Benarkah sering ejakulasi bisa kurangi risiko kanker prostat? Jawabannya tidak sesederhana itu

Wait 5 sec.

Kanker prostat menempati urutan kedua global sebagai jenis kanker paling banyak didiagnosis pada laki-laki, setelah kanker paru-paru. Di Inggris, kanker prostat merupakan kanker yang paling umum dialami laki-laki.Sementara di Indonesia, Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) tahun 2022 memperkirakan kasus kanker prostat mencapai lebih dari 13 ribu.Prostat adalah organ reproduksi yang tugas utamanya membantu menghasilkan air mani, yaitu cairan pembawa sperma ketika laki-laki ejakulasi. Para peneliti telah lama mempertanyakan pengaruh aktivitas seksual terhadap risiko kanker prostat. Terutama, bisakah sering ejakulasi melindungi laki-laki dari risiko kanker prostat? Menariknya, ada beberapa bukti terbaru yang mendukung gagasan ini. Bagaimana ejakulasi melawan risiko kanker?Sebuah tinjauan naratif tahun 2024 mengkaji semua investigasi medis yang relevan selama 33 tahun terakhir. Penelitian ini menunjukkan bahwa tujuh dari 11 studi melaporkan efek ejakulasi terhadap penurunan risiko kanker prostat.Meski mekanismenya belum dipahami sepenuhnya, hasil penelitian ini sesuai dengan gagasan bahwa sering ejakulasi dapat menurunkan konsentrasi racun maupun struktur kristal—yang dapat menumpuk di prostat dan berpotensi memicu kanker prostat.Selain itu, ejakulasi dapat mengubah respons imun di dalam prostat, mengurangi peradangan (faktor yang meningkatkan risiko perkembangan kanker), serta meningkatkan pertahanan imun terhadap sel tumor.Dugaan lainnya, ejakulasi bisa mengurangi ketegangan psikologis dengan menurunkan aktivitas sistem saraf sehingga mencegah sel-sel prostat tertentu membelah terlalu cepat. Alhasil, kemungkinan sel berkembang menjadi kanker pun berkurang.Meski begitu, dalam penelitian yang menyiratkan manfaat ejakulasi dalam mengurangi risiko kanker, faktor-faktor spesifik tampaknya juga sangat berpengaruh.Usia memainkan peran. Ada temuan yang menduga bahwa manfaat perlindungan hanya diperoleh ketika ejakulasi sering terjadi pada usia 20-29 tahun, lalu 30-39 tahun, ataupun di usia lanjut (50-an ke atas). Sebaliknya, temuan lain mengungkap bahwa terlalu sering ejakulasi di usia muda (20-an) justru bisa meningkatkan risiko kanker prostat. Riset lain menduga bahwa ejakulasi pada masa remaja (ketika prostat masih berkembang dan matang) memiliki dampak terbesar bagi perkembangan risiko kanker prostat di dekade selanjutnya.Tingkat keseringan ejakulasi yang sehatLantas, seberapa sering ejakulasi yang sehat?Sebuah studi dari Harvard University, Amerika Serikat (AS) menemukan bahwa laki-laki yang ejakulasi 21 kali atau lebih dalam sebulan punya risiko terkena kanker prostat 31% lebih rendah. Hal ini jika dibandingkan dengan laki-laki yang berejakulasi empat hingga tujuh kali per bulan sepanjang hidup mereka.Temuan serupa dari Australia, menunjukkan bahwa kanker prostat 36% lebih kecil kemungkinannya dialami laki-laki sebelum usia 70 tahun yang sering ejakulasi rata-rata sekitar lima hingga tujuh kali seminggu. Hal ini jika dibandingkan dengan laki-laki yang berejakulasi kurang dari dua hingga tiga kali seminggu.Penelitian lain memiliki pandangan yang jauh lebih moderat: frekuensi ejakulasi lebih dari empat kali per bulan bisa memberikan efek perlindungan untuk beberapa kelompok usia dan pasien.Belum ada kesimpulan pastiSulit untuk menarik kesimpulan menyeluruh dari deretan penelitian tersebut, terutama karena masing-masing riset memiliki cara yang beragam.Sejumlah faktor, seperti perbedaan populasi laki-laki yang diteliti, jumlah