepat penyebaran propaganda dalam konflik internasional. Jika propaganda pada masa lalu didominasi oleh negara dan media arus utama, propaganda modern kini menyebar melalui jutaan pengguna internet.Penelitian terbaru menunjukkan bahwa konflik Israel–Hamas menjadi salah satu isu geopolitik paling terpolarisasi di media sosial, dengan jutaan pesan dan komentar yang membentuk narasi konflik secara real time (Antonakaki & Ioannidis, 2025).Ilustrasi konflik. Foto: ShutterstockMedia sosial memungkinkan label tertentu menyebar dengan sangat cepat. Kata-kata seperti teroris, genosida, atau penjajah dapat menjadi viral hanya dalam hitungan jam. Ketika suatu label menjadi viral, label tersebut sering dianggap sebagai kebenaran tanpa perlu diverifikasi lebih lanjut.Dalam situasi seperti ini, propaganda menjadi semakin sulit dikenali karena sering muncul dalam bentuk opini pribadi atau unggahan biasa.Propaganda tidak lagi terlihat seperti propaganda.Ketika Bahasa Menjadi KekuasaanTeknik name-calling menunjukkan bahwa bahasa memiliki kekuatan politik yang sangat besar. Kata-kata tertentu dapat menentukan bagaimana suatu konflik dipahami oleh masyarakat global.Masalahnya, konflik internasional jarang sesederhana label yang digunakan untuk menggambarkannya. Konflik Gaza adalah konflik sejarah yang panjang, melibatkan persoalan wilayah, identitas, keamanan, dan kekuasaan. Namun melalui propaganda, konflik yang kompleks dapat diubah menjadi narasi moral yang sederhana.Bahaya terbesar dari propaganda bukanlah kebohongan total, melainkan penyederhanaan realitas. Ketika publik menerima label tanpa mempertanyakan maknanya, mereka sebenarnya sedang menerima narasi yang telah dibentuk oleh pihak tertentu.Pada akhirnya, konflik modern tidak hanya dimenangkan oleh siapa yang memiliki senjata paling kuat, tetapi juga oleh siapa yang berhasil menentukan bahasa yang digunakan untuk menggambarkan konflik tersebut.Dalam dunia yang semakin terhubung oleh media digital, kemenangan terbesar tidak hanya menguasai wilayah, tetapi juga menguasai makna dari kata-kata seperti "teroris".