Tubuh Perempuan Selalu Disorot, Moral Laki-Laki dan Rasa Diawasi Tuhan Terlewat

Wait 5 sec.

Ilustrasi foto perempuan. Sumber: UnsplashDari masa ke masa, isu pelecehan seksual masih menjadi trending topic yang tidak pernah habis di publik. Di berbagai tempat umum seperti di jalanan, perusahaan, kantor, rumah sakit, bahkan sampai di lingkup kepolisian serta pendidikan pun sudah biasa menjadi zona nyaman untuk melakukan aksi keji tersebut. Seakan-akan tubuh perempuan diciptakan untuk menjadi objek permainan. Sepanjang sejarah manusia, laki-laki telah konsistensi mengendalikan perempuan. Syekh Muhammad Rasyid Ridha menyatakan bahwa sebelum Islam hadir, perempuan selalu dilecehkan, direndahkan, dihina, dan diperbudak. Dan hal ini terjadi pada setiap negara di dunia.Kita flashback sejenak pada fase jahiliyah, khususnya di jazirah Arab. Pada masa pra-Islam, kaum wanita seperti tidak ada harganya. Mereka dijadikan sebagai alat pemuas syahwat, diperlakukan secara otoriter, bahkan bayi perempuan yang baru lahir usianya tidak akan mencapai satu hari. Para lelaki memperlakukan wanita ibarat boneka karena mereka berpegang teguh terhadap norma-norma sosial patriarki.Sebagai manusia yang berakal sehat, kita tumbuh dengan nasihat yang sama, yaitu perempuan wajib menjaga diri. Menjaga cara menutup aurat, menjaga cara berbicara, dan menjaga akhlak. Namun, di saat yang sama pula kita tidak sering mendengar nasihat yang setara ditujukan kepada laki-laki, yaitu tentang menjaga niat, menjaga pandangan, dan menghormati batas tubuh orang lain. Kemudian, ketika penyimpangan seksual terjadi, arah pertanyaan kita pada akhirnya selalu merujuk kepada perempuan. Padahal sebenarnya, sejak awal kita lengah untuk kembali mengonstruksi sesuatu yang jauh lebih mendasar, yakni cara manusia memandang dirinya di hadapan Tuhan.Akidah dan Tauhid sebagai Edukasi SeksualSebagai makhluk yang dibekali akal pikiran dan nurani, manusia diamanahi untuk menjaga martabatnya. Guna mempertahankan nilai martabatnya yang sungguh mulia, Islam memberi berbagai macam pedoman mengenai edukasi seksual. Dalam Al-Quran dan khususnya di dalam hadis serta kitab-kitab fikih, kita dapat menjumpai penjelasan tentang aturan-aturan kehidupan seksual bagi orang yang sudah baligh hingga usia tamyiz, atau usia mendekati baligh, antara usia 7–12 tahun. Edukasi seksual semestinya sudah diajarkan sejak fase kanak-kanak pada usia tamyiz. Memang persoalan tersebut dianggap sesuatu yang tabu bagi masyarakat awam. Akan tetapi, Islam justru menganjurkan orang tua dan guru untuk mengajarkan edukasi seksual kepada anak-anak jenjang sekolah dasar. Apabila edukasi seksual tidak disampaikan sejak dini, akibatnya nanti di usia SMP dan SMA mereka belum begitu paham terkait batasan-batasan pergaulan dengan sesama jenis maupun lawan jenis.Kemudian, yang menjadi persoalan juga adalah poin-poin yang diajarkan dalam pendidikan seksual hanya berkutat pada lingkup ilmu biologi dan sosial. Padahal poin prioritas yang wajib disampaikan ialah soal akidah, tauhid, dan akhlak. Ketika kita dihadapkan dengan pertanyaan klise seperti "Kenapa kasus penyimpangan seksual di akhir zaman ini semakin marak terjadi?" Lebih mirisnya lagi, penyimpangan tersebut menyusup di setiap diri seseorang, tidak mengenal usia. Ada satu hal penting yang mampu menjawab pertanyaan tersebut. Jika kita mencermati situasi dari tahun ke tahun, akar masalahnya saat ini bukan sekadar pada dimensi sosial semata, melainkan juga pada dimensi spiritual yang tidak ditanamkan pada anak-anak. Seorang anak yang tumbuh dengan akidah dan tauhid yang murni akan menghasilkan akhlakul karimah. Mereka tidak akan bertanya "Apakah perbuatan ini boleh dilakukan atau tidak?", tetapi bertanya "Apakah perbuatan ini dilihat oleh Allah?" Sebab akidah tidak sekadar kepercayaan di dalam hati. Ia harus dibenarkan lalu diucapkan secara lisan dan diamalkan dalam bentuk perbuatan. Jika sudah begitu, jiwa seseorang akan menjadi sangat mantap terhadap keimanan, sehingga tidak gampang goyah oleh keraguan ataupun prasangka buruk.Apabila akidah sudah lurus, ia akan melahirkan benih keyakinan bahwa Allah itu bukan sekadar satu, tetapi Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui isi hati. Maka dari itu, gerak-gerik seseorang sekecil apa pun dan dikerjakan di mana pun, semuanya akan dipertanggungjawabkan dan ada balasannya. Sebagian orang selama ini mendidik perempuan agar senantiasa memelihara perhiasan tubuhnya dari dunia. Namun, di sisi lain, mereka lupa bahwa moral laki-laki jarang benar-benar dibangun dari akarnya.Boleh jadi banyak orang yang luput bahwa Islam memerintahkan kaum lelaki yang beriman untuk lebih dulu menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan untuk melindungi kesucian diri. Perintah ini sejalan dengan firman Allah Swt. yang berbunyi:قُلْ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ يَغُضُّوْا مِنْ اَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوْا فُرُوْجَهُمْۗ ذٰلِكَ اَزْكٰى لَهُمْ إِنَّ اللهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا يَصْنَعُوْنَ ۝٣٠Artinya: “Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya. Demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nur: 30)Frasa ghaddul bashar tidak berarti melihat perempuan sambil menundukkan kepala ke bawah, melainkan tidak memandang dengan syahwat. Dari dulu kita sibuk melindungi tubuh perempuan, tetapi tidak sadar bahwa terdapat perkara yang lebih serius lagi, yaitu menjaga cara pandang laki-laki. Tanggung jawab moral tidak hanya dibebankan kepada satu pihak. Orang tua, guru, serta lingkungan sekitar harus turut berkolaborasi untuk membimbing anak laki-laki dan perempuan agar saling memelihara akidah, menjaga cara pandang dan berbicara, serta menutup aurat. Karena ironisnya, aurat sudah dijaga, tetapi akidah dibiarkan dangkal. Alhasil, akan menumbuhkan perspektif yang keliru dan akhlak yang menyeleweng dari koridor syariat. Sebagaimana beragam jenis kasus pelecehan seksual baik fisik maupun verbal di seluruh seantero dunia. Apalagi di zaman serba digital ini, aksi pelanggaran norma tersebut dapat dilakukan dengan mudah di media sosial tanpa perlu menyembunyikan diri.Sejatinya, semua orang tua dan guru di sekolah tidak bermaksud salah, hanya ingin yang terbaik bagi anak-anak. Mungkin wawasan ilmu akidah dan tauhid dari para orang tua, guru, dan bahkan kita sendiri yang masih minimalis. Oleh karena itu, kita semua perlu menambah asupan pengetahuan terkait dengan kajian ilmu pendidikan agama walaupun usia terus menua. Sebab apabila kita memutuskan untuk berhenti belajar, kepada siapakah anak-anak generasi di masa depan akan memetik nilai-nilai teladan kehidupan? Seperti pada aspek kehidupan hablumminannas, atau bersosialisasi dengan orang yang lebih tua, lebih muda, dan dengan lawan jenis.Dengan demikian, dapat diambil benang merah bahwa pola asuh yang sepantasnya kita ajarkan dalam edukasi seksual bukan hanya bagaimana cara memandang dan berpakaian, tetapi bagaimana supaya anak selalu merasa disaksikan Allah Swt. di setiap tingkah laku yang ia kerjakan. Tatkala akidah dan tauhid benar-benar menyala di hati, otomatis baik-buruknya akhlak akan tampak sesuai besarnya kapasitas keimanan hamba kepada Allah Swt. Dan akhirnya manusia tidak butuh diawasi untuk selalu istiqamah berbuat benar.