peserta yang dianalisis, hingga perbedaan cara mengukur tingkat keseringan maupun cara ejakulasi (seperti lewat hubungan seksual, masturbasi, atau mimpi basah) dapat mengaburkan gambaran tersebut.Misalnya, pengukuran tingkat keseringan ejakulasi bergantung pada laporan pribadi peserta dan sering kali berasal dari ingatan bertahun-tahun lalu. Jadi, data yang ada merupakan hasil perkiraan terbaik dan dapat dipengaruhi oleh sikap (baik pribadi maupun sosial) terhadap aktivitas seksual dan masturbasi—yang berpotensi menyebabkan pelaporan berlebihan maupun kurang.Mungkin juga ada bias dalam deteksi tumor prostat. Misalnya, laki-laki yang sangat aktif secara seksual menunda atau tidak pergi ke rumah sakit karena takut pengobatan kanker akan menghentikan aktivitas seksual mereka. Dengan kata lain, laki-laki yang sering ejakulasi mungkin saja sebenarnya terkena kanker prostat, tapi tidak dilaporkan dalam penelitian.Ada kemungkinan juga bukan ejakulasi yang melindungi laki-laki dari kanker prostat, melainkan faktor lainnya. Misalnya, laki-laki yang lebih sering berejakulasi memiliki gaya hidup lebih sehat sehingga menurunkan risiko mereka terkena kanker.Sementara itu, frekuensi ejakulasi yang berkurang bisa dipengaruhi oleh peningkatan indeks massa tubuh (BMI), penurunan aktivitas fisik, dan perceraian. Intinya, semua faktor yang berkaitan dengan memburuknya kondisi kesehatan secara umum pada gilirannya dapat berkontribusi memicu perkembangan kanker. Laki-laki yang lebih sering ejakulasi diduga punya pola hidup lebih sehat. Rocksweeper/Shutterstock Efek testosteron mungkin berpengaruhTestosteron (hormon seks laki-laki) juga memainkan peran penting dalam proses ejakulasi dan hubungannya dengan kanker prostat.Kita sudah mengetahui bahwa testosteron dapat meningkatkan gairah seksual. Karena itu, laki-laki dengan kadar testosteron rendah mungkin tidak memiliki keinginan seks yang mengarah pada ejakulasi seperti laki-laki dengan kadar testosteron lebih tinggi.Bertentangan dengan dugaan awal bahwa kadar testosteron tinggi pada laki-laki meningkatkan risiko kanker prostat, penelitian saat ini menunjukkan bahwa kadar testosteron tinggi justru tidak meningkatkan risiko. Sebaliknya, konsentrasi testosteron yang rendah justru meningkatkan risiko kanker. Kondisi ini terutama berlaku untuk laki-laki yang sudah didiagnosis punya kanker prostat. Kadar testosteron rendah justru membuat penyakit mereka jauh lebih buruk dan sulit disembuhkan.Kesimpulannya, kadar testosteron tinggi diduga bisa mengurangi risiko kanker prostat pada laki-laki, sekaligus mendorong motivasi seks mereka.Sayangnya, sebagian besar penelitian soal efek ejakulasi terhadap kanker prostat tidak mengukur kadar testosteron. Paling banter hanya mengakui testosteron sebagai faktor yang mungkin memengaruhi.Sebuah penelitian yang mengukur hormon seks laki-laki menemukan bahwa mereka yang sering berejakulasi punya kadar testosteron lebih tinggi. Mereka juga memiliki risiko kanker prostat lebih rendah.Selain mengurangi risiko kanker prostat, manfaat seks dan ejakulasi bisa memberikan efek positif pada jantung, otak, sistem kekebalan tubuh, serta meningkatkan kualitas tidur dan suasana hati. Meskipun hubungan antara tingkat keseringan ejakulasi dan kanker prostat belum sepenuhnya dipahami dan masih membutuhkan lebih banyak penelitian, sering ejakulasi (dalam batas wajar) tidak akan membahayakan. Aktivitas ini mungkin justru bermanfaat bagi kesehatan. Karena itu, ejakulasi yang aman perlu menjadi bagian dari gaya hidup sehat laki-laki.Daniel Kelly tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.