Anatomi Para Pembela: Balada 'Human Proxy' & Loyalitas Flashdisk

Wait 5 sec.

Birokrasi KampusAda sebuah hukum fisika sosial yang sangat presisi setiap kali sebuah kritik dilemparkan ke jantung kekuasaan birokrasi: Aksi selalu memunculkan Reaksi.Namun, perhatikanlah dengan saksama. Reaksi itu hampir tidak pernah datang dari sang pimpinan puncak. Pimpinan biasanya memilih diam, entah karena sedang merenung, sibuk, atau memang kehabisan argumen data.Justru, yang mendadak sibuk, kepanasan, dan histeris adalah orang-orang di lingkar kedua dan ketiga. Merekalah barisan para pembela, kelompok paduan suara tanpa konduktor, yang tiba-tiba merasa perlu menjadi palang pintu.Ketika sebuah tulisan mengkritik sistem yang usang, tata kelola yang amburadul, atau hak-hak yang ditahan, para pembela ini akan melompat keluar dari sarangnya. Mereka berteriak di grup-grup WhatsApp, membuat status pembelaan yang panjang lebar, hingga sibuk mencari-cari kesalahan personal si pengkritik (Ad Hominem).Lucunya, argumen mereka nyaris seragam dan miskin literasi. Alih-alih membantah kritik dengan sajian data kinerja atau matriks evaluasi, mereka justru menggunakan tameng emosional: "Kalian ini tidak tahu berterima kasih!", "Jangan menjelekkan rumah sendiri!", atau senjata pamungkas kehabisan akal, "Itu tidak beradab!"Spesies Oportunis PragmatisSiapakah sebenarnya spesies pembela ini?Mari kita bedah anatomi mereka. Para pembela yang terlalu reaktif ini sebagian besar bukanlah orang-orang yang tulus mencintai institusi. Mereka adalah kelompok oportunis pragmatis.Mereka marah bukan karena nama baik lembaga tercoreng, melainkan karena kritik tersebut mengancam "kestabilan" periuk nasi, sisa-sisa proyek, dan zona nyaman yang sedang mereka nikmati di bawah ketiak kekuasaan.Dalam ilmu arsitektur Sistem Informasi (SI) dan jaringan komputer, fenomena manusia-manusia pembela ini sangat mirip dengan fungsi Proxy Server.Selamat Datang, Human ProxyProxy Server adalah sebuah perantara tiruan. Ia dipasang di garis depan untuk menerima semua permintaan atau serangan dari luar, guna melindungi Server Utama (pimpinan) agar identitas dan posisinya tetap aman.Sebagai sebuah alat, Proxy tidak memiliki unit pemrosesan independen (CPU) yang mandiri. Ia tidak punya gagasan asli. Ia hanya diprogram untuk meneruskan data dari bosnya, dan memblokir traffic (kritik) apa pun yang tidak disukai oleh algoritma kekuasaan.Di dunia birokrasi, manusia-manusia ini telah merelakan dirinya didowngrade dari seorang akademisi atau staf yang punya akal budi, menjadi sekadar Human Proxy (Proksi Manusia).Tugas mereka cuma satu: menjadi "Bemper". Menahan benturan agar mobil pimpinan tidak lecet, meski kepala mereka sendiri yang penyok.Mereka bangga menjadi bemper. Mereka merasa bahwa dengan tampil paling depan menggonggong ke arah pengkritik, sang pimpinan akan mencatat nama mereka di buku daftar "Orang Paling Berjasa". Mereka berharap kesetiaan buta itu kelak ditukar dengan promosi jabatan, SK kepanitiaan, atau minimal senyuman manis di lobi kantor.Amnesia Kronis Saat Ganti 'Root Access'Namun, di sinilah letak ironi paling jenaka yang sering kali tidak disadari oleh para Human Proxy ini. Pimpinan yang cerdas sebenarnya tahu persis bahwa loyalitas para penjilat adalah loyalitas palsu.Dalam bahasa pemrograman database, kesetiaan para oportunis ini bukanlah sebuah Constant (nilai tetap yang abadi). Kesetiaan mereka hanyalah sebuah Dynamic Variable (variabel dinamis) yang nilainya bisa berubah-ubah tergantung siapa yang sedang memegang Root Access (kata sandi kekuasaan tertinggi).Mari kita mainkan simulasi masa depannya. Apa yang akan terjadi ketika masa jabatan sang pimpinan habis? Ketika SK kekuasaan itu kedaluwarsa dan bos baru datang membawa gerbongnya sendiri?Keajaiban pun akan terjadi.Para pembela yang dulunya paling galak menggonggong membela pimpinan lama ini, akan mendadak menderita amnesia kronis. Dalam hitungan jam, mereka akan melakukan Format Drive (penghapusan data total) di otak mereka.Tiba-tiba, mereka akan menjadi orang pertama yang membawakan secangkir kopi untuk pimpinan baru. Tiba-tiba, mereka akan menjadi orang pertama yang ikut menjelek-jelekkan kebijakan pimpinan lama demi mencari muka di hadapan penguasa yang baru. Bemper lama dicopot, masuk ke bengkel untuk dipasang di mobil yang baru.Pesan untuk Para 'Baper'Bagi Anda yang saat ini sedang kepanasan membaca tulisan-tulisan kritis, tidak perlu terlalu baper apalagi sampai mengancam dengan BAP. Jika sumur birokrasi memang beracun, mengusir orang yang berteriak membawa obat penawar tidak akan membuat airnya mendadak bersih.Dan untuk para pimpinan, berhati-hatilah dengan orang-orang di lingkar dalam yang selalu membenarkan ucapan Anda. Jangan terlalu terbuai dengan heroiknya mereka membela Anda hari ini.Sebab sejatinya, mereka tidak pernah benar-benar loyal kepada Anda secara personal. Mereka hanya setia pada kursi empuk yang sedang Anda duduki.Mereka bukanlah ksatria bertameng baja. Mereka hanyalah sekumpulan kaum oportunis yang memiliki Loyalitas Flashdisk—sangat mudah dicabut, sangat gampang diformat ulang, dan siap dicolokkan ke komputer bos mana saja yang sedang berkuasa.