Tren SNBT 2021-2025: Peminat Matematika hingga HI Turun, Bisnis Digital Melesat

Wait 5 sec.

Peserta mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2025 di Universitas Diponegoro (UNDIP), Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/4/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTOPelaksanaan SNBT (Seleksi Nasional Berdasarkan Tes) untuk masuk ke PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di Indonesia akan berlangsung pada 21-30 April 2026. Momen ini sangat penting sekaligus menegangkan bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.SNBT menjadi salah satu jalur untuk bisa meraih prodi di kampus negeri sesuai dengan yang diminati. Dari tahun ke tahun, peminat berubah, kursi juga berubah. Apalagi sejak 2023, jenjang diploma 3 (D3) mulai ditawarkan dalam skema SNBT ini Tim kumparan kemudian mencoba membedah tren program studi di SNBT Caranya dilakukan dengan scrapping data jumlah peminat program studi yang tersebar di PTN di Indonesia dari tahun ke tahun. menggunakan bahasa pemrograman python Scrapping data dilakukan pada website Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) yakni https://snpmb.id/. Namun, prodi yang kami ambil di sini adalah prodi Sarjana (S1) dan Sarjana Terapan (D4). Seorang peserta berdoa saat akan mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2025 di Universitas Diponegoro (UNDIP), Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/4/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTODalam analisis ini, terdapat 75 perguruan tinggi yang berpartisipasi dalam SNBT dengan ratusan program studi yang ditawarkan. Namun, penamaan program studi di masing-masing kampus tidak selalu seragam, meskipun secara substansi keilmuannya serupa.Sebagai contoh, program studi Sastra China di Universitas Indonesia (Unsoed) memiliki kesepadanan dengan Bahasa Mandarin di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Untuk menjaga konsistensi analisis, dilakukan pengelompokan atau standardisasi terhadap program studi yang memiliki kesamaan bidang keilmuan, meskipun berbeda dalam penamaan. Dengan demikian, program-program studi yang secara substansi identik dihitung sebagai satu kategori yang sama.Langkah ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai tingkat peminatan berdasarkan bidang studi, bukan semata-mata berdasarkan variasi nama yang digunakan oleh masing-masing perguruan tinggi.Hasilnya, beberapa program studi terkenal, seperti ilmu hubungan internasional (HI) hingga matematika mengalami penurunan minat yang cukup signifikan. Sementara itu, prodi seperti bisnis digital semakin diburu. Lantas, bagaimana tren peminat setiap prodi yang tersebar di kampus negeri di Indonesia?Deretan Prodi Umum yang Sepi PeminatDefinisi program studi umum yang kami gunakan adalah bila sebuah prodi ada di lebih dari 10 kampus. Matematika, misalnya, ada di 52 kampus. Maka, prodi itu diklasifikasikan sebagai prodi umum yang lazim ditemukan di berbagai PTN. Berdasarkan analisis kami, prodi matematika mengalami penurunan peminat yang cukup signifikan mulai dari 2021 hingga 2025. Pada 2021, jumlah peminat matematika yang tersebar di seluruh kampus negeri di Indonesia mencapai 11.433, lalu di 2022 peminat prodi matematika mengalami penurunan menjadi 9.653 peminat atau setara dengan 15,57 persen. Meski begitu, di tahun 2022 hingga 2023 tingkat peminat pada prodi matematika kembali mengalami penurunan yang signifikan. Dari 9.653 menjadi ke 6.851 atau penurunan yang terjadi mencapai 29,03 persen. Jika dari 2021 hingga 2025 peminat pada prodi matematika mengalami penurunan hingga 41,48 persen. Penurunan peminat pada prodi Matematika pun direspons Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Wening Udasmoro. Pihaknya memang mendengar bahwa siswa sekarang kurang berminat pada matematika. Menurutnya, penurunan minat pada prodi tersebut perlu disiasati dengan membuat prodi matematika menjadi fun (menyenangkan)."Jadi kita sedang berpikir, bagaimana menjadikan matematika ini mata kuliah yang fun menyenangkan. Dan itu harusnya dilakukan sejak pendidikan dasar dan menengah," jelas Wening kepada kumparan, Jumat (10/4). Wakil Rektor Pendidikan dan Pengajaran UGM Wening Udasmoro, Selasa (15/4/2025). Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparanMenurut Wening, membuat Matematika menjadi fun merupakan PR yang cukup berat. Matematika kerap dijadikan momok dan membuat stigma buruk Matematika melekat. "Saya pernah berbicara dengan Pak Dekan. Bagaimana membantu agar para dosen, guru itu membuat matematika fun, memahaminya itu ada korelasinya. Enggak hanya pakai cuma rumus-rumus. Ya oke, logika, tetapi bagaimana? Nah, ini mungkin saya kira perlu dipikirkan agar matematika itu tidak menjadi momok, ya, tidak menjadi hal yang dihindari, tapi itu adalah hal yang menyenangkan. Nah, ini saya kira perlu. Ini pekerjaan yang cukup berat ini," jelasnya. Wening menyebut prospek atau peluang pekerjaan matematika sebetulnya sangat tinggi sekali. Ahli kecerdasan buatan atau AI, kata dia, membutuhkan seorang ahli matematika. "Karena [siswa-siswa] belum memahami bahwa sebetulnya teknologi-teknologi masa depan itu tetap ada basisnya matematika tetap kuat, gitu kan. Coba lihat Iran itu. Itu kan orang-orang yang kuat science, matematikanya itu ahli-ahli.. Mereka sudah punya tradisi ilmu dasar yang sangat kuat, dan mereka teknologinya kuat," ungkapnya. KBRI Beijing bersama Dharma Wanita Persatuan (DWP) KBRI Beijing kenalkan tradisi jamu Indonesia kepada komunitas diplomatik dalam acara ASEAN Ladies Circle (ALC) di Wisma Duta Besar RI, Beijing, Jumat (31/10/2025). Foto: Dok. KBRI BeijingTak hanya itu, prodi yang seringkali memiliki keketatan yang tinggi seperti Ilmu Hubungan Internasional (HI) justru masuk dalam deretan prodi yang mengalami penurunan peminat. Pada 2021, peminat HI di seluruh PTN jumlahnya mencapai 21.631, lalu turun di tahun 2022 dengan jumlah peminat 19.054.Kemudian di 2023, peminat HI mengalami sedikit penurunan dengan jumlah 18.847. Lalu, naik sedikit di 2024 dengan jumlah 19.069 dan kembali mengalami penurunan pada 2025 dengan jumlah peminat hanya 16.213. Dari 2021 hingga 2025, peminat prodi hubungan Internasional mengalami penurunan hingga 25,05 persen. Salah satu prodi hubungan internasional yang mengalami tren penurunan peminat terbesar ada di di Universitas Gadjah Mada (UGM). Berdasarkan data jumlah peminat SNBT, pada 2021 peminat HI di UGM berada di angka 1.829, lalu 2022 jumlah peminat turun menjadi 1.459. Kemudian pada 2025, siswa yang berminat pada HI di UGM turun menjadi 1.248. Menurut Sekretaris Prodi S-1 HI UGM, Arindha Nityasari, penurunan peminat di HI ini dipengaruhi oleh ekosistem dengan skill yang lain. Ilustrasi kampus UGM. Foto: Reezky Pradata/Shutterstock"Jika memang ada penurunan, mungkin faktornya lebih ke ekosistem ya. Misalnya, dengan perkembangan dunia yang semakin pesat, muncul skillset baru. Calon mahasiswa pun mungkin menjadi terbagi populasinya dengan alternatif jurusan baru karena muncul skillset-skillset baru tersebut. Dengan demikian, penurunan minat ini dikarenakan faktor eksternal yakni perubahan situasi," jelas Arindha saat dikonfirmasi terpisah. Ia juga menjelaskan keberadaan program studi yang semakin beragam, membuat banyak siswa memiliki alternatif lain."Namun, saya tidak implicitly bilang kalau “berarti HI tidak update dengan perubahan dunia dong?” Yang saya maksudkan dengan argumen saya bahwa ada alternatif jurusan lebih banyak bagi siswa-siswa sekarang, sehingga jumlah populasi siswa sekarang terbagi ke jurusan yang lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya", katanya. Ilustrasi Jurnalis Perempuan. Foto: 2p2play/ShutterstockMenurut Arindha, terdapat beberapa prospek pekerjaan lulusan HI yang kurang diketahui publik. Selain menjadi seorang diplomat, mereka juga bisa menjadi peneliti hingga jurnalis. "Saya merasa masyarakat awam mungkin belum mengetahui bahwa menjadi peneliti, menjadi aktivis, menjadi akademisi, bahkan jurnalis sebagai suatu pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh lulusan HI. Di S1 HI UGM sendiri, profil lulusan kami meliputi 4 kategori: diplomat, profesi pada urusan transnasional, jurnalis, dan akademisi," jelas Arindha. Deretan Prodi Umum yang Banyak DiburuAda prodi umum dengan penurunan minat yang cukup kentara, ada juga deretan prodi umum yang peminatnya melonjak tajam dalam 5 tahun terakhir. Bisnis Digital jadi salah satu yang paling signifikan. Prodi ini mempelajari perencanaan hingga pengelolaan bisnis berbasis digital. Pada 2021, prodi bisnis digital di berbagai PTN menarik peminat sebanyak 4.779 siswa. Kemudian pada 2025, peminatnya melesat menjadi 15.887. Artinya, dari 2021 hingga 2025, peminat prodi Bisnis Digital mengalami peningkatan hingga 232,43 persen. Prodi lain seperti kebidanan juga mengalami persentase kenaikan yang besar. Pada 2021, peminat kebidanan dari berbagai PTN ada di angka 2.086. Sementara pada 2025, peminat kebidanan mencapai 5.070. Artinya ada kenaikan sebesar 143 persen. Prodi 'Langka' dengan Peminat yang TurunSelain prodi umum, kami juga menganalisis tren penurunan peminat prodi 'langka'. Prodi 'langka' yang kami maksud adalah prodi yang hanya berada di 6 hingga 10 PTN. Prodi 'Langka' dengan tren penurunan peminat terbesar ada pada pendidikan administrasi perkantoran. Prodi yang nantinya mencetak guru-guru SMK perkantoran itu pada 2021 ada di angka 6.135. Namun pada 2025, peminatnya turun menjadi 4045. Artinya terjadi penurunan hingga 34,07 persen. Kemudian ada seni rupa dengan penurunan sebesar 33,3 persen. Dari total peminat 928 di 2021 menjadi 619 peminat di 2025. Prodi ini hanya dimiliki oleh 7 PTN, seperti ISBI Aceh, ISBI Papua, hingga ISI Yogyakarta. Prodi pendidikan tata busanan tersebar di 8 PTN, salah satunya Universitas Negeri Surabaya (UNESA). UNESA bahkan menjadi pionir PTN yang membuka prodi sarjana pendidikan tata busana. Akan tetapi, pada tahun 2025 peminatnya turun hingga 33,09 persen. Dari 3.699 peminat di 2021 menjadi 2.475 peminat di 2025. Deretan Prodi 'Langka' yang Makin Banyak DiburuMenariknya, terdapat deretan prodi 'langka' yang justru mengalami lonjakan peminat. Salah satu yang paling mencolok ada pada prodi akuntansi sektor publik. Pada 2021, prodi ini hanya menarik peminat sebanyak 328, naik sedikit di 2022 sebanyak 400 peminat. Pada 2023, peminat akuntansi sektor publik kembali naik dengan jumlah 1.402. Jumlah peminat prodi ini melonjak tajam di 2024 mencapai 7.277 dan di 2025 peminatnya ada sebanyak 8.502. Artinya, dari 2021 hingga 2025 peminat prodi akuntansi sektor publik mengalami peningkatan hingga 2.492,07 persen. Banyaknya kampus yang membuka prodi ini mengakibatkan peminatnya jadi terus melesat.Ilustrasi Akuntan. Foto: ShutterstockPosisi kedua di susul oleh prodi animasi. Peminat prodi ini mengalami lonjakan peminat mencapai 1.305,74 persen terhitung dari 2021. Pada tahun 2021 hanya ada 122 total peminat dan 1 PTN yang membuka prodi ini yaitu Universitas Negeri Padang. Lalu, di 2025 sudah ada 7 PTN yang membuka prodi ini seperti ISI Surakarta dan ISI Yogyakarta. Sehingga total peminat prodi animasi mencapai 1.715 pada 2025. Selain kedua prodi tadi, prodi mengenai budaya mandarin atau China juga mengalami peningkatan. Prodi bahasa mandarin mengalami peningkatan 515,87 persen dan prodi pendidikan bahasa mandarin mencapai 124,79 persen. Untuk bahasa mandarin hanya terdapat 8 PTN yang membuka prodi ini, salah satunya Universitas Indonesia. Sedangkan untuk prodi pendidikan bahasa mandarin hanya berada di 7 PTN, salah satunya Universitas Sebelas Maret. Salah satu kampus negeri yang menyediakan prodi akuntansi sektor publik adalah Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Sebelumnya, prodi tersebut ada untuk jenjang diploma 3. Kemudian, Akuntansi Sektor Publik berubah menjadi jenjang Sarjana Terapan atau Diploma 4. Kaprodi Akuntansi Sektor Publik UNJ, Hanifah Nasution. Foto: Dok. PribadiMenurut Kaprodi Akuntansi Sektor Publik UNJ, Hanifah Nasution, peminat bertambah salah