Serangan Drone Iran Rusak 3 Data Center AWS di UEA & Bahrain, Terjadi Kebakaran

Wait 5 sec.

Orang-orang berjalan melewati pameran Amazon Web Services (AWS) di National Retail Federation (NRF) 2026: Retail's Big Show, di New York City, AS, Kamis (12/2/2026). Foto: Kylie Cooper/REUTERS Perusahaan teknologi Amazon mengatakan tiga data center AWS di Timur Tengah rusak akibat serangan pesawat tanpa awak (drone) dalam konflik AS-Israel dan Iran.Dua fasilitas data center AWS di Uni Emirat Arab terkena serangan langsung, sementara fasilitas ketiga di Bahrain rusak akibat serangan pesawat tak berawak "dalam jarak dekat," kata perusahaan itu dalam keterangan di dashboard layanan cloud AWS pada Senin sore, 2 Maret 2026.Benda-benda yang menimpa fasilitas data center AWS (Amazon Web Services) telah memicu kebakaran dan memaksa pihak berwenang memutus aliran listrik ke sejumlah data center AWS di UEA."Serangan ini telah menyebabkan kerusakan struktural, mengganggu pasokan listrik ke infrastruktur kami, dan dalam beberapa kasus memerlukan langkah pemadaman kebakaran yang mengakibatkan kerusakan karena ada air dalam jumlah besar. Kami bekerja sama erat dengan pihak berwenang setempat dan memprioritaskan keselamatan personel kami selama upaya pemulihan," jelas AWS, mengutip Reuters.Serangan terhadap fasilitas di UEA menandai pertama kalinya data center perusahaan teknologi besar AS terganggu oleh aksi militer.Meskipun kami berupaya memulihkan fasilitas-fasilitas ini, konflik yang sedang berlangsung di kawasan tersebut menandai bahwa lingkungan operasional di Timur Tengah tetap tidak dapat diprediksi.- Amazon Web Services -Perusahaan menyarankan para kliennya untuk melakukan backup data dan memindahkannya ke wilayah lain yang tidak terpengaruh.Raksasa teknologi AS telah memposisikan UEA sebagai pusat regional untuk data center AI yang dibutuhkan layanan seperti ChatGPT.Sementara Microsoft, pada November 2025, menyatakan berencana meningkatkan total investasinya di UEA menjadi 15 miliar dolar AS pada akhir tahun 2029 dan akan menggunakan chip dari Nvidia.Di era digital, konflik geopolitik kini kerap menargetkan fasilitas data center, jaringan fiber optik, dan infrastruktur energi lain yang mendukung kegiatan komputasi.