Bukan cuma ikan sapu-sapu, ada banyak spesies invasif di perairan kita termasuk ikan nila

Wait 5 sec.

● Spesies invasif seperti ikan sapu-sapu, red devil, ikan cere, dan nila merupakan ancaman serius bagi ikan-ikan lokal.● Penyebaran spesies invansif terjadi akibat aktivitas manusia (perdagangan ikan hias, budi daya, hingga pelepasan ke alam)● Jika tidak dikendalikan, spesies invasif bisa mendominasi dan mengubah struktur ekosistem perairan Indonesia secara permanen.Arief Kamarudin, konten kreator asal Jakarta, sudah setahun belakangan aktif memburu ikan sapu-sapu di bantaran Sungai Ciliwung, Jakarta. Fotografer lepas itu mengaku bisa menangkap 20 hingga 30 ekor ikan sapu-sapu setiap hari untuk dimusnahkan. Tujuannya, agar spesies ini berkurang di Ciliwung. Konten penangkapan sapu-sapu ini lantas viral hingga memicu respons publik dan juga pemerintah daerah. Pasukan oranye hingga aparat TNI sampai terlibat ikut turun dalam operasi pembersihan ikan sapu-sapu. Gubernur Daerah Khusus Jakarta (DKJ) Pramono Anung bahkan berencana membentuk pasukan khusus penangkap ikan sapu-sapu. Lantas mengapa populasi ikan sapu-sapu harus dikendalikan? Karena kehadiran ikan sapu-sapu di Kali Ciliwung adalah alarm tanda bahaya kerusakan ekosistem serius. Ikan ini adalah spesies invasif atau organisme asing yang muncul di perairan alami. Dominasi ikan sapu-sapu berdampak buruk bagi spesies lokal, baik melalui kompetisi, predasi, maupun perubahan habitat. Asal muasal ikan sapu-sapu di Ciliwung?Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) berasal dari sungai Amazon di Amerika Selatan. Ciri khas tubuhnya dilindungi lapisan keras bertutul yang membantu mereka bertahan di habitat asli yang ekstrem. Ikan ini pertama kali masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias pada dekade 1970-an dan kemudian banyak dipelihara sebagai “pembersih” lumut di akuarium. Tapi ketika tubuhnya semakin besar dan tidak muat lagi di akuarium, ikan sapu-sapu akhirnya banyak dilepas ke sungai. Populasi spesies ini lantas meledak karena kemampuan adaptasinya yang luar biasa, bahkan pada perairan tercemar seperti Sungai Ciliwung. Ikan sapu-sapu kompetitif merebut sumber pakan dan bisa memangsa telur dan anakan ikan-ikan lokal. Selain itu, tak ada kehadiran predator alami yang mampu memangsa ikan berkulit keras itu, sehingga membuatnya menjadi spesies dominan di Ciliwung. Riset (2025) menunjukkan bahwa hampir 20% ikan yang tertangkap di Sungai Ciliwung merupakan ikan sapu-sapu. Dominasi spesies ini kian menekan keberadaan ikan lokal hingga berisiko menyebabkan kepunahan.Bukan hanya ikan sapu-sapuIkan sapu-sapu bukan satu-satunya spesies invasif di perairan Indonesia. Ada juga ikan red devil (Amphilophus labiatus) yang menjadi ancaman di berbagai wilayah. Spesies asal Danau Nikaragua, Amerika Tengah ini diperkirakan masuk ke Indonesia pada dekade 1990-an lewat jalur perdagangan ikan hias dari Singapura. Sama seperti ikan sapu-sapu, awalnya spesies ini dipelihara di akuarium, tapi kemudian dilepas ke alam dan berhasil beradaptasi dengan cepat. Saat ini, ikan red devil sudah menguasai beberapa perairan seperti Danau Toba, Danau Sentani, dan wilayah D.I. Yogyakarta. Selain itu, spesies invasif lainnya adalah ikan cere atau (Gambusia affinis) asal Amerika Utara.Spesies ini awalnya dibawa oleh pemerintah kolonial Belanda pada dekade 1920-an sebagai agen pengendali nyamuk malaria. Ikan cere disebar ke berbagai genangan, kolam, got, dan waduk untuk membasmi jentik nyamuk malaria. Karena kemampuan reproduksi cepat dan toleransi tinggi terhadap kondisi air yang “buruk”, ikan cere menjadi dominan di banyak perairan.Kini, ikan ini tersebar luas di hampir seluruh perairan tawar Indonesia. Meski berukuran kecil dan tampak tidak berbahaya, ikan ini sebenarnya sangat agresif. Ia bisa menyerang ikan lain, merusak sirip, bahkan membunuhnya. Efektivitasnya dalam mengendalikan nyamuk tidak jauh berbeda dibanding ikan lokal, tetapi dampak ekologisnya justru lebih besar. Ia mengubah struktur komunitas zooplankton, serangga, dan krustasea lokal. Selain itu, ikan cere juga berpotensi menjadi inang parasit yang bisa menular ke ikan di sekitarnya. Ujungnya, tentu bisa mengganggu kesehatan dan keanekaragaman ikan lokal. Spesies invasif yang sering tidak disadari adalah ikan nila (oreochromis niloticus), yang juga jadi panganan masyarakat. Ikan ini diimpor dari Taiwan pada dekade 1960-an untuk meningkatkan produksi perikanan air tawar di Indonesia. Saking familiernya, mungkin banyak dari kita yang menganggap ikan ini asli perairan Indonesia. Ditambah permintaan pasar yang tinggi, membuat keberadaannya di perairan alami dianggap wajar. Melansir Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), produksi tahunan hasil budidaya ikan ini hampir mencapai 1,4 juta ton dengan titik konsentrasi budidaya di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara.Namun, di balik nilai ekonominya, ikan nila memiliki dampak ekologis yang serius. Spesies ini sangat kompetitif, bersaing dengan ikan lokal dalam memperebutkan sumber pakan dan juga memangsa individu yang lebih kecil, termasuk ikan lokal yang masih muda. Kombinasi kompetisi dan predasi ini menekan populasi ikan asli sekaligus mengganggu struktur jaring makanan dalam ekosistem perairan. Oleh karenanya, dampak ikan nila terhadap keseimbangan ekosistem tidak bisa diabaikan.Kenapa spesies invansif dilepasliarkan?Penyebab utama spesies invasif ini menyebar luas adalah karena perilaku sembarangan melepasliarkan spesies. Bukan hanya masyarakat, bahkan baru-baru ini di Sleman, Yogyakarta ada kegiatan pelepasliaran nila yang didukung oleh instansi setempat. Regulasi yang melarang pelepasan spesies invasif ke perairan sebenarnya sudah ada. Namun, masih terdapat kesenjangan antara regulasi dan praktik di lapangan. Kondisi ini diperparah oleh rendahnya pemahaman publik.Beberapa rekomendasi langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi agar spesies invasif tidak semakin menyebar luas, di antaranya:Menghimpun data keanekaragaman ikan melalui eksplorasi dan identifikasi spesies invasif, dan membuka akses data ke publik.Melakukan pelepasliaran ikan asli pada perairan yang populasinya menurun dengan mengacu pada regulasi yang berlaku.Memperkuat peran masyarakat melalui pembentukan kelompok pengawas perairan.Meningkatkan pengawasan terhadap keberadaan dan penyebaran spesies invasif melalui pemantauan rutin.Melakukan pengendalian populasi hingga pemusnahan spesies invasif secara terkoordinasi dengan instansi terkait.Alfian Primahesa tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.