satunya karena jenjang prodi yang sudah berubah menjadi sarjana terapan (Diploma 4). "Nah mungkin faktor pertama yang membuat peminat akuntansi sektor publik ada dari peminat akuntansi sendiri. Kemudian, dia bisa punya pilihan kedua di akuntansi sektor publik, saat ini seperti itu ya. Terus juga yang kedua minat masyarakat terhadap jalur vokasi kan meningkat ya," tegas Hanifah kepada kumparan, Jumat (10/4). Selain itu, peningkatan peminat Akuntansi Sektor Publik di UNJ juga dipengaruhi keunggulan kampus. "Jadi sekarang sarjana terapan menjadi pilihan masyarakat, selain menjadi sarjana, karena kan branding-nya adalah sarjana terapan itu lulus langsung kerja gitu ya. Jadi prospeknya meningkat di sarjana terapan gitu. Ketiga juga alhamdulillah akreditasi kami juga sudah unggul ya. Jadi itu mungkin menjadi pilihan dari masyarakat," tegas Hanifah.Hanifah kemudian menjelaskan prospek lulusan dari prodi akuntansi sektor publik. Beberapa di antaranya bahkan berhasil tembus di salah satu perusahaan akuntan publik multinasional atau dikenal dengan Big 4 Company. Ilustrasi Deloitte. Foto: Shutterstock"Alumni-alumni kita sudah ada yang diterima kalau mayoritas kita di Kantor Akuntan Publik ya saat ini. Kantor Akuntan Publik ada beberapa yang sudah diterima di Big 4 seperti kita ada di alumni kita di Deloitte," jelas Hanifah. "Terus juga ada di KAP BDO sampai Nexia gitu. Nah selebihnya, kita juga ada yang di pemerintahan, seperti kementerian walaupun mungkin ada yang PNS, ada yang masih P3K gitu. Ada juga yang di BUMN, seperti PT Pelni, Garuda Indonesia gitu. Jadi sudah menyebar baik yang publik maupun yang sektor privat," sambungnya. Selain akuntansi sektor publik, prodi sains data juga muncul sebagai prodi 'langka' yang kini banyak diburu. Pada 2021, peminat di prodi ini hanya berada di angka 567, lalu 2022 naik sedikit dengan jumlah 765. Kemudian, peminat sains data di 2023 melonjak tajam di angka 2.597 dan sedikit turun di 2024 dengan jumlah 2.189. Peminatnya kembali naik di 2025 sebanyak 2.822. Artinya, dari 2021 hingga 2025 peminat prodi Sains Data mengalami peningkatan hingga 397,71 persen. Kata Guru BK soal Minat Siswa SMAGuru Bimbingan dan Konseling, SMA Labschool Kebayoran, Muhammad Fadil, S.Pd. Foto: Dok. PribadiMenurut Guru Bimbingan dan Konseling SMA Labschool Kebayoran, Muhammad Fadil, kurangnya minat siswa SMA untuk memilih HI dan Matematika di tempatnya mengajar terjadi karena proses meraih karier yang dirasa irasional. "Kasus HI dan Matematika turun selama menangani konsultasi dengan siswa dan orang tua ada beberapa indikator, yaitu profesi karier yang kurang menjanjikan/lapangan pekerjaannya terlalu umum. Untuk mencapai puncak karier dirasa irasional karena peluangnya kecil. Dipandang kurang bergengsi pekerjaan yang akan ditekuninya dan Ada alasan realistis perihal kesejahteraannya yang kurang maksimal," jelas Fadil kepada kumparan, Senin (13/4). Ia juga menyebut beberapa prodi yang justru paling banyak dipilih siswanya dalam 3 tahun terakhir. Mulai dari kedokteran, rumpun teknik, komunikasi, hukum hingga psikologi . "⁠⁠Sejauh ini dalam 3 tahun terakhir minat dan prodi siswa yang relatif sama, yaitu kedokteran, rumpun teknik, ilmu komunikasi, ilmu hukum, psikologi, FEB, farmasi. Pilihan universitas juga relatif sama yaitu, UI, ITB, UNPAD, UGM," kata Fadil. Ilustrasi suasana Ospek UI di Balairung. Foto: Dok. IstimewaSebagai Guru Bimbingan dan Konseling, Fadil juga menjelaskan cara mencocokkan pilihan program studi siswa untuk meraih Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Selain passing grade, sekolah juga sudah melakukan minat dan bakat siswanya sejak duduk di kelas 10. "Kami selalu mencoba melihat data berdasarkan tes minat/bakat saat kelas 10, nilai akademik, proses belajar di kelas, dan komunikasi orang tua. Untuk passing grade memang masih menjadi patokan untuk mengukur usaha siswa dan strategi dalam menjawab soal. Namun kami lebih memprioritaskan kesiapan mental dan tujuan profesi jangka panjangnya," jelasnya.