Ilustrasi drone Foto: Aditia Noviansyah/kumparanWajah perang modern saat ini telah bersalin rupa. Medannya tidak lagi selalu berupa parit berlumpur yang anyir oleh darah, melainkan sebuah kontainer ber-AC yang nyaman, berjarak ribuan kilometer dari garis depan.Cobalah sesekali amati rekaman real-time operasi militer udara masa kini. Layar monitor itu tidak menampilkan wujud manusia seutuhnya. Ia hanya menampilkan gradasi warna monokrom dari kamera Forward Looking Infrared (FLIR) atau sensor thermal. Di layar tersebut, sekumpulan manusia yang bernapas, memiliki nama, dan memiliki keluarga, direduksi secara kejam menjadi sekadar gumpalan putih bercahaya (heat signatures) yang bergerak-gerak di atas latar belakang abu-abu.Lalu, sang operator menggeser joystick, mengunci crosshair (kekeran) pada target, dan menekan tombol. Hitungan detik kemudian, gumpalan putih itu meledak, terburai menjadi hamburan piksel di layar, lalu perlahan memudar dan hilang. Selesai.Tidak ada suara jeritan putus asa. Tidak ada bau mesiu atau amis darah yang menusuk hidung. Tidak ada potongan tubuh yang harus disingkirkan dari depan mata. Proses mencabut nyawa manusia kini telah dibuat semudah, seaman, dan sesteril bermain video game.Gamifikasi Kematian dan Jarak yang Mensterilkan NuraniFenomena mengerikan ini melahirkan apa yang saya rumuskan sebagai konsep Gamification of Death (Gamifikasi Kematian).Dalam kajian psikologi militer—seperti yang dibedah tuntas oleh Letkol Dave Grossman dalam literatur klasiknya, On Killing—jarak mekanis dan fisik yang jauh secara otomatis akan mematikan resistensi alamiah manusia untuk membunuh sesamanya. Ketika tindakan mencabut nyawa dilakukan melalui perantara layar resolusi tinggi, teknologi secara otomatis menciptakan sebuah Cognitive Buffer (penyangga kognitif) bagi otak penggunanya.Jarak geografis dan layar monitor berfungsi sebagai perisai psikologis yang memutus koneksi empati secara total.Jika Anda membunuh musuh dengan tikaman belati atau tembakan senapan dari jarak dua meter, Anda akan melihat ketakutan di matanya. Darahnya akan memercik ke baju Anda. Trauma itu akan menghantui tidur Anda seumur hidup. Namun, ketika Anda membunuh via drone, Anda murni sedang menyelesaikan task (tugas harian) di layar komputer. Otak Anda tidak memprosesnya sebagai pembunuhan, melainkan sebagai "penghapusan data".Filsuf Hannah Arendt pernah melontarkan konsep The Banality of Evil (Kedangkalan Kejahatan) untuk mendeskripsikan betapa normalnya kejahatan dilakukan oleh orang biasa yang sekadar "menjalankan sistem". Hari ini, konsep itu menemukan bentuk paling biadabnya: seorang operator drone militer bisa berangkat kerja jam 8 pagi, menembakkan rudal yang menghanguskan satu perkampungan di benua lain pada jam 10 pagi, lalu pulang jam 5 sore untuk makan malam dengan tenang bersama anak istrinya seolah tak terjadi apa-apa.Jarak membunuh empati. Resolusi layar mensterilkan nurani.Paradoks Bom Atom vs. Sindrom Forever WarIlustrasi bom atom Hiroshima. Foto: Photo12/Universal Images Group via Getty ImagesLalu, muncul sebuah perbandingan logis yang menggelitik nalar: Jika dulu penemuan bom atom diklaim sebagai senjata pamungkas untuk "menghentikan perang dengan cepat", apakah teknologi presisi tinggi jarak jauh seperti drone ini memiliki efek perdamaian yang sama?Jawabannya: Sama sekali tidak. Kenyataannya justru berbalik 180 derajat.Bom atom, dengan segala kebiadabannya, menciptakan doktrin Mutually Assured Destruction (MAD)—kepastian kehancuran masif secara bersama-sama. Teror visual dari jamur nuklir itu begitu traumatis dan menghancurkan, sehingga ia memaksa umat manusia untuk segera duduk di meja perundingan dan menghentikan perang. Ongkos penderitaannya terlalu mahal untuk ditanggung peradaban. Ia mendatangkan akhir yang jelas.Sebaliknya, teknologi pembunuhan jarak jauh seperti drone justru mendesain sebuah kondisi geopolitik yang disebut sebagai Forever War (Perang Tanpa Akhir).Mengapa? Karena drone membuat ongkos politik peperangan menjadi sangat murah bagi pihak agresor. Sebuah negara adidaya bisa membombardir negara lain setiap hari dari udara, tanpa perlu mengirimkan pasukan darat. Artinya, tidak akan ada peti mati prajurit yang dipulangkan ke tanah air.Tanpa adanya kantong mayat yang berjejer, tidak akan ada isak tangis keluarga di televisi, dan tidak akan ada demonstrasi besar-besaran menolak perang dari rakyatnya sendiri. Perang menjadi sangat asimetris, aman bagi sang penyerang, dan karenanya, bisa terus dilanjutkan sampai kiamat tanpa ada desakan moral atau tekanan politik untuk menghentikannya.Sebagai penutup, ada satu kesimpulan satir yang harus kita telan bulat-bulat tentang peradaban IT kita hari ini.Kita sering membanggakan diri bahwa teknologi militer canggih telah membuat manusia menjadi lebih beradab, efisien, dan presisi. Kenyataannya? Kita tidak menjadi lebih beradab. Kita hanya berhasil melakukan outsourcing (alih daya) kebiadaban kita kepada algoritma, sensor thermal, dan joystick.Sebab, ketika jeritan kematian manusia telah sukses di-mute, dan nyawa direduksi menjadi sekadar gumpalan piksel yang bisa dihapus dengan satu klik santai, di detik itulah peradaban kita sebenarnya telah resmi mengalami Fatal Error yang tak bisa lagi di-restart.