Kenapa Tidak Pakai Satu Bahasa Saja di Dunia?

Wait 5 sec.

https://pixabay.com/photos/worldwide-global-globe-earth-world-6064090/Bayangkan sebuah dunia ketika setiap manusia, tanpa memandang tempat lahir dan latar budaya, berbicara dengan satu bahasa yang sama dan saling memahami tanpa hambatan. Cara kita mengartikulasikan ide sama dengan orang yang berada di belahan dunia lain, tanpa mempelajari bahasa baru, menyesuaikan tata bahasa, dan dialek. Gagasan ini sering muncul dalam diskusi populer tentang globalisasi, teknologi, dan masa depan umat manusia karena bahasa selama ini menjadi jembatan sekaligus batas dalam komunikasi sosial. Tapi benarkah demikian?Asal usul kemunculan bahasa manusia dapat ditelusuri kembali ke kawasan selatan benua Afrika sekitar 80 ribu hingga 160 ribu tahun yang lalu. Waktu kemunculan ini mendahului perpindahan besar manusia purba ke berbagai penjuru bumi. Karena kelompok manusia mulai bermigrasi dan peradaban baru bermunculan, dinding pemisah pun terbangun dan bahasa mulai beragam. Seiring berjalannya waktu, kelompok komunal ini mengembangkan cara berkomunikasi yang khas sesuai dengan lingkungan tempat mereka menetap. Dengan demikian, keberagaman bahasa yang kita warisi saat ini merupakan hasil langsung dari perjalanan panjang adaptasi manusia.Dampak Efisiensi Ekonomi dan Integrasi GlobalSatu bahasa universal menawarkan keuntungan yang sangat terukur dalam skala ekonomi makro. Berdasarkan analisis efisiensi pasar, penggunaan bahasa pengantar yang seragam secara signifikan dapat menekan biaya transaksi antarnegara. Ketika para pelaku bisnis dari berbagai benua bernegosiasi tanpa memerlukan jasa penerjemah, maka probabilitas kesalahpahaman operasional akan menurun drastis. Pihak yang fasih dalam bahasa mitra dagang mereka terbukti mengalami lebih sedikit kesalahan logistik dan transaksional. Waktu yang seharusnya terbuang untuk proses penyelarasan dokumen dapat dialokasikan sepenuhnya untuk inovasi produk.Keuntungan efisiensi tersebut juga berlaku dalam tata kelola global. Isu mendesak berskala internasional seperti perubahan iklim atau krisis kesehatan menuntut pengambilan keputusan yang sangat cepat. Apabila para pemimpin negara dan ilmuwan berdiskusi menggunakan medium bahasa yang identik, proses perumusan kebijakan dapat dilakukan tanpa hambatan interpretasi. Kesetaraan akses informasi akan tercipta karena literatur sains dan pedoman mitigasi bencana langsung tersedia bagi semua orang tanpa menunggu proses penerjemahan. Hambatan linguistik sering menciptakan ketimpangan akses pengetahuan, itu sebabnya keberadaan satu bahasa global mampu meratakan arena pembelajaran bagi seluruh masyarakat dunia.Ancaman Terhadap Identitas dan Keragaman BudayaBahasa memiliki fungsi utama sebagai alat komunikasi dan pembentuk relasi sosial, sehingga perubahan dalam sistem bahasa global akan berdampak langsung pada cara manusia berpikir, bekerja sama, dan membangun identitas. Bahasa juga dipahami sebagai simbol identitas sosial dan terikat langsung dengan garis panjang sejarah secara turun-temurun melalui tradisi dan budaya. Sehingga, dari sudut pandang ini, penyatuan bahasa tidak dapat dilepaskan dari konsekuensi kognitif dan kultural yang sudah semestinya mendasari asas bagaimana munculnya bahasa itu sendiri.Tradisi lisan dan praktik pelestarian alam lokal akan menjadi korban pertama dari penyusutan ragam bahasa. Terdapat ratusan hingga ribuan kosakata