Foto : Aslamuddin LasawedyMALAM itu di Nishapur, seorang Sufi berdiri di ambang kehampaan. Udara malam terasa begitu dingin. Di salah satu sudut kota Persia abad ke-9 itu, seorang pria berdiri sendirian. Tubuhnya kurus. Matanya cekung seperti seseorang yang telah lama meninggalkan dunia, padahal kakinya masih berpijak di atas tanah.Namanya Bayazid Bastami.Ia bukan raja, bukan ilmuwan. Bahkan bukan orang ternama di dunia. Ia hanyalah seorang pengelana kesadaran.Suatu malam, setelah bertahun-tahun menjalani asketisme ekstrem, sebut saja; puasa panjang, pengasingan diri, dan penghancuran ego. Ia mengucapkan kalimat yang mengguncang dunia spiritual. “Aku keluar dari Bayazid seperti ular keluar dari kulitnya.”Kalimat ini bukan puisi, melainkan sebuah kesaksian eksistensial. Bayazid tak lagi menemukan dirinya sebagai “dirinya.” Ia telah menembus sesuatu yang oleh para sufi disebut sebagai lahut —dimensi ketuhanan, di mana identitas manusia melebur dalam kesadaran Ilahi.Dalam kosmologi sufi klasik, lahut adalah tingkat eksistensi tertinggi. Realitas Ilahi yang tidak terikat oleh bentuk atau dualitas. Filsuf sufi besar Ibnu Arabi menyebut seluruh realitas sebagai manifestasi dari satu wujud absolut. Sebuah konsep yang dikenal sebagai wahdat al-wujud (kesatuan eksistensi).Menurut Ibnu Arabi, manusia bukan sekadar makhluk biologis. Manusia “cermin” tempat Tuhan melihat diri-Nya sendiri. Pandangan ini, dahulu kala dianggap murni metafisik. Hari ini, pandangan itu menemukan resonansinya dalam penelitian modern tentang kesadaran.Ahli saraf Andrew Newberg dari University of Pennsylvania, dalam penelitiannya tentang pengalaman mistik, menemukan bahwa individu yang mengalami pengalaman spiritual mendalam menunjukkan penurunan aktivitas di lobus parietal otak —bagian yang bertanggung jawab atas persepsi batas diri. Ia menyebut fenomena ini sebagai “dissolution of self-other boundary” atau larutnya batas antara diri dan realitas. Dengan kata lain, otak berhenti membedakan antara “aku” dan “bukan aku.” Secara ilmiah, fenomena ini adalah fenomena neurologis. Secara spiritual, fenomena ini adalah pintu menuju lahut.Ketika Ego Telah LenyapDi tahun 922 M, di kota Baghdad, seorang pria digiring ke tiang eksekusi. Tangannya diikat. Tubuhnya lemah oleh penyiksaan yang panjang. Namun wajahnya tenang, tidak ada tanda-tanda seperti korban penyiksaan. Ia malah terlihat seperti seseorang yang telah tiba di tujuan.Namanya Mansur Al-Hallaj.Kesalahannya hanya satu. Ia berkata, Ana al-Haqq —Aku adalah Kebenaran.Bagi penguasa, ini adalah penistaan terhadap agama. Bagi para sufi, ini justru ekspresi sebuah kesaksian.Menurut catatan Louis Massignon, seorang orientalis dan peneliti sufi terkemuka, Al-Hallaj tidak mengucapkan kalimat itu sebagai klaim egonya. Kalimat itu terucap sebagai hasil dari pengalaman fana dirinya, saat lenyapnya identitas pribadinys dalam kesadaran Ilahi.Dalam kondisi itu, yang berbicara bukan lagi individu, melainkan Realitas itu sendiri. Al-Hallaj tidak melihat dirinya sebagai entitas terpisah. Ia telah melewati batas nasut (kemanusiaan), melintasi malakut (alam batin), menembus jabarut (alam kekuasaan Ilahi), dan tiba di lahut, di mana tidak ada lagi dualitas. Karena itulah, Al-Hallaj tidak mati sebagai manusia