Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Menteri Agama Nassarudin Umar, dan Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar di acara Halal Bihalal PB Ika PMII di Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (19/4/2026). Foto: Rayyan Farhansyah/kumparanSejumlah tokoh nasional yang juga alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) berkumpul dalam acara Halal Bihalal Pengurus Besar Ikatan Alumni (PB IKA) PMII di Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (19/4/2026).Dalam acara tersebut hadir Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Menteri Agama Nasaruddin Umar, dan Menteri ATR/BPN Nusron Wahid.Dalam pidatonya, Ketua Umum PKB sekaligus Menko Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi PBNU saat ini. Menurutnya, alumni PMII merasa terpanggil untuk mendiskusikan masa depan NU."Apa yang terjadi di tubuh NU hari ini adalah keprihatinan kita semua. Kepemimpinan yang tidak solid, tidak produktif, ini harus menjadi keprihatinan kita semua," ujar Cak Imin saat ditemui di Hotel Grand Mercure Kemayoran, Jakarta Pusat, Minggu (19/4).Ia menegaskan bahwa sebagai alumni PMII, NU adalah tempat perjuangan yang paling mulia. Cak Imin juga mengimbau agar regenerasi kepemimpinan NU ke depan dikembalikan pada khittah-nya."Ya, saatnya orang-orang muda NU, yang terutama ini kan organisasi ulama, ya harus ulama yang memimpin," tegasnya.Senada dengan Cak Imin, Menteri Agama Nasaruddin Umar menekankan pentingnya NU untuk tetap solid demi mengambil peran sebagai pemimpin dunia Islam di masa depan. Ia menyoroti perlunya perhitungan matang dalam bertindak, bukan berdasarkan emosional sesaat."Kita bicara tentang PMII dulu. PMII ini kita harapkan menuju sebuah lembaran baru ke depan. Kita berharap para alumni dan kader PMII bisa lebih proaktif mengantisipasi zamannya sendiri," kata Nasaruddin di kesempatan yang sama.Ia menambahkan bahwa NU memiliki posisi tawar yang tinggi sebagai penganut paham wasathiyah (moderat)."Maka NU itu juga harus solid dan memiliki perhitungan yang cermat serta matang ke depan. Karena 'jualan' kita di PBNU itu banyak sekali, yaitu moderasi beragama," tuturnya.Ia pun memiliki visi besar agar Indonesia, melalui NU, menjadi pusat peradaban Islam baru."Sepertinya Timur Tengah sudah selesai tugasnya melahirkan nabi dan mengembangkan Islam. Namun, estafet kepemimpinan dunia Islam ke depan harus kita tarik dan kita bawa ke Indonesia," ujar Nasaruddin.Sementara itu, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid tidak menampik jika pertemuan ini disebut sebagai bentuk konsolidasi. Menurutnya, wajar jika alumni PMII turut memikirkan perbaikan di tubuh Nahdlatul Ulama."Dikatakan konsolidasi, ya betul. Tidak dikatakan pun tidak apa-apa. PMII ini adalah anak yang lahir dari rahim NU dan merupakan anak intelektual NU," jelas Nusron.Ia menilai alumni PMII memiliki kewajiban moral untuk memastikan NU berjalan di jalur yang benar."Saya kira kalau ada masalah dalam NU, itu juga akan menjadi masalah dalam PMII. Karena itu, alumni PMII berkewajiban melakukan konsolidasi untuk upaya perbaikan agar NU ke depan lebih produktif dan maslahat," tambahnya.Nusron menekankan NU perlu perbaikan pada aspek manajerial dan figur kepemimpinan."Visi, niat, dan ke depan adalah kepemimpinan yang lebih baik," tutup Nusron.