Di Balik Eskalasi Iran dan Rapuhnya Kedaulatan Negeri-Negeri Muslim

Wait 5 sec.

Burung-burung terbang saat asap mengepul setelah ledakan, menyusul serangan Israel dan AS terhadap Iran, di Teheran, Iran, 2 Maret 2026. Foto: West Asia News Agency via REUTERS Eskalasi yang melibatkan Iran, serta ketegangan yang menyeret Bahrain, Qatar, dan United Arab Emirates kembali memantik narasi lama: konflik mazhab. Padahal, jika dicermati secara geopolitik, ini bukan sekadar rivalitas Sunni–Syiah, melainkan konsekuensi dari arsitektur militer asing yang bercokol lama di kawasan dan menjadikan Asia Barat sebagai papan catur kepentingan global.Fakta Strategis yang Tak Boleh DiabaikanPertama, keberadaan pangkalan militer United States di Teluk bukan isu baru. Pangkalan Al Udeid di Qatar disebut sebagai fasilitas militer terbesar AS di Timur Tengah, menampung lebih dari 10.000 personel (laporan Al Jazeera, 15 Oktober 2023). Di Bahrain, Fifth Fleet AS telah beroperasi sejak 1995 untuk mengendalikan perairan Teluk (laporan Reuters, 20 Juni 2024).Kedua, laporan Congressional Research Service (8 Januari 2024) mencatat ribuan personel AS masih tersebar di Irak dan Suriah, memperlihatkan bahwa strategi containment terhadap Iran dan perlindungan kepentingan Israel tetap menjadi prioritas Washington. Artinya, setiap respons militer Iran yang menyasar fasilitas strategis terkait AS secara otomatis beririsan dengan negara-negara tuan rumah pangkalan tersebut.Ketiga, isu beredarnya kabar pembunuhan Ali Khamenei mencerminkan praktik perang psikologis modern. Laporan The Washington Post (12 April 2024) mengulas intensitas operasi bayangan, siber, dan disinformasi dalam konflik kawasan. Operasi semacam ini bertujuan mengguncang stabilitas internal dan membentuk persepsi publik global.Bukan Mazhab, tetapi HegemoniMembaca fakta di atas, jelas bahwa konflik ini tidak berdiri di atas sekat teologis semata. Mazhab kerap dijadikan alat framing untuk memecah opini umat. Padahal, yang dipertarungkan adalah kontrol geopolitik dan dominasi keamanan kawasan.Negara-negara Muslim yang menjadi lokasi pangkalan militer asing pada hakikatnya telah kehilangan sebagian kedaulatan strategisnya. Ketika instalasi militer global berdiri permanen, keputusan perang dan damai tak sepenuhnya berada di tangan penguasa lokal. Dalam konteks ini, eskalasi terhadap Iran mudah meluas karena infrastruktur militernya tersebar lintas batas negara Muslim.Lebih problematis lagi, sebagian elite kawasan menggantungkan stabilitas pada proteksi eksternal. Akibatnya, solidaritas umat melemah, digantikan logika aliansi pragmatis. Inilah paradoks: umat terpecah oleh isu mazhab, sementara kekuatan eksternal bersatu dalam kalkulasi kepentingan.Ilustrasi perang Iran vs AS-Israel ( Sumber : canva )Rekonstruksi SistemikDalam perspektif Islam, problem utama terletak pada absennya kepemimpinan politik independen yang mempersatukan umat. Islam memandang kaum Muslim sebagai satu kesatuan (ummah wahidah) yang tak boleh tunduk pada dominasi asing.Prinsip siyasah syar’iyyah menegaskan kewajiban menjaga wilayah dan kedaulatan. Memberikan ruang permanen bagi kekuatan militer yang memiliki rekam jejak intervensi jelas bertentangan dengan semangat ini. Negara dalam Islam tidak dibangun di atas aliansi oportunistik, tetapi di atas perlindungan umat dan penerapan hukum Allah secara menyeluruh.Solusi yang ditawarkan bukan retorika emosional, melainkan rekonstruksi sistemik: kepemimpinan yang berdaulat, kebijakan luar negeri independen, dan penguatan persatuan umat di atas akidah, bukan sekat nasionalisme sempit atau mazhab. Tanpa fondasi ideologis yang kokoh, negeri-negeri Muslim akan terus menjadi ajang kontestasi global.Keluar dari Jebakan FramingEskalasi di Asia Barat harus dibaca dengan kejernihan analitis, bukan sentimen sektarian. Selama umat terjebak dalam narasi mazhab, mereka gagal melihat akar masalah: dominasi geopolitik dan ketergantungan struktural.Saatnya umat Islam menggeser fokus dari perdebatan identitas menuju perjuangan kedaulatan. Tanpa perubahan paradigma dan kepemimpinan yang mandiri, setiap konflik hanya akan menjadi babak baru dalam siklus panjang instabilitas kawasan.Wallahu a'lam bish-shawab