Petugas memandu warga mengisi daya baterai mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di Rest Area KM 379 A Tol Batang-Semarang di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Selasa (30/12/2025). Foto: Harviyan Perdana Putra/ANTARA FOTOKetahanan energi nasional jadi salah satu hal yang disorot ketika pertempuran Iran dan Israel-AS pecah beberapa hari kemarin. Kenaikan harga bahan bakar minyak menjadi konsekuensi pertama yang tak terhindarkan.Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 Indonesia, Jusuf Kalla (JK), mengungkapkan setidaknya hal tersebut yang akan berdampak serius dirasakan Indonesia. Bila peperangan masih berlangsung lama, efeknya tentu akan menghinggap perekonomian nasional.“Iya, pertama tentu harga minyak naik. Pasti itu yang pertama. Logistik di antara Timur Tengah dan kita seluruh terputus. Sekarang ratusan ribu orang Indonesia, puluhan ribu Indonesia yang naik umrah contohnya, itu tidak bisa kembali pada dewasa ini. Habis," kata JK di kediamannya, Jl. Brawijaya No.6, Jakarta Selatan, Minggu (1/3).Senada dengannya, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Yannes Martinus Pasaribu menelaah potensi gangguan lainnya adalah aktivitas ekspor produk otomotif lansiran Indonesia. Kawasan Timur Tengah disebutnya merupakan salah satu pasar strategis.Mobil listrik BYD di IIMS 2026. Foto: Sena Pratama/kumparan"Kita kehilangan sekitar 5,44 persen atau 28.211 unit pangsa pasar di Timur Tengah yang secara teknis dapat diupayakan pengalihan alokasi unit yang sedianya untuk Arab Saudi atau Uni Emirat Arab ke pasar yang sedang tumbuh," buka Yannes kepada kumparan, (3/3).Peluang pasar yang dimaksud adalah memaksimalkan negara tujuan ekspor seperti Filipina, Vietnam, Thailand, Australia, hingga Meksiko. Kendati demikian ia juga menyoroti soal penyesuaian biaya logistik akibat perubahan harga minyak dunia."Tetapi impak signifikannya ada pada potensi lonjakan minyak ke USD 100 bahkan lebih yang akan membebani biaya logistik ekspor kita karena potensi biaya tambahan bahan bakar yang signifikan untuk 94 persen ekspor ke ASEAN," terangnya.Meski dikatakan belum berpengaruh banyak terhadap konsumsi bahan bakar pengguna kendaraan individu, namun potensi kenaikan harga yang tinggi disebutnya bisa saja mengubah persepsi tentang kendaraan konvensional atau internal combustion engine (ICE).Ilustrasi kilang minyak Ras Tanura, Arab Saudi. Foto: Evannovostro/Shutterstock"Tetapi di sisi lain, krisis Selat Hormuz berpotensi menjadi katalisator percepatan transisi energi di Indonesia. Ini dapat menjadi momentum baru untuk membuktikan bahwa ekosistem battery electric vehicle (BEV) dan sejenisnya sudah siap," paparnya."Bayangkan misalnya Pertamax tembus Rp 15 ribu per liter, maka rasio biaya operasional BEV hanya mencapai 1/5 atau 1/6 dari ICE. Ini tentu lebih menguntungkan biaya operasional BEV, konsumen yang punya mobilitas tinggi tentu melihatnya bukan sekadar gaya hidup, melainkan instrumen penghematan," jelas Yannes.Yannes menambahkan, rentang momentum yang diprediksi moderat ini harusnya bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan awarness terhadap new energy vehicle, utamanya BEV. Apalagi, belum ada kejelasan lanjutan dari insentif mobil listrik untuk tahun ini."Nah, jika pemerintah mampu menjaga harga listrik dan pasokan (PLN) tetap stabil di tengah badai (keterbatasan) minyak ini, maka daya tarik BEV di Indonesia akan menjadi semakin tidak tertahankan secara ekonomi," pungkasnya.