bahasa lokal dalam berbagai segmen seperti fauna,flora, dan berbagai obat alami yang tidak bisa semerta-merta dipadankan begitu saja, hal ini akan berakhir pada matinya bahasa itu sendiri. Pertanyaan yang tidak kalah penting adalah bahasa siapa yang akan menjadi bahasa tunggal itu. Selain itu, menentukan bahasa apa yang universal juga menimbulkan problematis lanjutan, karena akan menjalar kepada Imperialisme Linguistik.Misalkan, anggaplah skenario jika yang dipilih adalah bahasa yang sudah dominan secara global, seperti bahasa Inggris, maka penutur asli bahasa tersebut secara otomatis mendapat keuntungan struktural yang tidak adil. Mereka tidak perlu mengeluarkan energi ekstra untuk belajar bahasa baru, sementara miliaran orang lainnya harus berjuang keras. Hal ini menggambarkan bagaimana dominasi bahasa tertentu mempertegas ketimpangan kekuasaan antarbangsa. Bahkan jika yang dipilih adalah bahasa buatan yang netral, tetap ada persoalan mengenai siapa yang merancang tata bahasanya, nilai apa yang tertanam di dalamnya, dan budaya mana yang paling dekat dengan struktur bahasa tersebut. Tidak ada bahasa yang benar-benar netral, karena setiap sistem bahasa membawa asumsi tersendiri tentang bagaimana dunia bekerja.Pengaruh Bahasa terhadap Cara BerpikirBahasa membentuk persepsi dunia, karena pola grammar dan kosakata memengaruhi pemikiran tentang ruang, waktu, kausalitas, dan hubungan sosial. Contoh yang sudah dikenal umum adalah perbedaan penanda garis waktu yang berbeda seperti pada bahasa Inggris. Sebuah studi percobaan menunjukkan Bahasa tanpa tenses masa depan, seperti Mandarin dan Indonesia yang mengurangi jarak antara sekarang dan masa depan. Misalnya, dalam bahasa Mandarin, orang akan mengatakan "Besok hujan" tanpa repot menambah kata "akan" yang justru menandai jarak waktu, sementara bahasa seperti Inggris memerlukan "It will rain tomorrow" yang secara eksplisit memisahkan masa depan dari sekarang. Jika bahasa tidak memaksa pembedaan itu, maka penutur cenderung melihat masa depan sebagai kelanjutan langsung dari saat ini.Karena masa depan terasa lebih dekat dalam bahasa tanpa tenses masa depan, maka penutur lebih cenderung menabung, karena mereka melihat tabungan sebagai tindakan langsung yang terkait dengan sekarang, demikian halnya dengan perilaku kesehatan seperti makan sehat dan menghindari rokok. Penelitian juga mengungkap bahwa penutur bahasa seperti Mandarin 31% lebih mungkin menabung dalam tahun tertentu, dan mengumpulkan 39% lebih banyak kekayaan saat pensiun. Efek ini juga terlihat pada faktor kesehatan, di mana mereka 24 % kurang merokok, 29% lebih aktif secara fisik. Jika bahasa mengurangi jarak temporal, maka keputusan untuk hidup sehat menjadi lebih intuitif, karena masa depan tidak terasa sebagai beban yang terpisah.Pada akhirnya, gagasan tentang keseragaman bahasa tetap menjadi sebuah dilema sosial yang kompleks, di satu sisi hambatan bilateral dan logistik akan runtuh sehingga kerja sama lintas negara dapat mencapai tingkat efisiensi tertingginya. Namun di sisi lain, kemudahan absolut dalam bertukar informasi ini justru mengikis habis esensi keanekaragaman yang erat kaitannya dengan produk budaya dan ini tentu tidak bisa dilepaskan dari asal muasal bahasa itu sendiri. Apabila keragaman berpikir ditukar dengan kemudahan komunikasi belaka, spesies manusia berisiko menjadi peradaban yang cerdas secara operasional namun tertinggal secara intelektual.