● Banjir meningkatkan risiko penyebaran penyakit menular pada manusia.● Bencana ini membawa kuman dan hewan pembawa penyakit lebih dekat dengan manusia, serta mengganggu sanitasi.● Hindari risiko tertular penyakit dengan mencegah pencemaran air hingga membentuk sistem deteksi dini komunitas. Pada awal 2026, lebih dari 127 kejadian banjir melanda berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Pulau Sumatra, Jawa, hingga Bali dan Sulawesi. Tahun lalu, banjir juga menjadi bencana paling banyak terjadi di Indonesia, dengan 2.009 kejadian sepanjang 2025.Sejumlah wilayah di Tanah Air rentan mengalami banjir akibat masifnya alih fungsi lahan yang mengurangi daerah resapan. Kerusakan ekosistem, buruknya tata kelola lingkungan, hingga kondisi Indonesia yang tak lagi bebas dari siklon turut memengaruhi.Salah satu dampak banjir yang perlu kita waspadai adalah risiko tertular penyakit. Tragedi banjir yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, misalnya, menyebabkan 21 ribu kasus penyakit menular pascabencana.Studi tinjauan sistematis (2022) mengonfirmasi bahwa 58% penyakit menular pada manusia kian memburuk akibat banjir dan bencana iklim lainnya. Contohnya, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, lepstopirosis, demam berdarah, hingga hepatitis A.Peran pemerintah dalam mitigasi bencanaPemerintah bertanggung jawab penuh dalam mempersiapkan mitigasi bencana, termasuk mendeteksi dan mencegah penyakit menular.Peran pemerintah melalui Kementerian Kesehatan mutlak diperlukan untuk menjamin ketersediaan infrastruktur kesehatan, tenaga medis yang kompeten, hingga distribusi obat-obatan dan logistik kesehatan secara tepat waktu dan relevan dengan kebutuhan prioritas warga terdampak.Selain itu, dalam panduan internasional perlindungan kondisi darurat pascabencana alias Humanitarian Charter and Minimum Standards in Humanitarian Response, pemerintah wajib memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Di antaranya, penyediaan sarana air minum layak, fasilitas sanitasi dan pengelolaan tinja yang aman, manajemen limbah, hingga pengendalian hewan penyebar penyakit. Panduan ini juga mengatur standar minimal untuk asupan gizi, keamanan pangan, kelayakan hunian sementara, serta akses layanan kesehatan dasar bagi warga terdampak. Baca juga: Dari banjir ke banjir, mengapa kita masih gagap menghadapi bencana? Mencegah risiko tertular penyakit pascabanjirSayangnya, kebijakan yang tidak berorientasi pada keselamatan lingkungan dan masyarakat, ditambah dengan absennya kepemimpinan bencana menyebabkan mitigasi dan respons penanggulangan penyakit menular berjalan lamban, serta tak terkoordinasi.Saat pemerintah tak bisa diandalkan, masyarakat perlu melakukan mitigasi bencana secara mandiri untuk mengurangi risiko tertular penyakit. Ada beberapa hal yang bisa kita siapkan:1. Cegah pencemaran airAir banjir membawa kuman dan hewan pembawa penyakit lebih dekat dengan manusia. Sumber kontaminasinya bisa bermacam-macam, termasuk dari tangki septik yang meluap akibat tekanan air banjir.Jika kita tinggal di kawasan rawan banjir, bangun jamban yang posisinya lebih tinggi dari permukaan air banjir. Selain itu, lapisi dinding dan tutup tangki septik dengan bahan kedap air. Tujuannya mencegah kotoran keluar dan mencemari lingkungan saat tekanan banjir meningkat.2. Kelola sumber airBanjir bisa menyebabkan sumber air yang dialirkan dari sumur dan keran terkontaminasi bakteri (seperti Escherichia coli) dan zat lain yang membahayakan pencernaan, kulit, dan kesehatan.Dalam kondisi darurat, kita perlu mendaur ulang air yang terkontaminasi menjadi air layak pakai lewat proses koagulasi - sedimentasi - filtrasi.Siapkan tawas untuk menggumpalkan kotoran dalam air (koagulasi). Lalu, diamkan hingga kotoran mengendap (sedimentasi). Selanjutnya, saring kembali air menggunakan filter berbahan pasir, arang, ataupun gerabah (filtrasi).Air yang sudah bersih dan jernih perlu dimasak lagi hingga matang sebelum digunakan untuk mencuci peralatan makan dan perabotan yang terendam lumpur dan banjir.3. Kelola sampahPastikan jaga kebersihan diri saat melakukan pembersihan dengan menyiapkan sepatu bot, masker, sarung tangan karet, plastik sampah, dan perban untuk menutupi luka. Tak lupa, simpan makanan & minuman dalam wadah tertutup.Bersihkan rumah dari lumpur dan sampah yang terbawa banjir. Lumpur yang mengering bisa mengandung spora dan jamur yang membahayakan pernapasan maupun kulit.Pilah sampah organik dengan sampah anorganik. Segera buang sampah organik ke dalam plastik tertutup agar tidak membusuk dan mengundang lalat dan tikus. Pastikan pula tidak ada sumbatan sampah di area selokan.Bersihkan dinding dan lantai pakai disinfektan, biarkan beberapa menit, lalu bilas dengan air matang. Selanjutnya cuci kaki dan tubuh pakai sabun dan air hingga bersih. Baca juga: 58% penyakit menular manusia dapat diperburuk oleh perubahan iklim – kami menjelajahi 77.000 riset untuk petakan jalurnya 4. Sistem deteksi dini komunitasSebelum terjadi banjir, bentuk sitem deteksi dini penyakit berbasis komunitas bersama warga lainnya, serta berkoordinasi dengan petugas kesehatan setempat. Tujuannya untuk merespons cepat gejala penyakit di komunitas, mengidentifikasi, dan melaporkan tanda-tanda awal penyakit ke fasilitas kesehatan lokal saat banjir melanda. Ini termasuk mempercepat akses layanan kesehatan fisik dan mental untuk warga.5. Aktifkan desa siaga bencanaBentuk komunitas sadar bencana di tingkat kelurahan untuk mendukung operasional pos kesehatan sementara di wilayah terdampak.Masyarakat bisa bahu-membahu mengorganisir relawan untuk membantu distribusi hygiene kits (paket perlengkapan kebersihan dasar), mengumpulkan sampah warga dan membuang ke TPS terdekat, hingga mendistribusikan kelambu antinyamuk untuk mencegah demam berdarah.Selain itu, juga bisa mendukung kegiatan imunisasi atau kampanye vaksinasi, seperti kolera, tifoid, dan hepatitis A. Baca juga: Saat faskes lumpuh: Masjid bisa jadi pusat layanan kesehatan darurat pascabencana Pada akhirnya, keselamatan kita tak bisa dititipkan sepenuhnya pada pemerintah yang selalu gagap dalam penanganan bencana dan perlindungan warga. Kita perlu begerak secara kolektif dan mandiri, menyiapkan mitigasi dari sekarang agar terhindar dari ancaman banjir dan penyakit menular yang menyertainya.Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.