Ketum TP PKK Tri Tito Karnavian Serukan Pencegahan Perilaku Kekerasan

Wait 5 sec.

Ketua Umum (Ketum) Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Tri Tito Karnavian saat mengunjungi SMA Negeri 1 Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (16/4/2026). Foto: Kemendagri RIKetua Umum (Ketum) Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Tri Tito Karnavian menyerukan upaya pencegahan kekerasan saat mengunjungi SMA Negeri 1 Atambua, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (16/4/2026).Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak para pelajar untuk berperan aktif mencegah berbagai bentuk kekerasan, khususnya terhadap kelompok rentan seperti perempuan dan anak, baik yang bersifat ucapan maupun tindakan langsung.Pasalnya, berdasarkan data Komnas Perempuan, Tri menyebut kekerasan terhadap perempuan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada 2023 tercatat sebanyak 289.111 kasus kekerasan terhadap perempuan. Angka ini meningkat menjadi 330.097 kasus pada 2024. Selanjutnya pada 2025, meningkat 14,07 persen menjadi 376.529 kasus.“Paling tidak kalau bisa meredam satu, mencegah satu kekerasan, satu orang, ada 150 kasus yang bisa kita cegah. Kalau misalnya ini dilaksanakan di seluruh provinsi, kabupaten, yang jumlahnya sekitar 514 [kabupaten/kota]. Bayangin sudah setengah juta kita cegah,” katanya saat melakukan Sosialisasi Perlindungan terhadap Perempuan dan Anak dari Tindak Kekerasan Fisik dan Verbal.Tri menjelaskan, program PKK yang dijalankan kali ini merupakan upaya membangun karakter, baik pada anak maupun orang tua, melalui edukasi berbagai persoalan yang masih terjadi di tengah masyarakat. Pasalnya, masih terdapat orang tua yang karakternya belum sesuai dengan yang diharapkan sehingga perlu penguatan melalui sosialisasi tersebut.“Tentunya kita ingin juga tidak terjajah dengan adanya budaya kekerasan, bentuk apa pun. Tidak hanya di rumah, di luar, di sekitar kita, di sekolah, dan lain-lain,” tambahnya.Menurutnya, karakter yang kuat, tangguh, dan berintegritas tinggi seperti jujur, disiplin, dan bertanggung jawab menjadi bekal penting dalam menghadapi berbagai tantangan. Dengan ilmu, karakter, dan kepercayaan agama yang baik, seseorang akan lebih kuat. Terlebih di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, yang disebut dengan istilah “generasi stroberi”, yaitu generasi yang dianggap rapuh, sensitif, dan mudah menyerah dalam menghadapi tekanan mental.“Jangan menjadi generasi stroberi seperti itu, harus menjadi generasi yang kuat. Yang dihempas apa pun, di tengah badai apa pun harus tetap kuat. Nah ini, nanti ajak teman-temannya bisa untuk menjadi generasi yang mampu menghadapi segala tantangan,” tegasnya.