F Word: Feminisme Tak Sama dengan Misandri

Wait 5 sec.

Ilustrasi pergerakan perempuan dilandasi paham feminisme (Sumber: Daniela Martinez via Unsplash)Kini, masyarakat Indonesia sudah mulai awam dengan sebuah gerakan feminisme yang rupanya telah berjalan sejak waktu yang begitu lama. Feminisme merupakan sebuah gerakan yang bertujuan untuk mengupayakan keadilan terhadap gender. Pada awal terbentuknya, feminisme tumbuh oleh adanya sebuah gerakan yang membatasi ruang gerak perempuan. Seiring perkembangannya, feminisme tidak hanya berfokus pada kesetaraan hak untuk perempuan, tetapi yang dilingkupi semakin luas. Bahkan mengenai hak laki-laki sekalipun. Namun, mengapa gerakan feminisme ini masih sering kali dianggap sebagai sebuah gerakan anti-laki-laki (misandri) atau men-hating?Feminisme semakin menjadi topik perdebatan dengan banyaknya anggapan di media sosial yang mengatasnamakan gerakan feminisme tetapi menjurus terhadap sikap misandri. Perlu ditekankan bahwa feminisme bukan sebuah gerakan misandri. Misandri sendiri merupakan lawan dari misogini. Jika misogini adalah sebuah gerakan yang mengagungkan laki-laki dengan tidak mengindahkan peran perempuan, maka misandri adalah sebaliknya. Misandri akan menganggap perempuan yang lebih memiliki peran daripada laki-laki sehingga dikaitkan dengan fenomena matriarki dan philogynist. Namun, feminisme yang sebenarnya tidak berjalan seperti itu. Feminisme tidak mengharapkan adanya superioritas perempuan, melainkan keadilan dan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki.Menurut Fiss (1994, hlm. 413), feminisme adalah sebuah pendapat yang berkaitan dengan gerakan sosial dan politik untuk mencapai kesetaraan pada perempuan. Feminisme dianggap sebagai sebuah ideologi yang memiliki pengaruh terhadap gerakan perempuan. Sementara itu, feminis sebagai orang yang bergerak dalam feminisme memiliki peran untuk melakukan proses presentasi diri serta mengaitkan arti tubuh dan sosial tentang “kewanitaan” (Delmar, 2018). Feminisme bukan sebuah ajang untuk menyebarkan kebencian, apalagi mendiskreditkan individu yang lain. Feminisme seharusnya menjadi sebuah ideologi yang dapat menciptakan suasana yang adil dan damai terhadap gender tanpa adanya diskriminasi ataupun superioritas. Namun untuk memahami feminisme secara lebih mendalam, diperlukan pula tentang awal dari feminisme itu sendiri. Hal ini agar tidak adanya konsep feminisme yang berkelindan dengan misandri.Feminisme yang Semakin KaburSetelah melalui perjalanan dan perkembangan yang begitu panjang, nilai dan arti feminisme ini mulai menjadi kabur. Meski masih banyak yang terus menyuarakan dan menggalakkan gerakan feminisme, tidak dapat dipungkiri bahwa terdapat banyak misintrepretasi yang beredar. Melalui misintrepretasi ini, gerakan feminisme mulai dipandang sebagai gerakan misandri. Bahkan tumbuh anggapan bahwa perempuan pemalas dan ingin selalu diistimewakan. Secara lebih singkat, ini membawa pada superioritas perempuan terhadap peran serta laki-laki.Kaburnya nilai yang diangkat oleh gerakan feminisme ini sangat disayangkan. Padahal, feminisme sendiri telah melebarkan fokus isu yang diangkat. Mulai dari kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan, pernikahan dini, hingga kekerasan seksual baik yang dialami oleh anak-anak, laki-laki, maupun perempuan. Hal ini juga telah menjadi perbincangan di kancah PBB dan semakin banyak tersebar dengan pidato yang disampaikan oleh Emma Watson dengan tajuk HeForShe. Mengutip dari laman UN Women (2014), Watson dalam pidatonya menyampaikan bahwa kesetaraan gender juga memerlukan peran laki-laki. Banyak laki-laki terkungkung dengan stereotip gender, tetapi tidak banyak orang yang mau mengubahnya atau sekadar membicarakannya. Tidak jarang, laki-laki merasakan ketidaksetaraan. Oleh karena itu, laki-laki dan perempuan harus merasa bebas untuk menjadi pribadi yang sensitif maupun menjadi kuat. Semakin banyaknya pengguna aktif media sosial, semakin banyak pula pro dan kontra terhadap gerakan feminisme. Banyak orang, terlebih perempuan yang semakin paham akan istilah dan teori yang terbentuk di Eropa ini. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak pula yang menganggap gerakan ini sebagai sebuah gerakan misandri. Para feminis juga seringkali dianggap memiliki standar ganda terhadap fenomena sosial yang berkaitan dengan gender. Beberapa bahkan mulai memberikan contoh perbandingan akan gerakan feminisme ini. “Jika perempuan ingin setara dengan laki-laki, seharusnya perempuan juga harus mau angkat galon,” “Kalau begitu, jika ada wajib militer, perempuan juga seharusnya ikut dong!” Kata-kata seperti ini acap kali ditemui ketika membahas tentang feminisme dan hak-hak perempuan. Namun apakah ini yang sebenarnya ingin disuarakan melalui feminisme?Feminisme sebagai sebuah gerakan yang meminta hak-hak perempuan, memiliki tujuan agar perempuan dapat melakukan apa yang diinginkan. Feminisme memberikan kesempatan bagi perempuan untuk menentukan pilihannya. Feminisme juga memberikan ruang bagi para perempuan untuk memiliki hak-hak yang adil. Sebagai contoh, perempuan perlu diberikan kesempatan untuk berkecimpung dalam kegiatan sosial maupun politik dalam kursi pemerintahan seperti halnya laki-laki. Perempuan seharusnya memiliki kesempatan untuk melakukan hal-hal yang disenangi tanpa adanya paksaan maupun diskriminasi. Perempuan bisa saja senang memasak, maka ia harus melakukannya oleh keinginan sendiri bukan karena memenuhi ekspektasi dan stereotipe masyarakat. Sebaliknya, perempuan bisa saja menjadi seorang pekerja karena menginginkannya dan pantas mendapatkan gaji yang layak. Perempuan bisa saja tetap tinggal di rumah, mengurus keluarga, dan menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya karena ia memang menginginkannya. Bukan karena paksaan atau penilaian orang lain. Kata kunci paling utama adalah memberikan perempuan kesempatan untuk melakukan sesuatu hal tanpa adanya kekangan maupun paksaan.Sayangnya, pengertian feminisme yang seperti inilah yang mulai kabur. Lantas digantikan dengan persepsi yang malah membuat feminisme ini dipandang buruk. F word, begitu feminisme disebut. Lahir atas anggapan buruk akan gerakan ini, "jangan menyebutnya atau kau akan mendapat serangan." Beberapa perempuan bahkan secara terang-terangan menyatakan bahwa tidak mendukung gerakan feminisme ini karena adanya stereotip bahwa feminis adalah perempuan yang malas. Keengganan melabeli diri sebagai feminis ini juga timbul karena adanya diskursus dan stereotipe bahwa feminis memiliki sifat yang mendominasi, agresif, intoleran, bahkan membenci laki-laki (Moi, 2006). Diskursus dan stereotipe ini contohnya adalah saat Pat Robertson menulis sebuah surat kepada pendukung organisasi evangelis Christian Coalition. Dilansir dari The Washington Post (1992), Robertson mengatakan bahwa feminisme merupakan sebuah agenda anti keluarga yang mendorong perempuan untuk meninggalkan suami mereka, membunuh anak-anak mereka, mempraktikkan ilmu sihir, menghancurkan kapitalisme, dan menjadi lesbian. Tentu makna ini sudah sangat menyimpang dengan arti feminisme yang sebenarnya. Beberapa pengguna media sosial mungkin menulis bahwa para feminis akan membenci perempuan-perempuan yang menjadi ibu rumah tangga dan senang menyiapkan bekal untuk keluarganya. Alih-alih membenci, pendekatan dengan feminisme justru menganggap bahwa hal tersebut adalah sesuatu yang benar. Tentu karena perempuan memiliki hak untuk memilih dan menentukkan sendiri apa yang diinginkan.Tidak dapat dipungkiri juga, kekaburan dari nilai feminisme membuat mereka yang melabeli diri sebagai feminis juga memiliki kebencian terhadap laki-laki. Entah secara sadar maupun tidak sadar. Hal ini pun kemudian menimbulkan fenomena baru. Dengan mencampur adukkan feminisme dengan gerakan misandri ini, maka akan timbul superioritas sehingga kesetaraan pun tidak akan tercapai. Maka fenomena ini melawan ideologi feminisme itu sendiri yang menginginkan adanya kesetaraan hak gender. Jika perempuan tidak ingin tinggal di lingkungan patriarki dan misogini, maka seharusnya mereka juga tidak mendukung misandri. Dengan begitu, harmoni dalam masyarakat pun akan tercipta tanpa adanya salah satu pihak superior. Pandangan buruk serta nilai dan batas yang kabur ini lantas memunculkan adanya gerakan anti feminisme. Hal ini tentu membawa kembali pada kemunduran terhadap keadilan peran dan hak perempuan. Oleh sebab itu, diperlukan revitalisasi terhadap nilai-nilai dan batas-batas dari feminisme itu sendiri. Tujuan dari revitalisasi ini adalah agar memperjelas hal yang ingin dicapai oleh feminisme itu sendiri sehingga tidak berkelindan dengan misandri atau men hating.