Hiu Langka Muncul saat Bangkai Sapi Dijatuhkan ke Dasar Laut China Selatan

Wait 5 sec.

Hiu Pacific sleeper muncul saat peneliti menjatuhkan bangkai sapi ke laut dalam China Selatan. Foto: Han Tian/Ocean-Land-Atmosphere ResearchSekelompok ilmuwan dikejutkan dengan kemunculan hewan langka hiu tidur pasifik untuk menggerogoti bangkai tersebut, ketika melakukan eksperimen dengan menjatuhkan bangkai sapi ke dasar laut dalam China. Penelitian tersebut tertuang dalam jurnal Ocean-Land-Atmosphere Research.Hiu tidur pasifik (Somniosus pacificus) dikenal sebagai salah satu hiu predator terbesar di dunia, yang masih minim dipahami karena hidup di perairan dalam terpencil dan sulit dijangkau. Karena itu, peneliti terkejut saat eksperimen sederhananya menarik perhatian delapan hiu tidur pasifik sekaligus.Awalnya para ilmuwan ingin mempelajari fenomena whale fall, proses ketika bangkai paus jatuh ke dasar laut dan menjadi sumber makanan bagi ekosistem laut dalam selama puluhan tahun. Untuk simulasi kondisi tersebut, tim sengaja menjatuhkan bangkai sapi di kedalaman sekitar 1.629 meter di lereng benua dekat Pulau Hainan, Laut China Selatan.Namun, rekaman video dari lokasi memperlihatkan kejutan tak terduga, delapan hiu tidur pasifik muncul di sekitar bangkai. Ini merupakan catatan pertama keberadaan spesies langka di wilayah tersebut.Selain jumlahnya yang mengejutkan, perilaku hiu-hiu ini juga menarik perhatian. Rekaman menunjukkan hiu tidak saling berebut secara brutal, melainkan menunjukkan perilaku seperti mengantre. Hiu yang berada di depan bahkan memberi jalan bagi hiu lain yang datang dari belakang untuk mendapatkan giliran makan.“Perilaku ini menunjukkan bahwa prioritas makan ditentukan oleh tingkat kompetisi individu, bahkan di lingkungan laut dalam,” kata Han Tian dari Sun Yat-sen University dalam pernyataan resmi.Menurutnya, strategi ini mencerminkan pola bertahan hidup yang tidak sepenuhnya soliter pada hiu jenis ini. Peneliti juga menemukan hiu dengan panjang tubuh lebih dari 2,7 meter cenderung lebih agresif dalam menyerang bangkai, dibandingkan hiu yang lebih kecil.Hiu tidur pasifik berukuran kecil terlihat lebih berhati-hati, bahkan beberapa di antaranya berputar-putar di sekitar bangkai sebelum mendekat.“Perilaku agresif yang kami lihat menunjukkan bahwa wilayah ini kemungkinan masih memiliki sumber makanan yang melimpah di laut dalam,” ujar Tian.Selain itu, tim peneliti juga mengamati perilaku menarik lainnya, yakni kemampuan hiu untuk menarik bola matanya ke dalam (eye retraction). Hal ini diduga sebagai mekanisme perlindungan saat makan, karena hiu ini tidak memiliki kelopak mata ketiga seperti pada banyak hewan lain.Beberapa hiu juga terlihat membawa parasit berupa copepoda, meski jenisnya belum dapat diidentifikasi. Spesies ini diketahui berkerabat dengan hiu Greenland, yang juga sering ditemukan memiliki parasit di bagian mata. Selain hiu, kamera juga merekam keberadaan ikan siput (snailfish) dan berbagai spesies amfipoda laut dalam.Hiu tidur pasifik diketahui tersebar luas di Samudra Pasifik utara, dari Jepang hingga Alaska, serta ke selatan hingga California dan Palung Tonga. Mereka biasanya hidup di perairan dingin.Namun, kemunculan mereka di Laut China Selatan, wilayah yang relatif lebih hangat, memunculkan pertanyaan baru. Apakah ini memang bagian dari habitat alami mereka yang selama ini belum terdeteksi, ataukah tanda perluasan wilayah akibat perubahan iklim?“Frekuensi kemunculan mereka di wilayah ini menunjukkan bahwa pemahaman kita tentang populasi hiu ini masih sangat terbatas,” kata Tian.