Toleransi di ruang digital: Bagaimana tayangan Youtube ‘Login’ menggeser metode dakwah konvensional

Wait 5 sec.

● Media sosial mengubah ekspresi toleransi yang kaku, elitis, dan ‘top-down’ menjadi lebih cair dan egaliter.● Program seperti ‘Login’ membumikan isu agama yang berat menjadi obrolan santai tanpa penghakiman bagi semua kalangan.● Toleransi perlu hidup dalam interaksi sehari-hari yang organik.Diskusi terkait toleransi menemukan ruang baru, seiring bergesernya ekspektasi audiens dalam mengonsumsi informasi agama di media.Kini, agama dituntut mampu menjawab masalah-masalah kemanusiaan dan tantangan perubahan zaman. Di satu sisi, publik makin kritis terhadap apapun yang melibatkan relasi kekuasan. Di sisi lain, kesadaran tokoh agama seperti dai atau ustaz dalam memanfaatkan ruang digital juga semakin masif.Selama ini, wajah keberagaman kita lebih banyak terjebak pada struktur yang kaku. Artinya, wacana toleransi dibangun secara top-down, elitis, dan hanya berupa regulasi atau seremonial kerukunan antar-pejabat-birokrat. Bentuknya pun sebatas hidup berdampingan tapi tidak saling menyapa, jika bukan curiga.Peraturan Bersama Menteri (PBM) Nomor 9 dan 8 Tahun 2006, misalnya, diklaim pemerintah sebagai penjaga perdamaian. Faktanya, instrumen hukum ini justru dinilai para ahli menghambat kebebasan beragama. Aturan ini memuat syarat administratif pendirian rumah ibadat yang berat: wajib mengumpulkan KTP persetujuan warga serta mengantongi rekomendasi dari forum kerukunan umat beragama (FKUB) dan Departemen Agama.Akibatnya, FKUB yang seharusnya menjadi jembatan komunikasi lintas iman kerap beralih fungsi menjadi penjaga gawang (gatekeeper) yang membatasi eksistensi rumah ibadah kelompok minoritas. Login, ‘talk show’ keagamaan yang dipandu Habib Ja’far. Di titik inilah, anomali muncul melalui media sosial. Gelar wicara (talk show) bertajuk Login yang diinisiasi pendakwah Husein Ja'far Al-Hadar (Habib Ja’far) di kanal Youtube Deddy Corbuzier menawarkan praktik baru di tata ruang toleransi yang sebelumnya kaku.Alih-alih menggunakan format dakwah konvensional, Login membincangkan isu-isu krusial dengan pendekatan kasual: mulai dari ketegangan antar-umat beragama maupun yang dalam satu agama, kesehatan mental, hingga krisis ekologi dan perubahan iklim.Dengan kata lain, di balik riuhnya wacana keagamaan, toleransi beragama berhasil menemukan bentuk yang lebih cair di ruang digital. Ia hadir dengan cara yang lebih dekat sehingga bisa merangkul lebih banyak orang. Baca juga: Organisasi keagamaan lebih toleran pada agama lain dibandingkan agama sendiri, mengapa bisa demikian? Banjir informasi agama di internetInternet kerap dituding sebagai biang keladi pengucilan dan echo chamber yang memperuncing polarisasi, termasuk menyangkut isu keyakinan.Di ruang digital, kafir-mengkafirkan jadi mudah terlontar, sementara keahlian atau otoritas agama mengalami fenomena matinya kepakaran (the death of expertise). Baca juga: Jebakan ‘echo chamber’: Panduan etika untuk ‘influencer’ agar tidak blunder Siapa yang lihai dalam komunikasi dan retorika visual bisa meraup ribuan jemaah secara instan meski keilmuan agamanya nihil riwayat pendidikan teologis yang ketat. Baca juga: Diskursus “matinya kepakaran” di media sosial: Bagaimana agar ilmuwan tak kalah pamor dari ‘influencer’ Di tengah kebisingan ini, umat beragama, khususnya kelas menengah Muslim urban, mencari rujukan