Petugas memindahkan BBM yang sudah diolah di laboratorium Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Kasim, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Foto: Rivan Awal Lingga/ANTARA FOTOMenteri ESDM Bahlil Lahadalia berencana untuk memperpanjang masa ketahanan cadangan BBM Indonesia. Nantinya, cadangan BBM ditarget bisa kuat untuk bertahan selama 3 bulan dalam kondisi darurat.Untuk itu, Bahlil berencana untuk membangun sistem penyimpanan BBM tersebut terlebih dahulu.“Terkait dengan persoalan minyak kita yang 20 hari, sekarang 23 hari, memang standar nasional kita, storage kita, kita harus bangun storage dulu. Kalau bikin 240 hari makanya kita sekarang mau bangun storage untuk minimal 3 bulan,” kata Bahlil dalam Konferensi Pers dampak situasi Timur Tengah di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta pada Selasa (3/3).Adapun selama ini, permasalahan memang berada pada sistem penyimpanan. Fakta yang terjadi adalah stok BBM tak bisa diperbanyak tanpa penyimpanan yang cukup.“Kalau kita impor sebanyak itu kita mau taruh di mana? Itu kira-kira problem kita dan ini terjadi bukan, kita tidak usah menyalahkan siapa-siapa, memang faktanya begitu negara kita dan kita harus perbaiki, kan,” ujarnya.Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan paparan saat rapat kerja dengan Komisi XII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (22/1/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTOSebelumnya, Bahlil menyebut cadangan BBM nasional hanya cukup untuk 20 hari. Pernyataan ini diutarakan Bahlil saat akan menghadiri rapat mengenai kondisi terkini geopolitik terkini di Istana Negara, Jakarta, Senin (2/3).“(Cadangan BBM) masih cukup, 20 hari,” kata Bahlil di Istana Negara, Senin (2/3).Serangan Israel dan Amerika Serikat (AS) membuat operasional Selat Hormuz ditutup Iran. Selat ini merupakan jalur vital perdagangan minyak dari kawasan Timur Tengah ke Asia, termasuk Indonesia.Namun, Bahlil memastikan konflik ini belum berdampak ke BBM bersubsidi di dalam negeri. Meskipun dia tidak menampik konflik nantinya akan berdampak pada harga minyak dunia.“Sampai hari ini gak ada masalah (BBM subsidi), tapi, kan, harga dunia pasti akan terjadi koreksi ketika kondisi geopolitik yang terus memanas di Timur Tengah,” tuturnya.