Ilustrasi Uang Yuan China. Foto: Southern Wind/ShutterstockPertumbuhan ekonomi China mencatat kinerja di atas ekspektasi pada kuartal pertama tahun ini, meskipun dibayangi dampak konflik global akibat perang di Iran.Mengutip BBC, Jumat (17/4), berdasarkan data resmi pemerintah, produk domestik bruto (PDB) China tumbuh 5 persen secara tahunan, melampaui perkiraan ekonom yang sebelumnya berada di kisaran 4,8 persen.Kinerja ini menjadi sinyal ketahanan ekonomi Negeri Tirai Bambu di tengah tekanan global, terutama gangguan pasokan energi akibat perang di Iran yang dimulai sejak 28 Februari 2026.Sektor manufaktur menjadi pendorong utama pertumbuhan, sementara ekspor khususnya kendaraan dan produk industri menjadi salah satu kontributor terbesar.“Ekspor mobil dan ekspor lainnya merupakan titik terang utama dalam data tersebut,” kata Kyle Chan dari Brookings Institution.Meski demikian, tekanan masih datang dari dalam negeri, terutama dari sektor properti yang terus melemah serta konsumsi yang belum pulih sepenuhnya.Di sisi eksternal, perang Iran mulai menunjukkan dampaknya terhadap perdagangan. Data terbaru menunjukkan pertumbuhan ekspor China melambat tajam menjadi 2,5 persen pada Maret 2026.Presiden Tiongkok Xi Jinping berdiri di dalam mobil untuk meninjau pasukan selama parade militer untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II, di Beijing, China, Rabu (3/9/2025). Foto: Tingshu Wang/REUTERSKenaikan harga energi global akibat ancaman Iran terhadap jalur strategis Selat Hormuz turut mendorong inflasi dan biaya produksi.Impor China bahkan melonjak hampir 28 persen pada periode yang sama, menekan surplus perdagangan menjadi sekitar USD 50 miliar, level terendah dalam lebih dari setahun.Ekonom dari Australian National University, Yixiao Zhou menilai dampak konflik belum sepenuhnya terasa dan berpotensi menekan kinerja ekonomi pada kuartal berikutnya.“Pertumbuhan ekspor pada akhirnya bergantung pada perekonomian mitra dagang," ujarnya.Selain faktor geopolitik, China juga menghadapi tantangan dari kebijakan perdagangan AS. Tarif sebesar 10 persen terhadap produk China masih berlaku dan berpotensi meningkat kembali dalam waktu dekat.Pemerintah China sendiri sebelumnya telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi tahun ini di kisaran 4,5-5 persen, sekaligus mendorong transformasi ekonomi melalui investasi di sektor teknologi dan peningkatan konsumsi domestik.