Membangun Masyarakat Waras, Belajar dari Kasus Lahat

Wait 5 sec.

Ilustrasi (Foto: Generated AI/Pormadi)Publik dihebohkan dengan berita kasus tragis pembunuhan ibu kandung oleh anaknya sendiri di Lahat, Sumatera Selatan. Lebih memilukan lagi, tindakan keji itu dilakukan dengan mutilasi, dan dipicu oleh hal yang tampak “sepele” yaitu permintaan uang untuk judi online yang tidak dipenuhi.Apa makna kasus mutilasi ini? Di balik peristiwa ini, kita dihadapkan pada kenyataan yang jauh lebih dalam dan mengkhawatirkan—sebuah krisis moral, krisis relasi, dan krisis makna hidup di tengah masyarakat kita.Peristiwa ini bukan semata sebagai tindakan kriminal individual. Ia merupakan gejala sosial yang memperlihatkan bagaimana berbagai faktor, seperti teknologi, ekonomi, keluarga, dan nilai-nilai moral berkelindan dalam menghasilkan tragedi kemanusiaan.Candu Bagi PenggunaInilah yang harus disadari bahwa judi online merupakan salah satu pemicu utama yang berbahaya. Berbeda dengan bentuk perjudian konvensional, judi online hadir dengan akses tanpa batas: mudah, cepat, dan tersembunyi. Siapa pun, termasuk generasi muda, dapat terjerumus tanpa pengawasan yang memadai. Sistem permainan yang dirancang dengan mekanisme “imbalan acak” (random reward) membuat pengguna terus terdorong untuk bermain, bahkan ketika mereka mengalami kerugian besar. Dalam kondisi ini, judi tidak lagi menjadi hiburan, melainkan berubah menjadi candu.Data menunjukkan bahwa fenomena ini bukan kasus tunggal. Diperkirakan lebih dari 16 juta warga Indonesia terlibat dalam judi online, sementara sekitar 3,5 persen pengguna internet telah terpapar praktik ini (GoodStats, 2024). Dampaknya nyata, misalnya pada 2024, tercatat 2.889 kasus perceraian dipicu oleh judi, melonjak hampir 83 persen dibandingkan tahun sebelumnya (Databoks, 12/08/2025). Fakta-fakta ini menegaskan bahwa judi online bukan sekadar persoalan individu, melainkan ancaman serius bagi ketahanan keluarga dan moralitas sosial.Kecanduan ini membawa konsekuensi serius. Individu yang terjerat sering kali kehilangan kontrol diri, mengalami tekanan psikologis, dan pada titik tertentu, bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang.Dalam situasi seperti itu, nilai-nilai moral menjadi kabur. Relasi yang seharusnya dilandasi kasih dalam konteks hubungan antara anak dan ibu, dapat berubah menjadi relasi instrumental: orang lain dilihat bukan sebagai pribadi yang harus dihormati, melainkan sebagai alat untuk memenuhi keinginan.Rapuhnya Ikatan SosialDi titik inilah refleksi sosiolog Zygmunt Bauman menjadi relevan. Dalam karyanya tentang liquid modernity (2000), Bauman menyatakan bahwa masyarakat modern ditandai oleh cairnya nilai dan rapuhnya ikatan sosial. Dalam dunia yang “cair”, manusia cenderung mengejar kepuasan instan dan menghindari komitmen jangka panjang. Akibatnya, tanggung jawab moral terhadap sesama menjadi lemah. Relasi tidak lagi dilihat sebagai panggilan etis, tetapi sebagai sarana pemenuhan kebutuhan pribadi.Namun demikian, menyederhanakan persoalan ini hanya sebagai dampak judi online juga tidak cukup. Ada proses erosi moral yang berlangsung secara bertahap. Tidak ada manusia yang tiba-tiba menjadi pelaku kekerasan ekstrem. Biasanya, semuanya dimulai dari hal-hal kecil: kebiasaan berbohong, manipulasi, ketidakjujuran, hingga hilangnya empati. Dalam konteks ini, pemikiran