Eksplorasi Sinema Para Perasuk: Menilik Pesta Kerasukan sebagai Katarsis dan Ruang Pelarian di Desa Latas

Wait 5 sec.

Grameds, kamu pasti langsung bisa merasakan energi yang berbeda saat menonton salah satu dari atraksi kuda lumping, barongan, ataupun tari kecak—beberapa atraksi yang menghadirkan kerasukan sebagai bagian dari pertunjukannya. 👹✨Di samping unsur klenik yang menyertainya, pertunjukan seperti ini juga turut mendatangkan hiburan yang nyata. Orang berbondong-bondong datang, khidmat menyaksikan, lalu tenggelam dalam pertunjukan yang magis itu.Di titik ini, aksi kerasukan rasanya jadi punya makna yang lebih luas. Selain menjadi ruang untuk bersenang-senang, pertunjukan itu juga jadi cara melepas hal-hal yang selama ini dipendam. Emosinya ikut mengalir, tidak cuma terlihat di tubuh para pemain, tapi juga terasa sampai ke penonton.Nah, premis kekuatan katarsis itulah yang mendasari film terbaru besutan Wregas Bhanuteja, Para Perasuk, yang akan segera rilis di layar lebar.Film ini mengajak kita melihat sesuatu yang sudah akrab, tapi dengan rasa yang lebih dalam. Ada sisi yang perlahan dibuka, memperlihatkan apa yang sebenarnya terjadi di balik pertunjukan itu.So, kalau kamu penasaran seperti apa keseruan atraksinya, mari kita bahas filmnya lebih lanjut! 🐉Begini Sinopsisnya!“Udah bertahun tahun, pesta sambetan ada di Kampung Latas. Warga bakalan kesambet sama dua puluh roh binatang.”“Perasuk bakal bikin alam sambet buat muasin para warga.”Di Desa Latas, sebuah wilayah kecil di pinggiran kota, pesta kerasukan sudah jadi tradisi turun-temurun, sekaligus jadi hiburan yang ditunggu warga setiap waktunya tibaCerita berpusat pada Bayu, seorang pemuda yang punya tekad besar untuk menjadi Perasuk Utama.Di saat yang sama, mata air keramat yang jadi sumber kekuatan para Perasuk mulai terancam digusur.Bayu melihat satu jalan keluar. Ia ingin menggelar pesta besar-besaran untuk mengumpulkan dana demi menebus kembali tempat itu.Akan tetapi, perjalanannya tidak selalu berjalan mulus, Bayu sadar bahwa ambisi saja tidak cukup buat menjadikannya Perasuk sejati, apalagi buat menyelamatkan desa yang ia cintai.Berakar dari Obsesi"Sambetan itu kan bikin kita ngerasain apa yang nggak bisa kita rasain di dunia nyata. Bisa bikin orang yang sedih jadi baikan."Di balik ceritanya, Wregas Bhanuteja menyisipkan sesuatu yang cukup personal. Ia melihat dirinya sebagai sosok yang mudah terdorong oleh ambisi. Dalam banyak momen, dorongan itu bisa berubah jadi obsesi yang menyita perhatian sepenuhnya.Saat terlalu fokus mengejar sesuatu, hal-hal lain sering terlewat. Proses yang seharusnya dinikmati malah terasa menekan. Sensasinya mirip seperti “kerasukan”, ketika diri sendiri terasa diambil alih oleh satu tujuan.Pengalaman itu diterjemahkan ke dalam karakter Bayu. Ia punya peran untuk menghibur orang lewat pesta kerasukan, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Bayu terjebak dalam ambisinya sendiri, sampai perlahan menjauh dari orang-orang terdekatnya. Dari ayahnya, teman-temannya, hingga lingkaran yang selama ini ada di sekitarnya.Bedanya, Wregas adalah sutradara di dunia nyata, sementara Bayu adalah Perasuk di dunia ceritanya.Baca juga: Hantu Menakutkan Itu Bernama Sistem Penjara! Ghost in the Cell Siap Bikin Kamu Diam TerperangahLatas: Desa Fiksi, Ruang Tanpa BatasLewat film ini, Wregas membangun dunia yang sepenuhnya fiksi. Desa Latas hadir sebagai ruang yang lepas dari batas realitas, memberi kebebasan untuk mengeksplorasi banyak hal tanpa terikat aturan tradisi yang sudah ada.Kebebasan itu terasa di berbagai elemen. Mantra yang digunakan tidak diambil dari tradisi tertentu, melainkan diciptakan sendiri dengan pendekatan suara-suara binatang seperti kera, macan, dan lainnya.Gerakan