keagamaan yang menenangkan, terutama setelah bertahun-tahun mengalami turbulensi politik identitas. Di sinilah Login menemukan pengikutnya.Ketika media sosial jadi ruang publikLogin memindahkan ruang dialog agama yang cenderung kaku ke atmosfer atau vibes anak tongkrongan—kontras dengan model toleransi yang selama ini menempatkan otoritas agama di menara gading.Dalam kajian budaya, tongkrongan adalah ruang subkultur yang egaliter. Di ruang ini, pemegang otoritas bersedia ‘menanggalkan’ jubah elitenya, duduk sejajar, dan membuka diri untuk diuji, digugat, bahkan dikritik oleh nalar awam.Vibes tongkrongan ini tampak di banyak episode Login: ketika Habib Ja'far berdialog dengan tokoh lintas agama, figur minoritas, atau bahkan mereka yang dianggap menyimpang. Konsep toleransi yang biasanya diperdebatkan secara berat dibumikan menjadi obrolan keseharian yang cair. Di Login season-4, misalnya, kehadiran komika seperti Mamat Alkatiri dan Tretan Muslim berperan penting dalam membuat obrolan tentang isu berat jadi lebih santai.Alhasil, pertanyaan dan kegelisahan keagamaan yang selama ini dianggap “tabu” atau “sesat”, tuntas dibicarakan tanpa ada ancaman penghakiman. Sementara di Login (season 3 episode 14), Habib Ja'far berinteraksi dengan seorang pemuka agama Buddha (Bhante). Judulnya sangat satir: BHANTE HABIB: GAK PERLU BANGUN VIHARA, UDAH BANYAK…Tayangan ini dengan cerdik mengadopsi kerasnya polemik sosial terkait pelarangan pendirian tempat ibadah yang berujung pada penderitaan berkepanjangan, bahkan gesekan sosial berdarah (seperti kasus GKI Yasmin, HKI Jambi, Aceh Singkil).Di meja tongkrongan Login, isu sentral ini dikemas dalam kelakar cerdas. Kelakar ini tidak mengkerdilkan persoalan tapi justru menjadi tamparan keras bahwa keberagaman tidak semengerikan yang dibayangkan para penganut fanatisme buta.Dengan kata lain, tindakan komunikatif di ruang Login beroperasi secara optimal tanpa adanya represi identitas politik dan budaya. Representasi kelompok terpinggirkan atau figur yang terstigma secara sosial memiliki hak bersuara yang setara dengan pemangku otoritas agama. Dari Login, publik setidaknya belajar bahwa toleransi bukanlah politik kebaikan hati pihak mayoritas, melainkan pengakuan mutlak atas kesetaraan hakiki setiap manusia. Wibawa agama tidak luntur saat ia ditertawakan di tongkrongan tapi justru menguat melalui keterbukaan dialektis dan empati.Melalui pendekatan ini, Login tidak berhenti menjadi sekadar tontonan toleransi, tapi menjadi prototipe ideal ruang publik. Tangkapan layar percakapan di kolom komentar ‘Login’. Author provided. Masa depan toleransiFenomena kultur pop ini menegaskan bahwa masa depan toleransi dan keberagaman di Indonesia bergantung pada keberanian kekuasaan serta otoritas keagamaan untuk meninggalkan pola pikir yang represif demi interaksi yang lebih setara dan inklusif.Alih-alih diposisikan sebagai “artefak museum” yang kaku dan hanya menjadi pajangan, toleransi harus diwujudkan dalam kebijakan publik dan ruang perjumpaan yang organik—layaknya suasana warung kopi yang santai, terbuka bagi kaum yang terabaikan, dan tidak menghakimi. Dengan demikian, nilai-nilai toleransi dapat benar-benar hidup dalam praktik sehari-hari. Baca juga: Intoleransi agama kian memburuk di tengah rezim yang makin otoriter Para penulis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi di luar afiliasi akademis yang telah disebut di atas.