Émile Durkheim tentang anomie—yakni kondisi ketika norma sosial melemah—menjadi penting. Durkheim mengingatkan bahwa ketika masyarakat kehilangan pegangan nilai, individu akan mudah terseret oleh hasrat yang tidak terkendali.Lebih jauh lagi, filsuf Hannah Arendt menawarkan perspektif yang menggugah melalui konsep the banality of evil (Arendt, 1963). Ia menegaskan bahwa kejahatan besar tidak selalu dilakukan oleh individu yang “jahat” dalam pengertian ekstrem, tetapi sering kali oleh orang biasa yang kehilangan kemampuan untuk berpikir secara moral.Di sisi lain, kita juga perlu melihat rapuhnya relasi dalam keluarga. Keluarga seharusnya menjadi ruang pertama dan utama dalam pembentukan karakter, tempat di mana nilai-nilai seperti kasih, hormat, dan tanggung jawab ditanamkan. Namun, dalam banyak kasus, relasi keluarga mengalami keretakan: komunikasi yang minim, kurangnya kedekatan emosional, dan lemahnya pengawasan.Fenomena ini semakin relevan jika dilihat melalui pemikiran Erich Fromm tentang dua orientasi hidup: having dan being (Erich Fromm, 1976). Fromm mengingatkan bahwa masyarakat modern cenderung terjebak dalam orientasi “memiliki”—mengumpulkan, menguasai, dan menikmati secara instan—daripada “menjadi”, yakni hidup dalam relasi yang bermakna dan bertanggung jawab.Dalam perspektif moral yang lebih luas, Paus Fransiskus juga mengkritik apa yang ia sebut sebagai throwaway culture, budaya membuang (Fratelli tutti, 2020). Dalam budaya ini, manusia cenderung memperlakukan orang lain secara instrumental: yang tidak berguna atau tidak memenuhi harapan akan disingkirkan.Pelajaran PentingPertanyaannya, apa yang bisa kita pelajari dari tragedi ini? Pertama, kita membutuhkan pendekatan yang menyeluruh (holistik). Penanganan judi online tidak bisa hanya mengandalkan penegakan hukum. Memang, negara harus tegas dalam memberantas platform judi ilegal dan memperkuat regulasi digital. Namun, langkah ini harus diimbangi dengan edukasi publik yang masif tentang bahaya kecanduan judi, terutama bagi generasi muda.Kedua, penguatan pendidikan karakter menjadi sangat mendesak. Pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada aspek kognitif atau akademik, tetapi juga harus menyentuh dimensi etika dan moral.Ketiga, peran keluarga harus direvitalisasi. Orangtua tidak cukup hanya menjadi penyedia kebutuhan material, tetapi juga harus hadir secara emosional dan moral dalam kehidupan anak.Keempat, komunitas dan institusi keagamaan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran moral.Pendek kata, kita harus jujur mengakui bahwa tragedi ini adalah cermin bagi kita semua. Ia memperlihatkan betapa rapuhnya moralitas ketika tidak ditopang oleh nilai, relasi, dan kesadaran yang kuat. Seperti diingatkan Bauman, dalam dunia yang cair, tanggung jawab moral tidak bisa lagi dianggap sebagai sesuatu yang otomatis—ia harus terus diperjuangkan.Belajar dari kasus ini, kita diingatkan bahwa membangun masyarakat yang sehat tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kerja bersama—negara, keluarga, sekolah, dan komunitas—untuk menjaga agar manusia tetap menjadi manusia: makhluk yang berakal budi, bermoral, dan mampu mengasihi.Jika tidak, tragedi serupa bukan tidak mungkin akan terus terulang, dengan bentuk yang mungkin berbeda, tetapi dengan akar persoalan yang sama: hilangnya arah dan nilai dalam kehidupan manusia.