tariannya juga dirancang dari nol. Tim koreografer mengembangkan gerak yang lebih liar dan fleksibel, mendekati gestur hewan daripada tarian tradisional pada umumnya.Musiknya ikut bergerak di jalur yang sama. Ada campuran gitar listrik, selompret, dan tamtam yang berpadu tanpa mengikuti pakem tertentu. Hasilnya terasa unik, seperti ritual yang benar-benar punya dunianya sendiri.Pendekatan ini punya semangat yang mirip dengan dunia dalam Dune, yang membangun semestanya dari awal dan memberi ruang luas untuk eksplorasi. Di Para Perasuk, Latas jadi panggung tempat semua elemen itu bertemu dan membentuk pengalaman yang terasa berbeda.Baca Kisah Seru Lainnya di Sini!Ragam Roh dalam Dunia Para PerasukSalah satu hal yang bikin dunia Para Perasuk terasa hidup adalah keberadaan roh-rohnya.Jumlahnya tidak sedikit, ada sekitar 20 roh yang masing-masing punya “fungsi” tersendiri saat membawa para pelamun masuk ke alam sambet.Menariknya, roh-roh ini tidak hadir sebagai sosok yang menakutkan, tapi lebih seperti 'persona' dalam sebuah pertunjukan.Setiap roh membawa efek yang berbeda, seolah-olah mereka adalah elemen yang menyempurnakan pengalaman para penonton yang ikut larut di dalamnya.“Situ bisa bawa Roh Bulus buat bikin pelamun kebal, bawa Roh Semut biar mereka makan enak, Roh Kebo yang bikin mereka segar; atau Roh binatang lain yang bisa bikin pelamun kita puas.”Dan itu baru sebagian. Masih ada banyak roh lain dengan efek yang beragam, masing-masing dirancang untuk memenuhi “kepuasan” para pelamun di alam khayal yang diciptakan para Perasuk. View this post on Instagram A post shared by Wregas Bhanuteja (@wregas_bhanuteja)Ini Deretan Cast Filmnya!Deretan pemain di Para Perasuk ikut menghidupkan dunia Latas dengan karakter yang terasa kuat dan berlapis. Masing-masing membawa energi tersendiri, membuat cerita tentang kerasukan ini terasa semakin intens dan berwarna.Biasa tampil klimis, di sini kita bakal melihat Angga Yunanda yang 'kerasukan' total: rambut gondrong, tatapan liar, dan gestur yang bikin merinding!Berikut adalah deretan cast yang ikut merasuki filmnya:Anggun Cipta sebagai Guru AsriAngga Yunanda sebagai BayuMaudy Ayunda sebagai LaksmiChicco Kurniawan sebagai PawitBryan Domani sebagai AnantoIndra Birowo sebagai Bapak BayuGanindra Bimo sebagai FahriCinta Laura,Ivonne Dahler,Ocha Putri sebagai Sepupu BayuWal Akhir, Dengan konsep meriah yang dihadirkan dalam Para Perasuk, hal tersebut bikin pesta kerasukan terasa seperti pengalaman yang terarah. ⛷Bukan sekadar trance yang terjadi begitu saja, tapi perjalanan rasa yang disusun dengan tujuan tertentu. Ada sensasi yang dibangun, ilusi yang dimainkan, sampai akhirnya menghadirkan bentuk “kesenangan” yang ingin dicapai para pelamun.Di titik ini, dunia Para Perasuk terasa punya identitas sendiri. Kerasukan tidak lagi hadir sebagai sesuatu yang liar dan tak terarah, tapi berubah jadi pertunjukan yang punya sistem, aturan, dan cara kerjanya sendiri.Menariknya, di balik semua itu, film ini juga menyinggung hal yang terasa dekat dengan kehidupan sekarang. Isu penggusuran yang mengancam ruang hidup dan tradisi jadi latar yang tidak bisa diabaikan. Ada tarik-menarik antara mempertahankan yang sudah ada dengan perubahan yang terus datang, sesuatu yang mungkin juga sering kita lihat di sekitar.Kalau kamu lagi cari tontonan yang terasa beda tapi tetap dekat dengan realitas dan budaya sendiri, film ini rasa-rasanya layak banget buat kamu intip lebih jauh, Grameds.Para Perasuk sendiri rencananya bakalan tayang mulai 23 April 2026 di bioskop seluruh Indonesia. So, kalau penasaran, tunggu sebentar lagi dan langsung saja rasakan pertunjukannya di layar lebar begitu harinya tiba. 