Ilustrasi Vasektomi untuk pria. Foto: Shidlovski/ShutterstockKeputusan menjalani vasektomi bukan hanya soal prosedur medis, tapi juga berkaitan dengan kesiapan mental dan perencanaan keluarga. Banyak yang bertanya, apakah batas usia seperti 35 tahun ditentukan karena faktor fisik atau ada pertimbangan lain?Menurut Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan, dr. Andrew Yurius Christian, SpOG, batas usia tersebut lebih berkaitan dengan kesiapan mental. Di usia ini, umumnya seseorang sudah lebih yakin dengan keputusan untuk tidak menambah anak lagi, karena masa reproduksi aktif juga mulai terlewati.“Mental lebih siap aja kalau memang sudah yakin karena usia produktifnya kan sudah lewat ya, bahasanya. Usia produktif untuk punya anaknya kan sudah tidak masanya,” tutur dr. Andrew saat live TikTok bersama kumparanMOM, Kamis (9/4).Ilustrasi periksa ke dokter. Foto: ShutterstockBukan Soal Fisik, Tapi Kesiapan Mentaldr. Andrew menjelaskan bahwa vasektomi sebaiknya dilakukan ketika pasangan benar-benar sudah merasa cukup memiliki anak, misalnya dua atau tiga anak, dan tidak ada rencana untuk menambah keturunan.“Jadi kalau dilihat, ‘oh saya sudah anaknya ada cukup nih, sudah ada dua atau sudah ada tiga’,” katanya.Di usia di atas 35 tahun, biasanya keputusan ini lebih matang karena pasangan sudah melewati fase produktif untuk memiliki anak. Jadi, pertimbangannya lebih ke kesiapan dalam mengambil keputusan permanen, bukan karena kondisi fisik semata.Perlu Pertimbangkan Kondisi Anak Terakhirilustrasi keluarga bahagia Foto: ShutterstockSelain usia, kondisi anak terakhir juga menjadi faktor penting sebelum memutuskan vasektomi. Orang tua disarankan untuk menunggu hingga anak terakhir berusia sekitar 2–3 tahun untuk memastikan tumbuh kembangnya berjalan baik dan tidak ada masalah kesehatan.Hal ini penting karena dalam beberapa kasus, orang tua bisa saja berubah pikiran jika anak mengalami kondisi tertentu, seperti mengalami disabilitas, mengidap masalah kesehatan tertentu, atau meninggal dunia. Karena itu, dokter biasanya menyarankan untuk tidak terburu-buru mengambil keputusan sterilisasi.Jika anak-anak sudah sehat dan jumlahnya dirasa cukup, barulah vasektomi bisa menjadi pilihan yang tepat sebagai metode kontrasepsi permanen.“Kita yakin, oke, ini dua anak ini sudah cukup, ini dua anak sehat ini sudah cukup, ya sudah kita bisa sterilisasi. Tapi kalau misalnya ternyata anaknya amit-amit ada kondisi sakit tertentu dan merasa kayaknya ‘gue butuh deh untuk punya anak satu lagi’, ya jangan langsung sterilisasi,” tegas dr. Andrew.