Hari Kartini: Sudahkah Perempuan Benar-Benar Setara?

Wait 5 sec.

Setiap Hari Kartini datang, kita sering merayakannya dengan cara yang sama. Namun di balik itu, ada satu pertanyaan yang jarang benar-benar dijawab: apakah perempuan di Indonesia sudah benar-benar setara?Jawabannya tidak sesederhana iya atau tidak.Perempuan Indonesia masa kini melanjutkan semangat Kartini dalam berbagai peran dan ruang kehidupan. (Ilustrasi: AI)Akses Sudah Terbuka, Tapi Belum Sepenuhnya SetaraJika melihat data, kemajuan perempuan Indonesia memang tidak bisa dipungkiri. Akses terhadap pendidikan semakin terbuka, dan partisipasi perempuan dalam berbagai sektor terus meningkat.Namun ketika masuk ke dunia kerja, kesenjangan masih terlihat jelas. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023 menunjukkan bahwa tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan berada di kisaran 54 persen, sementara laki-laki mencapai lebih dari 80 persen.Artinya, persoalannya bukan lagi soal boleh atau tidak, tetapi sejauh mana perempuan benar-benar memiliki kesempatan yang sama.Masuk Ruang, Tapi Belum Sepenuhnya DidengarKeterlibatan perempuan dalam ruang pengambilan keputusan juga mengalami peningkatan, tetapi belum optimal. Representasi perempuan di lembaga legislatif masih belum sepenuhnya mencapai target afirmasi.Padahal, berbagai studi global, termasuk dari World Bank, menunjukkan bahwa kehadiran perempuan dalam proses pengambilan kebijakan berkontribusi pada kebijakan yang lebih inklusif dan responsif.Masalahnya bukan lagi soal perempuan boleh masuk ruang publik atau tidak. Masalahnya, apakah mereka benar-benar punya ruang yang setara di dalamnya.Kebijakan Sudah Ada, Tapi Implementasi Masih TertinggalIndonesia sebenarnya telah memiliki strategi pengarusutamaan gender dalam pembangunan. Namun, implementasinya masih menjadi tantangan.World Bank mencatat bahwa di banyak negara berkembang, kesenjangan sering terjadi bukan pada desain kebijakan, tetapi pada pelaksanaannya. Hal yang sama juga terlihat di Indonesia.Banyak program sudah dirancang dengan perspektif gender, tetapi belum sepenuhnya terintegrasi dalam proses perencanaan dan penganggaran di semua level pemerintahan.Kepemimpinan Perempuan Masih Perlu DiperluasDi tengah tantangan global yang semakin kompleks, kebutuhan akan kepemimpinan yang inklusif semakin besar. Perempuan membawa perspektif yang berbeda, terutama dalam isu sosial, pendidikan, dan kesejahteraan.Namun, untuk mendorong lebih banyak perempuan berada di posisi strategis, dibutuhkan lebih dari sekadar kesempatan formal. Hambatan struktural seperti stereotip, beban ganda, hingga keterbatasan jejaring masih menjadi kenyataan.World Bank juga menegaskan bahwa peningkatan partisipasi perempuan dalam ekonomi dapat mendorong pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.Hari Kartini Bukan Sekadar SeremoniRefleksi Hari Kartini hari ini tidak cukup dimaknai sebagai simbol perjuangan masa lalu. Ia harus dibaca sebagai agenda yang masih berjalan.Kesetaraan tidak cukup hanya diukur dari akses, tetapi dari hasil yang dirasakan. Apakah perempuan benar-benar memiliki peluang yang sama untuk berkembang? Apakah kebijakan sudah cukup responsif terhadap kebutuhan mereka?Jika jawabannya belum, maka pekerjaan rumahnya masih ada.Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan hari ini bukan lagi apa yang telah diperjuangkan Kartini, tetapi apa yang belum selesai kita lanjutkan.