Ilustrasi udang. Foto: Jamal Ramadhan/kumparanIndonesia dikenal sebagai salah satu kekuatan utama dalam industri udang global. Komoditas ini secara konsisten menjadi tulang punggung ekspor perikanan nasional dengan nilai yang terus menunjukkan tren positif. Pada tahun 2025, nilai ekspor perikanan Indonesia mencapai lebih dari Rp105 triliun, dengan udang sebagai kontributor utama (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2025). Bahkan, Indonesia menempati posisi lima besar eksportir udang dunia dengan pangsa pasar sekitar 6 persen (ANTARA, 2025).Namun di balik capaian tersebut, terdapat sebuah paradoks yang jarang disorot secara mendalam. Industri udang Indonesia tampak kuat di pasar global, tetapi belum sepenuhnya kokoh di pasar domestik. Ketika ekspor mengalami tekanan, harga di tingkat tambak langsung terpuruk. Ketika pasar global bergejolak, petambak menjadi pihak pertama yang menanggung risiko.Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: Apakah selama ini industri udang Indonesia terlalu berorientasi keluar dan mengabaikan potensi besar di dalam negeri?Ilustrasi udang. Foto: Dokumentasi pribadiKetergantungan Ekspor yang RentanEkspor selama ini menjadi mesin utama pertumbuhan industri udang Indonesia. Amerika Serikat masih menjadi tujuan utama dengan kontribusi lebih dari 60 persen terhadap total ekspor nasional (KKP, 2025). Pada tahun yang sama, ekspor udang Indonesia ke Amerika Serikat bahkan sempat tumbuh sekitar 16,3 persen secara tahunan, menunjukkan bahwa permintaan global masih relatif kuat (Eksplora, 2025).Namun, ketergantungan yang tinggi ini sekaligus menciptakan kerentanan struktural. Industri udang nasional sangat sensitif terhadap dinamika eksternal, mulai dari kebijakan perdagangan hingga standar mutu yang semakin ketat.Kasus penolakan udang Indonesia di pasar Amerika Serikat pada tahun 2025 menjadi ilustrasi nyata. Terjadi peningkatan signifikan dalam kasus penolakan produk akibat isu kontaminasi dan standar keamanan pangan, yang berdampak langsung pada reputasi industri nasional (Suhana, 2026).Dampaknya tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga sistemik. Penolakan tersebut meningkatkan biaya kepatuhan, memperketat pengawasan, dan menciptakan ketidakpastian bagi eksportir.Di sisi lain, volume ekspor udang Indonesia cenderung stagnan dalam beberapa tahun terakhir meskipun produksi terus meningkat (Allfishnews, 2026). Hal ini menunjukkan bahwa pasar ekspor tidak selalu mampu menyerap peningkatan produksi secara berkelanjutan.Pasar Domestik yang Belum Tumbuh OptimalDi tengah dominasi ekspor, pasar domestik justru belum berkembang secara optimal. Konsumsi udang di dalam negeri masih relatif rendah dibandingkan komoditas ikan lainnya. Udang masih diposisikan sebagai produk premium, bukan sebagai sumber protein harian masyarakat.Padahal, potensi pasar domestik Indonesia sangat besar. Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa dan pertumbuhan kelas menengah yang terus meningkat, peluang peningkatan konsumsi udang sebenarnya sangat terbuka.Permasalahan utama terletak pada belum terbentuknya ekosistem pasar yang kuat. Infrastruktur rantai dingin (cold chain) masih terbatas, distribusi belum merata, dan produk yang beredar masih didominasi bentuk mentah. Produk olahan bernilai tambah seperti udang beku siap masak atau siap konsumsi masih belum berkembang luas.Akibatnya, ketika ekspor melemah, tidak ada mekanisme penyangga yang cukup kuat di dalam negeri. Kelebihan pasokan langsung menekan harga di tingkat petambak, menciptakan siklus kerugian yang berulang.Momentum yang Belum DimanfaatkanIlustrasi udang. Foto: ShutterstockIronisnya, tren global justru menunjukkan peluang besar bagi komoditas udang. Secara internasional, udang semakin diposisikan sebagai sumber protein sehat yang kaya nutrisi, rendah kalori, dan mengandung asam lemak omega-3 (Coherent Market Insights, 2026). Permintaan global meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pola konsumsi sehat.Namun, momentum ini belum sepenuhnya dimanfaatkan di pasar domestik. Udang belum berhasil diposisikan sebagai bagian dari konsumsi rutin masyarakat Indonesia.Padahal, peningkatan