Ilustrasi campak pada orang dewasa. Foto: Shutter StockBayangkan malam biasa di sebuah rumah kecil pinggiran. Zahrotut Taubah, ibu 35 tahun, memeluk anaknya yang badannya panas seperti bara api. Wajah kecil itu penuh bintik-bintik merah. “Dok, anak saya kenapa ya? Saya takut vaksin soalnya tetangga bilang bisa bikin autis atau malah mati,” katanya dengan suara gemetar. Di kampungnya di Sumenep, Jawa Timur, gosip itu menyebar cepat seperti angin. Akhirnya, Zahrotut memilih diam saja. Kini, anaknya terbaring lemah karena campak – penyakit yang sebenarnya bisa dicegah dengan mudah. Cerita sedih seperti ini bukan cuma satu-dua keluarga. Tahun 2025 sampai awal 2026, Indonesia diguncang badai campak yang tak terduga. Bukan karena virus ganas baru, tapi karena kita sendiri yang mulai ragu-ragu. Kementerian Kesehatan bilang, ada hampir 64 ribu anak yang dicurigai kena campak sepanjang tahun lalu. Lebih dari 11 ribu yang benar-benar positif, dan 69 anak tak selamat. Baru dua bulan di 2026, sudah 10 ribu lebih kasus baru muncul, dan enam nyawa melayang. Kok bisa? Padahal Indonesia dulu hampir bebas campak. Vaksin MR (campak-rubella) sudah gratis di posyandu dan puskesmas. Cuma disuntik dua kali – umur 9 bulan dan 18 bulan – anak langsung aman. Tapi sekarang, Indonesia jadi nomor dua dunia soal kasus campak, cuma kalah sama Yaman yang lagi perang. Anak-anak kecil yang belum sempat divaksin jadi korban utama. Mereka demam tinggi, ruam merah, batuk parah, bahkan bisa kena radang paru atau gangguan otak. Lalu, apa yang salah? Jawabannya sederhana: hoaks dan gosip di HP. Malam-malam ibu-ibu buka TikTok atau WhatsApp, tiba-tiba muncul video: “Jangan vaksin! Anak saya langsung panas dan autis setelah itu!” Padahal, dokter dan ilmuwan sudah bukti ribuan kali: vaksin ini aman, sudah selamatkan jutaan anak di seluruh dunia. Tapi cerita menakutkan itu lebih enak didengar daripada fakta. Ada lagi yang bikin tambah susah. Banyak orang tua bilang, “Anak saya kelihatan sehat kok, buat apa vaksin?” Atau karena kesibukan cari nafkah, imunisasi jadi nomor sekian. Pandemi COVID dulu juga bikin ribet: puskesmas tutup, anak-anak banyak yang ketinggalan suntik. Sekarang cakupan vaksin nasional cuma 82 persen. Padahal butuh 95 persen supaya semua orang aman bareng (disebut herd immunity). Satu anak kena campak, bisa nularin ke 12-18 orang di sekitarnya. Gampang banget menyebar, apalagi pas musim mudik Lebaran nanti. Dokter Andi Saguni dari Kementerian Kesehatan bilang pelan, “Kasus mulai naik di Januari, tapi sekarang sudah turun karena kita kejar-kejar imunisasi. Tapi tetap hati-hati ya, mudik sebentar lagi, orang banyak bergerak.” Sementara itu, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia, dr. Piprim Basarah, tambah prihatin: “Ini bukan soal jarum suntik. Ini soal kepercayaan yang hilang. Hoaks sudah bikin orang tua takut pada ilmu yang sebenarnya menyelamatkan.” Tapi, jangan sedih dulu. Ada kabar baik! Petugas kesehatan sekarang gencar turun ke kampung-kampung, dari Sumatera sampai Sulawesi. Mereka datang ke rumah, jelasin dengan bahasa sehari-hari, dan ajak ibu-ibu ke posyandu. Di Gowa dekat Makassar, ada ibu yang dulu takut tapi sekarang bilang, “Lihat anak tetangga kena campak, saya langsung bawa anak saya vaksin. Takut banget kejadian serupa.” Campak ini seperti cermin kecil dari kehidupan kita sehari-hari. Kadang gosip di medsos lebih kuat daripada nasihat dokter. Tapi kita bisa ubah itu. Mulai dari rumah sendiri: cek imunisasi anak sekarang juga. Dosis pertama umur 9 bulan, kedua umur 18 bulan. Gratis! Kalau ragu, buka situs resmi Kemenkes atau Ayosehat.kemkes.go.id – di situ semua jelas, tanpa drama. Bayangkan anak-anak kita tumbuh tanpa takut ruam dan demam sia-sia. Mereka bisa sekolah, main, dan jadi generasi hebat Indonesia. Vaksin bukan musuh. Ia justru pelindung paling setia. Jadi, yuk, kita mulai dari sekarang. Bawa anak ke posyandu terdekat. Bagikan cerita ini ke keluarga dan tetangga. Karena setiap suntikan adalah pelukan cinta untuk masa depan mereka. Imunisasi lengkap: sederhana, gratis, dan bikin hati tenang. Anak sehat, Indonesia kuat!