yang kalah. Ia mati sebagai identitas yang telah selesai.Kisah Seorang Profesor yang Mengalami Krisis batin dan TransformasiTidak semua perjalanan menuju lahut berakhir di tiang eksekusi. Sebagian di antaranya dimulai dari krisis batin. Ambil contoh Al-Ghazali, yang pada puncak kariernya, adalah seorang profesor paling terkenal di dunia Islam. Ia mengajar di Madrasah Nizamiyah Baghdad. Sehingga dirinya memiliki kekuasaan intelektual, reputasi, pun kemewahan.Suatu hari, Al-Ghazali kehilangan kemampuannya untuk berbicara. Secara medis, tidak ada masalah. Namun secara eksistensial, ia runtuh.Dalam autobiografinya berjudul Al-Munqidh min al-Dalal (Penyelamat dari Kesesatan), ia menulis bahwa dirinya menyadari seluruh hidupnya didorong oleh ego, bukan oleh pencarian kebenaran. Karena itu, ia meninggalkan segalanya, entah itu jabatan, kekayaan, pun kehormatan. Al-Ghazali kemudian mengembara selama lebih dari sepuluh tahun. Hidup dalam pengasingan, meditasi, dan kontemplasi.Menurut para sejarawan, saat transformasi itulah. Al-Ghazali menulis karya besarnya, Ihya Ulumuddin, yang menjelaskan bahwa jalan menuju Tuhan bukan melalui pengetahuan intelektual, melainkan melalui transformasi eksistensial. Ini menunjukkan bahwa Al-Ghazali tidak kehilangan kariernya. Ia hanya kehilangan dirinya sendiri. Dan dalam kehilangan itu, ia menemukan sesuatu yang melampaui dirinya.Penelitian modern dalam psikologi transpersonal menunjukkan bahwa pengalaman spiritual mendalam sering melibatkan apa yang disebut sebagai ego dissolution.Psikolog William James, dalam karya klasiknya The Varieties of Religious Experience, menyebut kondisi ini sebagai keadaan di mana individu mengalami “unitive consciousness” atau kesadaran kesatuan dengan seluruh realitas.Neurosains menunjukkan bahwa kondisi ini terkait dengan perubahan aktivitas di jaringan otak yang disebut default mode network (DMN), atau sistem yang bertanggung jawab atas identitas diri. Ketika aktivitas DMN menurun, individu berhenti mengalami dirinya sebagai entitas terpisah. Ia mengalami kesatuan. Dalam bahasa sains, ini adalah perubahan fungsi otak. Dalam bahasa sufi, ini adalah sentuhan lahut.Lahut Bukan TujuanPara sufi menegaskan bahwa lahut bukan tempat yang dapat dicapai dengan perjalanan fisik. Ia adalah realitas yang selalu ada, tetapi tertutup oleh ego. Seperti matahari yang selalu bersinar, namun tertutup oleh awan.Nah, perjalanan spiritual bukanlah perjalanan menuju Tuhan. Ia adalah perjalanan untuk menghilangkan apa yang bukan Tuhan.Saat ego runtuh, yang tersisa hanyalah kesadaran murni. Seperti cermin yang akhirnya bersih, bukan lantaran diberi cahaya, melainkan karena berhenti menghalangi cahaya.Kesaksian yang Tak Dapat DiucapkanBayazid Bastami pernah ditanya, bagaimana rasanya mencapai Tuhan.Ia menjawab, “Aku mencari Tuhan selama tiga puluh tahun. Ketika akhirnya aku menemukan-Nya, aku melihat bahwa pencari, yang dicari, dan pencarian —semuanya adalah satu.”Inilah paradoks lahut. Bahwa perjalanan terpanjang dalam hidup manusia bukanlah perjalanan melintasi bumi, melainkan perjalanan melintasi dirinya sendiri.Dan...Ketika perjalanan itu selesai, pejalan spiritual itu menyadari. Ia tak pernah pergi ke mana-mana. Ternyata, ia hanya terbangun. Weleh, weleh, weleh.(*)