konsumsi domestik meskipun dalam skala kecil dapat memberikan dampak signifikan. Jika konsumsi udang meningkat satu kilogram per kapita per tahun saja, potensi penyerapan tambahan dapat mencapai ratusan ribu ton produksi nasional.Ini bukan sekadar peluang ekonomi, melainkan juga strategi ketahanan industri.Peran Strategis Pasar LokalDalam konteks ini, pasar domestik memiliki peran yang sangat strategis.Pertama, sebagai stabilisator harga. Pasar lokal dapat menjadi penyeimbang ketika ekspor mengalami penurunan, sehingga fluktuasi harga di tingkat tambak dapat diminimalkan.Kedua, sebagai pengurang risiko global. Diversifikasi pasar tidak hanya berarti memperluas tujuan ekspor, tetapi juga memperkuat pasar dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara tertentu.Ketiga, sebagai pendorong nilai tambah. Pasar domestik membuka peluang pengembangan produk olahan, seperti udang beku, siap masak, dan siap konsumsi, yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.Keempat, sebagai penggerak ekonomi nasional. Penguatan pasar domestik akan mendorong tumbuhnya sektor hilir, termasuk UMKM pengolahan, distribusi, dan ritel.Tantangan yang Harus DihadapiPenguatan pasar domestik tentu tidak tanpa hambatan. Harga udang yang relatif lebih tinggi dibandingkan ikan lain menjadi salah satu kendala utama. Selain itu, tingkat literasi konsumen mengenai manfaat gizi udang masih terbatas.Di sisi lain, keterbatasan infrastruktur logistik—khususnya rantai dingin—menyebabkan distribusi produk menjadi kurang efisien. Hal ini berdampak pada harga jual yang tidak kompetitif.Aspek lain yang tak kalah penting adalah branding. Udang belum memiliki positioning yang kuat sebagai bagian dari konsumsi harian masyarakat, berbeda dengan komoditas protein lain, seperti ayam dan telur.Strategi Penguatan Pasar LokalIlustrasi udang air tawar. Foto: ShutterstockUntuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan pendekatan yang komprehensif.Dari sisi pemerintah, diperlukan kebijakan yang mendorong konsumsi domestik, seperti kampanye konsumsi udang nasional, dukungan terhadap pengembangan rantai dingin, serta insentif bagi industri pengolahan.Dari sisi pelaku usaha, diperlukan perubahan strategi dari penjualan produk mentah menuju produk bernilai tambah. Penguatan brand lokal, penetrasi ke retail modern, serta pemanfaatan platform digital menjadi kunci penting.Sementara itu, dari sisi industri, integrasi hulu–hilir perlu diperkuat untuk menciptakan efisiensi dan meningkatkan daya saing produk di pasar domestik.Implikasi ManajerialPerubahan arah ini membawa implikasi manajerial yang signifikan bagi pelaku usaha.Pertama, diperlukan reorientasi strategi bisnis dari yang semula berfokus pada ekspor menjadi pendekatan dual market (ekspor dan domestik).Kedua, perusahaan perlu mengembangkan kapabilitas pemasaran, termasuk branding, segmentasi pasar, dan distribusi.Ketiga, investasi dalam cold chain dan pengolahan produk menjadi semakin penting untuk menjaga kualitas dan memperluas jangkauan pasar.Keempat, inovasi produk harus disesuaikan dengan preferensi konsumen domestik, seperti produk siap masak dengan kemasan yang lebih praktis dan terjangkau.Kelima, perusahaan perlu memperkuat manajemen risiko untuk menghadapi ketidakpastian pasar global.Fondasi yang Selama Ini TerpinggirkanSelama ini, industri udang Indonesia cenderung memusatkan perhatian pada pasar global sebagai sumber utama pertumbuhan. Namun, tanpa fondasi yang kuat di dalam negeri, pertumbuhan tersebut akan selalu berada dalam kondisi rentan.Pasar global memang penting, tetapi pasar domestik adalah kunci ketahanan.Jika ekspor adalah mesin pertumbuhan, pasar lokal adalah fondasi yang menopangnya. Dan tanpa fondasi yang kokoh, industri udang akan terus menghadapi risiko setiap kali terjadi guncangan eksternal.Kini saatnya mengubah arah. Tidak dengan meninggalkan ekspor, tetapi dengan menyeimbangkannya melalui penguatan pasar domestik. Karena pada akhirnya, kekuatan sejati industri udang Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kemampuannya menembus pasar global, tetapi juga oleh kemampuannya membangun kekuatan dari dalam negeri.