Ilustrasi Foto dibuat dengan AISetiap tanggal 21 April, bangsa ini kembali mengenang R.A. Kartini sebagai simbol emansipasi perempuan. Namun, di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks, pertanyaan yang patut diajukan bukan sekadar bagaimana kita mengenang Kartini, melainkan, apakah nilai-nilai perjuangannya masih hidup dalam praktik sosial dan ekonomi hari ini?Salah satu ruang yang jarang disentuh dalam diskursus Kartini adalah dunia akuntansi khususnya akuntansi keberlanjutan. Selama ini, akuntansi sering dipersepsikan sebagai bidang yang netral, teknis, dan kering nilai. Ia identik dengan angka, laporan keuangan, dan kepatuhan terhadap standar. Namun, di balik angka-angka tersebut, tersembunyi pilihan-pilihan moral, apa yang dihitung, siapa yang diuntungkan, dan siapa yang diabaikan.Di sinilah relevansi Kartini menemukan konteks baru.Kartini tidak hanya berbicara tentang kesetaraan perempuan, tetapi juga tentang keadilan, kemanusiaan, dan keberanian melawan struktur yang tidak adil. Dalam surat-suratnya, Kartini menggugat sistem sosial yang membatasi akses pendidikan dan kesempatan. Jika ditarik ke konteks hari ini, semangat tersebut sejatinya sejalan dengan misi utama akuntansi keberlanjutan, memastikan bahwa aktivitas ekonomi tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga adil secara sosial dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.Akuntansi yang Tidak Lagi NetralPerkembangan global menunjukkan bahwa akuntansi telah bergerak jauh dari sekadar pencatatan keuangan. Konsep seperti Environmental, Social, and Governance (ESG) dan laporan keberlanjutan (sustainability reporting) kini menjadi standar baru dalam dunia bisnis. Perusahaan tidak lagi cukup dinilai dari laba semata, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.Namun, pertanyaan kritisnya, apakah praktik ini benar-benar mencerminkan nilai keadilan yang diperjuangkan Kartini?Dalam banyak kasus, laporan keberlanjutan masih bersifat simbolik sekadar memenuhi regulasi atau membangun citra perusahaan. Isu-isu seperti kesenjangan gender, kesejahteraan pekerja, hingga dampak lingkungan seringkali dilaporkan secara normatif tanpa menyentuh akar persoalan. Di titik ini, akuntansi berisiko menjadi alat legitimasi, bukan alat transformasi.Padahal, jika mengacu pada semangat Kartini, akuntansi seharusnya berfungsi sebagai alat emansipasi memberikan suara bagi mereka yang selama ini tidak terdengar dalam laporan keuangan, perempuan, masyarakat marginal, dan lingkungan yang terdampak.Dari Emansipasi ke Akuntabilitas SosialMenghidupkan kembali nilai Kartini dalam akuntansi berarti mendorong pergeseran dari sekadar transparansi menuju akuntabilitas sosial yang substantif. Transparansi hanya berbicara tentang keterbukaan informasi, sementara akuntabilitas menuntut pertanggungjawaban atas dampak nyata.Dalam konteks ini, laporan keberlanjutan tidak boleh berhenti pada “apa yang dilakukan perusahaan”, tetapi harus menjawab “apa yang berubah bagi masyarakat”.Misalnya, bagaimana perusahaan memastikan perempuan mendapatkan akses yang setara dalam pekerjaan? Bagaimana komunitas lokal dilibatkan dalam pengambilan keputusan? Bagaimana dampak lingkungan tidak hanya diukur, tetapi juga diperbaiki?Pertanyaan-pertanyaan ini mencerminkan pendekatan yang lebih dalam sebuah pendekatan yang selaras dengan gagasan Creating Shared Value (CSV), di mana nilai ekonomi dibangun bersamaan dengan nilai sosial. Dengan kata lain, keberhasilan perusahaan tidak diukur dari seberapa besar keuntungan yang dihasilkan, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dirasakan bersama.Kartini di Era ESGDi era ESG, warisan Kartini menemukan relevansinya yang semakin kuat. Isu kesetaraan gender kini menjadi salah satu indikator penting dalam penilaian keberlanjutan perusahaan. Namun, lagi-lagi, tantangannya adalah memastikan bahwa indikator tersebut tidak sekadar menjadi angka, melainkan mencerminkan perubahan nyata.Kartini mengajarkan bahwa perubahan tidak lahir dari formalitas, tetapi dari keberanian untuk berpikir kritis dan bertindak berbeda. Dalam konteks akuntansi, ini berarti keberanian untuk mengakui bahwa sistem yang ada belum sepenuhnya adil, dan bahwa laporan keuangan maupun keberlanjutan harus menjadi alat untuk memperbaikinya.Di sinilah peran akademisi, praktisi, dan regulator menjadi penting. Mereka tidak hanya bertugas menyusun standar, tetapi juga memastikan bahwa standar tersebut membawa perubahan yang bermakna. Akuntansi harus keluar dari zona nyaman teknokratis dan masuk ke ruang etika serta keadilan sosial.Menjadikan Akuntansi sebagai GerakanPada akhirnya, merayakan Kartini tidak cukup dengan mengenang sejarah atau mengulang slogan emansipasi. Yang lebih penting adalah menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam praktik nyata, termasuk dalam bidang yang mungkin terlihat jauh seperti akuntansi.Akuntansi keberlanjutan memberikan peluang besar untuk itu. Ia membuka ruang bagi perusahaan untuk tidak hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham, tetapi juga kepada masyarakat luas. Namun, peluang ini hanya akan bermakna jika diiringi dengan komitmen yang tulus terhadap keadilan.Jejak Kartini dalam laporan keberlanjutan bukanlah sesuatu yang bersifat simbolik. Ia adalah panggilan untuk memastikan bahwa setiap angka yang disajikan memiliki makna, setiap laporan mencerminkan kejujuran, dan setiap keputusan bisnis berpihak pada kemanusiaan.Karena pada akhirnya, seperti yang diperjuangkan R.A. Kartini, kemajuan sejati tidak hanya diukur dari pertumbuhan, tetapi dari kemampuan kita untuk memanusiakan manusia.