Kenapa Orang Pintar Blunder? Ini Penjelasan Neuroscience-nya

Wait 5 sec.

Ilustrasi Orang Pintar Blunder. Foto: Vitaly Gariev/Unsplash.comBaru-baru ini, publik dihebohkan oleh pernyataan seorang awardee beasiswa bergengsi yang dianggap tidak logis dan memicu polemik di media sosial. Banyak yang menghujat dengan tudingan 'tolol', namun banyak juga yang heran: bagaimana mungkin seseorang yang lolos seleksi intelektual seketat itu bisa melakukan blunder sekonyol ini? Jawabannya bukan karena mereka tidak pintar, melainkan karena otak mereka terjebak dalam apa yang disebut David Robson sebagai The Intelligence Trap.Ternyata, kepintaran akademik tidak selalu menjamin seseorang untuk otomatis berpikir rasional.Mengenal Dysrationalia: Saat Otak "Eror"Dalam ilmu psikologi dan neuroscience, ada istilah yang disebut Dysrationalia. Istilah ini dipopulerkan oleh David Robson dalam bukunya, The Intelligence Trap: Why Smart People Make Stupid Mistakes and How to Make Wiser Decisions. Fenomena ini menjelaskan kondisi di mana seseorang memiliki kecerdasan tinggi dan jago dalam teori, namun tidak kebal terhadap bias logika saat harus menghadapi situasi nyata yang melibatkan emosi atau tekanan sosial.Contoh klasiknya adalah Arthur Conan Doyle. Meski ia adalah pencipta karakter Sherlock Holmes yang sangat dingin dan logis, Doyle di dunia nyata pernah tertipu mentah-mentah oleh kasus spiritualisme palsu. Ini membuktikan bahwa otak yang terasah secara akademis bisa saja "macet" saat dihadapkan pada bias emosional."Kutukan Pengetahuan" dan Kekakuan BerpikirSatu alasan logis kenapa orang pintar sering blunder adalah Curse of Knowledge atau kutukan pengetahuan. Semakin ahli seseorang dalam suatu bidang, atau bahkan mereka yang baru sekadar menyandang status prestisius seperti penerima beasiswa, mereka cenderung rentan terjebak dalam rasa percaya diri berlebih (overconfident).Otak mereka sering kali mengabaikan informasi baru atau perspektif orang lain karena merasa sudah memiliki "standar kebenaran" yang lebih tinggi berkat label intelektual yang mereka sandang. Inilah yang membuat seseorang bisa menutup mata pada dampak sosial dari ucapannya, persis seperti para ahli sekaliber agen FBI pun pernah melakukan kesalahan fatal dalam identifikasi sidik jari; mereka terlalu yakin pada pengalaman lama sehingga menutup mata pada detail kecil yang berbeda.Anatomi Blunder: Mengapa Logika Bisa Kehilangan Kendali?Ilustrasi Orang Pintar Blunder. Foto: Matheus Bertelli/Pexels.comSecara biologis, riset dari University College London (UCL) menunjukkan bahwa kemampuan penalaran logis yang fleksibel sangat bergantung pada bagian otak yang disebut rostrolateral prefrontal cortex.Idealnya, area ini bekerja untuk menyeimbangkan logika dan emosi. Namun, ketika seseorang berada di bawah tekanan, stres, atau merasa terlalu dominan, koneksi antar-area otak ini bisa menjadi tidak sinkron. Akibatnya, sistem logika di prefrontal cortex "kalah" oleh impuls atau bias emosional. Hasilnya? Keputusan yang diambil justru sangat tidak masuk akal.Pada akhirnya, memiliki gelar mentereng hanyalah satu sisi dari koin. Sisi lainnya adalah kesadaran diri untuk tetap rendah hati secara intelektual. Kita harus berani mengakui bahwa otak kita punya celah untuk salah, sesering apa pun kita mengasahnya di bangku sekolah.Sebab, kepintaran tidak selalu berjalan beriringan dengan kebijaksanaan. Tanpa kemampuan untuk berpikir rasional dan mengevaluasi bias diri sendiri, kecerdasan justru bisa menjadi bumerang yang menjebak pemiliknya dalam lubang kesalahan yang sama.