Seorang peserta berdoa saat akan mengikuti Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK-SNBT) 2025 di Universitas Diponegoro (UNDIP), Tembalang, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (30/4/2025). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTOSetelah menuntaskan sederet rangkaian ujian di tahun terakhir bersekolah, para siswa sekolah menengah atas (SMA) kini tengah disibukkan dengan proses masuk perguruan tinggi. Ada beberapa jalur penerimaan perguruan tinggi negeri (PTN), salah satunya Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).SNBT merupakan jalur masuk PTN yang diselenggarakan dalam bentuk Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) serentak secara nasional. Tahun ini, UTBK SNBT dilaksanakan pada 21 sampai 30 April 2026, di beberapa daerah berpotensi hingga 2 Mei 2026. Hasil SNBT akan diumumkan pada 25 Mei 2026. Para siswa pastinya menyusun strategi agar bisa keterima di program studi (prodi) dan kampus impian. Selain mempertimbangkan minat dan kemampuan belajar, mencari tahu soal keketatan prodi juga tak kalah penting. Ilustrasi ospek mahasiswa. Foto: Ahmad Saifulloh/Shutterstock Ada prodi dengan keketatan tinggi dan rendah. Semakin tinggi keketatan prodi, semakin tinggi juga persaingan untuk diterima di prodi tersebut. Keketatan diketahui dari perbandingan jumlah pendaftar dengan daya tampung prodi. Tim kumparan menghimpun data daya tampung dan pendaftar prodi jalur SNBT 2021 sampai 2025. Data tersebut kami peroleh dari website Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (snpmb.id) dengan metode scraping menggunakan kode pemrograman python. Setelah itu, prodi dengan nama berbeda namun dengan materi perkuliahan sama kami kelompokan menjadi satu. Termasuk sebutan prodi yang tak konsisten. Misalnya prodi administrasi bisnis kami gabung dengan administrasi niaga, prodi terkait sastra dan bahasa kami seragamkan dengan sebutan bahasa. Sementara seluruh prodi bahasa daerah (Jawa, Sunda, dsb) kami jadikan satu sebagai bahasa daerah. Lantas, apa saja prodi dengan keketatan paling tinggi dan rendah di jalur SNBT? Di sini yang dianalisis adalah prodi-prodi D4 maupun S1. Prodi Keketatan Tinggi Didominasi D4Pada SNBT 2025, prodi dengan keketatan tinggi baik saintek maupun soshum didominasi prodi D4 atau sarjana terapan. Perlu diketahui bahwa semakin kecil angka keketatan, maka semakin ketat atau susah pula prodi tersebut. Angka ini diperoleh dari perbandingan jumlah pendaftar dengan daya tampung.Prodi S1 yang termasuk dalam prodi keketatan tinggi hanya kriminologi dan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Prodi K3 ada yang bergelar sarjana atau sarjana terapan, tergantung universitas. Prodi saintek paling ketat adalah manajemen informasi kesehatan dengan daya tampung nasional hanya 27 mahasiswa, sedangkan pendaftarnya tembus 3.057 orang. Keketatannya mencapai 1,21 persen. Prodi ini hanya tersedia di Universitas Gadjah Mada (UGM).Prodi terketat kedua adalah teknik pengelolaan dan pemeliharaan infrastruktur sipil dengan daya tampung hanya 18 mahasiswa. Ada 1.436 siswa yang mendaftar ke prodi ini, sehingga keketatannya mencapai 1,25 persen. Prodi ini hanya ada di UGM. Disusul teknologi industri kimia dengan keketatan 1,34 persen. Ada 1,639 pendaftar prodi ini pada 2025, sedangkan daya tampung hanya untuk 22 mahasiswa. Prodi ini hanya ada di Universitas Padjadjaran (Unpad). Prodi terketat pada bidang soshum adalah bisnis internasional. Pendaftar prodi ini pada 2025 mencapai 2.542 secara nasional, sedangkan daya tampungnya hanya untuk 27 mahasiswa sehingga keketatannya mencapai 1,06 persen. Prodi ini tersedia di Unpad. Prodi soshum terketat kedua adalah bisnis kreatif dengan keketatan 1,13 persen. Pendaftarnya mencapai 4.167 siswa dan hanya menampung 47 mahasiswa baru. Prodi ini hanya tersedia di Universitas Indonesia (UI). Di posisi ketiga ada kriminologi. Prodi ini hanya menampung 18 mahasiswa dengan pendaftar mencapai 1.583 siswa. Keketatannya sebesar 1,14 persen. Prodi ini tersedia di UI dan Universitas