Ilustrasi: Balita hipotermia di Gunung Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Foto: Dawami Images/ShutterstockIDAI merespons kasus balita yang mengalami hipotermia saat diajak orang tuanya naik gunung di Gunung Ungaran, Jawa Tengah, pada Sabtu (11/4) lalu. Ketua Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI Dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subs. ETIA (K), mengingatkan bahwa daya tahan tubuh anak masih berkembang, kemampuannya sangat berbeda dengan orang dewasa.“Anak itu bukan dewasa kecil, jangan asumsikan anak sama daya tahannya dengan orang dewasa. Apalagi kalau membawa anak ke gunung karena anak sangat mudah kehilangan cairan tubuh,” kata dr Yogi dikutip dari Antara.Yogi mengatakan bahwa salah satu penyebab anak, khususnya pada bayi di bawah tiga tahun (batita) mudah mengalami hipotermia adalah pakaian yang basah akibat cuaca dalam waktu yang lama.Penanganan pertama yang dapat diberikan adalah dengan membuka baju anak dan keringkan tubuhnya. Pakaian yang basah akan mempermudah anak kehilangan panas yang berusaha dipertahankan oleh tubuh.Berikutnya, segera tempelkan tubuh anak dan orang tua dari kulit ke kulit (skin to skin), untuk menghangatkan anak secara perlahan. Menurutnya, suhu tubuh orang dewasa akan lebih tinggi sekitar 37 derajat celcius.“Kita lakukan dalam kondisi tubuh sama-sama kering ya. Teknik ini mirip dengan teknik Kangoroo Mother Care (KMC) yang banyak dikerjakan di negara-negara Afrika ya, kalau di Indonesia pada bayi-bayi prematur,” ujar Yogi.Orang tua kemudian dianjurkan untuk menutup bagian luar tubuh anak menggunakan kain yang kering. Adapun penggunaan alumunium foil juga diperbolehkan, namun cara itu ditujukan untuk mencegah anak kehilangan panas lebih lanjut.Hal lain yang perlu diperhatikan oleh orang tua saat anak mengalami hipotermia adalah memastikan anak tidak mengalami dehidrasi.Bagi orang tua yang baru ingin mulai memperkenalkan anak ke alam di kawasan gunung, dia mengimbau agar mulai melakukan latihan secara perlahan dan intensitas daki yang aman dan mudah diakses apabila perlu dievakuasi.“Jangan mulai dari naik gunung yang tinggi. Hiking dulu, pelan-pelan. Mungkin lihat kemampuan si anak tiap minggu dan sebagainya,” kata dia.Di sisi lain Ketua Pengurus Pusat IDAI DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K) menyayangkan terjadinya kasus hipotermia yang menimpa anak usia 1,5 tahun di Semarang, Jawa Tengah.Ketua Pengurus Pusat IDAI DR. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio (K) saat menyampaikan pentingnya memberikan pertolongan darurat pada anak dalam temu media di Jakarta, Senin (13/4/2026). Piprim menekankan orang tua harus menyadari dan mengutamakan keselamatan anak dalam setiap aktivitas. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum mengajak batita berkegiatan di alam luas karena pada usia itu terbilang rawan penyakit atau kondisi tubuh melemah.Misalnya, seperti mempersiapkan pakaian yang nyaman dipakai anak maupun mencermati medan lokasi yang dituju.“Tapi menurut saya tidak direkomendasikan membawa batita naik gunung dengan potensi yang kehujanan, basah, kuyup, atau kepanasan,” tambahnya.Sebelumnya, bayi perempuan berusia 1,5 tahun dikabarkan mengalami hipotermia ketika dibawa oleh orang tuanya untuk ikut mendaki Gunung Ungaran di Semarang, Jawa Tengah pada Sabtu (11/4).Diduga hipotermia terjadi akibat cuaca di kawasan pendakian tiba-tiba berubah menjadi ekstrem.Dalam video yang diunggah melalui Youtube @basarnasofficial pada Minggu (12/4), tim evakuasi melaporkan bahwa suhu tubuh bayi saat ditemukan dalam keadaan turun drastis dan kritis. Bayi terus menangis dan menunjukkan tanda kedinginan yang parah.Setelah dievakuasi dan mendapatkan penanganan dari tim SAR, kondisi bayi tersebut kembali normal secara perlahan.