🎥🎫Rasuki Dirimu dengan Bacaan yang Relevan! Kalau kamu tertarik dengan dunia Para Perasuk yang dekat dengan budaya, tapi tetap terasa relevan dengan kehidupan sekarang, beberapa buku ini bisa jadi lanjutan yang pas. Masing-masing membawa nuansa lokal yang kuat, dengan cerita yang menggali sisi manusia dari sudut yang berbeda. Yuk, kepoin di sini!Ronggeng Dukuh Paruk – Ahmad TohariTemukan Kisahnya di Sini!Di Dukuh Paruk, kehadiran ronggeng bukan sekadar hiburan, tapi juga identitas. Saat Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, desa yang lama terpuruk itu kembali hidup. Ia jadi pusat perhatian, dipuja banyak orang dari berbagai lapisan. Ada daya tarik, ada kuasa, dan ada harapan yang menggantung pada sosoknya.Namun, semuanya berubah ketika peristiwa politik 1965 menghantam. Dukuh Paruk hancur, dan Srintil harus menghadapi kenyataan pahit sebagai tahanan. Dari situ, ia mulai melihat hidup dengan cara yang berbeda. Ada keinginan untuk lepas dari masa lalu dan menjalani hidup yang lebih utuh, meski jalan yang harus ditempuh tidak pernah benar-benar mudah. Lelaki Harimau – Eka KurniawanTemukan Kisahnya di Sini!Pada lanskap yang sureal, Margio adalah bocah yang menggiring babi ke dalam perangkap. Namun, di sore ketika seharusnya rehat menanti musim perburuan, ia terperosok dalam tragedi pembunuhan paling brutal. Di balik motif-motif yang berhamburan, antara cinta dan pengkhianatan, rasa takut dan berahi, bunga dan darah, ia menyangkal dengan tandas. “Bukan aku yang melakukannya,” ia berkata dan melanjutkan, “Ada harimau di dalam tubuhku.” Kerumunan Terakhir – Okky MadasariTemukan Kisahnya di Sini!Novel ini menangkap kegelisahan hidup di tengah zaman yang bergerak cepat. Semua orang seperti terus berjalan, berpindah dari satu kerumunan ke kerumunan lain, tanpa benar-benar tahu ke mana arah yang dituju.Di balik hiruk-pikuk itu, ada rasa asing yang pelan-pelan muncul. Masa lalu terasa jauh, sementara masa depan belum jelas bentuknya. Cerita ini mengajak melihat bagaimana manusia mencoba bertahan di tengah perubahan yang tidak pernah memberi waktu untuk berhenti. Mereka Bilang, Saya Monyet! – Djenar Maesa AyuTemukan Kisahnya di Sini!Buku Mereka Bilang, Saya Monyet! Karya Djenar Maesa Ayu menjadi sebuah karya yang langsung merebut perhatian pembaca sejak pertama kali diterbitkan. Kumpulan cerita ini dikenal dengan gaya yang berani dan lugas. Penggambaran sosok monyet yang merupakan bahasa metafora yang ingin ditonjolkan bahwa manusia hendaklah bertindak layaknya manusia; Tidak seperti binatang, yang tidak bisa berpikir mana yang benar dan mana yang salah. Tidak seperti binatang, yang hanya menuruti nafsu tanpa banyak pertimbangan. Tidak juga seperti binatang, yang tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah ada di hadapannya. Bromocorah – Mochtar LubisTemukan Kisahnya di Sini!Bromocorah berisi dua belas cerita pendek yang memotret kehidupan manusia dengan jeli. Karakter-karakternya datang dari berbagai latar, membawa cerita tentang kesalahan, stigma, dan cara masyarakat memandang seseorang yang dianggap “cacat”.Di balik itu, ada refleksi tentang kesempatan untuk berubah. Cerita-ceritanya menunjukkan bahwa manusia selalu punya ruang untuk memperbaiki diri, meski sering kali terhalang oleh penilaian orang lain. Disampaikan dengan gaya yang tajam, buku ini terasa relevan untuk melihat kembali bagaimana kita memandang sesama. Baca juga: Segera di Netflix! Ini Alasan Kenapa 'Remarkably Bright Creatures' Bakal Jadi Film Terhangat Tahun IniSambil nunggu 23 April buat nonton Para Perasuk di bioskop, mending asah 'insting' kamu lewat buku-buku di atas. Mumpung lagi ada promo spesial di Gramedia.com, jangan sampai koleksi incaranmu habis duluan ya! 🛒📚✨Oh iya, jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵Temukan Semua Promo Spesial di Sini!