Kepercayaan: Aset Berharga Penentu Perekonomian Masa Depan

Wait 5 sec.

Ilustrasi Kepercayaan Seluruh Pihak Yang Mendorong Perekonomian Indonesia (Foto: generated by AI)Apa yang membuat ekonomi tetap berjalan? Apakah angka-angka indikator pertumbuhan ekonomi atau kepercayaan masyarakat pada angka tersebut?Pertanyaan ini sangat penting untuk dijawab di tengah ketidakpastian global yang menguji daya tahan ekonomi Indonesia. Inflasi dapat diumumkan setiap bulan, suku bunga disesuaikan oleh Bank Indonesia secara berkala, dan nilai tukar rupiah bergerak setiap saat. Di balik semua itu, terdapat satu variabel yang tidak tercatat, walaupun variable tersebut paling menentukan arah ekonomi. Variabel tersebut bernama kepercayaan.Pada Maret 2026, indikator ekonomi Indonesia masih menunjukkan sinyal yang relatif solid. Inflasi nasional tercatat sebesar 3,48% (yoy), dengan inflasi volatile food berada di angka 4,24% (yoy). Stabilitas ini menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global. Namun ekonomi tidak hanya hidup dalam angka agregat.Di Manado, misalnya, berdasarkan informasi di Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) harga cabai rawit sempat bergerak cukup tajam dari sekitar Rp45.000 per kilogram pada awal Maret, meningkat menjadi Rp110.000 pada awal April, sebelum kembali turun ke kisaran Rp66.000 pada pertengahan April. Sementara itu BPS mempublikasikan inflasi di Kota Manado pada bulan Maret 2026 masih terkendali di angka 0,32 % (mtm) dan 3,28% (yoy). Bagi statistik, fluktuasi ini merupakan bagian dari dinamika pasar di dalam suatu laporan, namun bagi masyarakat pengalaman tersebut merupakan hal nyata yang akan mempengaruhi persepsi dan kepercayaan kepada pemerintah maupun.Di sinilah pentingnya melihat ekonomi tidak hanya dari sisi angka, tetapi juga dari sisi persepsi. Hal ini menjelaskan mengapa sebagian masyarakat merasakan tekanan biaya hidup yang lebih kuat, meskipun secara keseluruhan inflasi tetap terjaga.Di tengah dinamika tersebut kepercayaan masyarakat masih berada pada level optimis. Bank Indonesia memaparkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) periode Maret 2026 tercatat sebesar 122,9 dengan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) tetap berada pada zona optimis. Ini menunjukkan bahwa, meskipun terdapat tekanan, masyarakat masih memiliki keyakinan terhadap kondisi ekonomi.Memang, terdapat penurunan tipis dibandingkan bulan sebelumnya. Namun dalam konteks ekonomi, hal ini lebih mencerminkan penyesuaian ekspektasi, bukan pelemahan kepercayaan secara mendasar.Di sisi lain, peningkatan Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) serta tetap terjaganya aktivitas konsumsi yang mencapai 72,2% dari pendapatan menunjukkan bahwa roda ekonomi domestik masih berputar dengan baik. Ini menjadi indikasi bahwa kepercayaan tidak hilang, melainkan beradaptasi terhadap perubahan situasi.Di titik inilah kepercayaan menunjukkan perannya yang sesungguhnya. Ekonomi modern bekerja berdasarkan ekspektasi. Ketika masyarakat percaya bahwa kondisi akan tetap stabil, mereka tetap berbelanja, berinvestasi, dan menjaga aktivitas ekonomi. Sebaliknya, ketika ketidakpastian meningkat, yang dibutuhkan bukan hanya kebijakan yang tepat, tetapi juga keyakinan bahwa kebijakan tersebut mampu menjaga arah ekonomi.Sejarah Indonesia memberikan pelajaran berharga mengenai hal ini. Pada krisis 1997–1998, tekanan ekonomi berkembang menjadi krisis yang lebih dalam ketika kepercayaan terhadap sistem ekonomi dan kebijakan menurun secara signifikan. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga kepercayaan merupakan bagian integral dari menjaga stabilitas.Namun yang juga penting dicatat, pengalaman tersebut membuat pemerintah dan otoritas terkait memperkuat fondasi kebijakan ekonomi Indonesia ke depan. Dalam berbagai episode tekanan global berikutnya seperti gejolak ekonomi 2008, 2013 dan pandemi covid-19, stabilitas ekonomi Indonesia relatif lebih terjaga karena kredibilitas kebijakan yang semakin kuat dan respons yang lebih terkoordinasi. Hal ini menandakan Indonesia telah belajar dari krisisdan membangun ketahanan dari pengalaman tersebut.Saat ini tantangan kembali hadir melalui dinamika global. Ketegangan geopolitik, termasuk di Timur Tengah, telah mendorong volatilitas harga energi dan meningkatkan ketidakpastian pasar global. Dampaknya terasa hingga ke dalam negeri, baik melalui biaya distribusi, harga pangan, maupun pergerakan nilai tukar. Namun di tengah kondisi tersebut, fondasi ekonomi domestik yang kuat dan kepercayaan yang tetap terjaga menjadi modal penting.Menjaga kepercayaan ini tentu bukan pekerjaan satu pihak. Hal ini membutuhkan upaya bersama yang konsisten dan saling melengkapi.Bank Indonesia memiliki peran strategis dalam memastikan stabilitas moneter tetap terjaga sekaligus memperkuat komunikasi kebijakan. Kejelasan arah kebijakan, konsistensi dalam merespons dinamika global, serta kemampuan menjelaskan kebijakan dalam bahasa yang mudah dipahami publik akan sangat menentukan bagaimana masyarakat memaknai kondisi ekonomi.Pemerintah, baik pusat maupun daerah, berperan dalam memastikan bahwa stabilitas tersebut benar-benar dirasakan di lapangan. Pengendalian harga pangan melalui penguatan produksi dan distribusi, perlindungan terhadap kelompok rentan, serta kebijakan yang menjaga daya beli menjadi kunci agar angka stabilitas tidak berhenti pada level makro, tetapi hadir dalam kehidupan sehari-hari.Di sisi lain, pelaku usaha juga memegang peran penting dalam menjaga kepercayaan pasar. Efisiensi rantai pasok, penetapan harga yang wajar, serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan global akan membantu memastikan bahwa tekanan biaya tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen.Koordinasi lintas lembaga menjadi kunci agar seluruh upaya tersebut berjalan dalam satu arah. Pada saat yang sama, komunikasi kebijakan menjadi jembatan penting antara angka dan realitas. Ketika kebijakan dapat dipahami dan dirasakan manfaatnya, maka kepercayaan tidak hanya terjaga, tetapi juga diperkuat.Pada akhirnya, pertumbuhan dan kestabilan ekonomi ditentukan bukan hanya dari apa yang terjadi tetapi juga oleh bagaimana masyarakat dan stakeholders lain memandang apa yang akan terjadi. Selama kepercayaan tetap terjaga, ekonomi Indonesia memiliki ruang untuk terus tumbuh dan stabil di tengah ketidakpastian global. Stabilitas dan pertumbuhan akan menjadi fondasi yang memberi rasa aman bagi masyarakat untuk melangkah ke depan.Karena itulah, di balik setiap kebijakan ekonomi, terdapat satu hal yang paling mendasar yang harus diperhatikan semua pihak yaitu menjaga kepercayaan masyarakat agar ekonomi tetap stabil dan tumbuh berkelanjutan.