Samudra. Salah satu siswa yang mengambil program studi D4 atau sarjana terapan Aelda Nurkhairiyah. Siswi kelas XII SMKN 66 Jakarta itu telah mendaftarkan diri di SNBT 2026, serta memilih program studi usaha perjalanan wisata di UNJ. Prodinya memang bukan yang paling ketat, tetapi masuk ke kategori D4 atau sarjana terapan. "Aku mau ambil pariwisata karena biar enggak keluar jalur sama jurusan yang aku ambil di SMK (perhotelan) karena masih sama-sama pariwisata. [cita-cita] mau menjadi wanita yang sukses dan berkarier di usia muda," ujar Aelda saat dihubungi, Senin (13/4). Aelda Nurkhairiyah, Siswi Kelas XII SMKN 66 Jakarta. Foto: Dok. PribadiSebagai anak yang tinggal bersama orang tua di Pinang Ranti, Jakarta Timur, UNJ menurutnya pilihan tepat karena tidak begitu jauh dari rumah. Termasuk dia tidak perlu jauh dari orang tua. Menurut Aelda, dirinya juga sudah berkoordinasi dengan guru bimbingan konseling (BK) terkait pilihan prodinya. "Pas aku ke sekolah itu kemarin emang Bu Guru BK ini menanyakan hal yang sama terkait SNBT gimana, udah siap belum segala macem gitu. Ya kita konsultasi juga milih ini, milih itu, dan guru BK-nya pun alhamdulillah-nya ngedukung apapun jalan kita asal kitanya juga mau, jangan ada paksaan gitu," ungkapnya. Bahasa Mandarin hingga Kebidanan Peminatnya Naik, Persaingan Makin KetatSelain prodi terketat, ada pula prodi yang keketatannya semakin tinggi. Kami membandingkan keketatan prodi pada 2021 dengan 2025. Hasilnya prodi bahasa mandarin jadi prodi dengan peningkatan keketatan tertinggi, sebelumnya hanya 19,17 persen menjadi 4,9 persen.Selanjutnya ada teknik geologi. Pada 2021 sebesar 16,18 persen, naik menjadi 7,03 persen pada 2025. Disusul fisioterapi dari 7,66 persen menjadi 3,46 persen. Lalu teknik pertambangan dari 8,89 persen menjadi 5,02 persen dan akuntansi sektor publik dari 6,4 persen menjadi 2,85 persen. Peningkatan keketatan prodi menunjukkan peningkatan minat terhadap prodi tersebut. Menurut Ketua Prodi Sastra China (Mandarin) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI Adi Kristina Wulandari, ada peningkatan jumlah pendaftar prodi Sastra China UI sekitar 20 persen pada 2025 untuk semua jalur masuk. Ia juga menjabarkan jumlah pendaftar jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan SNBT."Peminatnya itu kalau yang tahun 2024 itu peminat totalnya itu ada di angka 1.000-an. Oh 1.006. Kalau 2025 itu di angka 1.245, tapi itu baru jalur SNBP dan SNBT. Belum jalur SIMAK [mandiri]," ujar Ina kepada kumparan, Rabu (15/4). Baginya, peningkatan ini tak terlepas dari peran China yang semakin luas di berbagai bidang.Dosen dan Ketua Prodi Sastra Cina FIB UI, Dr. Adi Kristina Wulandari, M.Hum. Foto: Dok. Pribadi"Memang geopolitik itu menjadi mungkin salah satu faktor karena meningkatnya peran China di bidang ekonomi, teknologi itu. Kemampuan bahasa Mandarin itu jadi semakin relevan, semakin populer," terangnya.Ina menyebutkan ada persepsi bahwa peluang karier lulusan Sastra China terbuka luas, khususnya di bidang bisnis dan kerja sama internasional. Ia membeberkan berbagai profil lulusan Sastra China UI. "Macam-macam sih bidang pekerjaannya. Kalau yang di institusi pemerintahan misalnya di Kementerian Luar Negeri, kemudian kepolisian, militer, kemudian juga intelijen itu banyak alumni kami yang bekerja di sana," pungkasnya."Dan tentu saja kalau di swasta itu lebih banyak ya, di perbankan itu baik perbankan apa namanya nasional maupun juga khususnya yang perbankan yang berhubungan dengan China gitu. Kemudian ada juga di bidang pendidikan,"tambahnya. Ilustrasi Drama China. Foto: Qianjin/ShutterstockTak hanya itu, Ina menerangkan, maraknya produk populer budaya China seperti film dan drama masuk ke Indonesia juga jadi salah satu faktor prodi ini semakin diincar mahasiswa baru. Di tengah meningkatnya minat terhadap prodi ini, Ina memastikan belum ada rencana penambahan kursi untuk ke depannya. "Kalau rencana penambahan saya belum dengar untuk tahun ini ya, masih sama dengan yang tahun lalu," katanya. Adapun setiap tahun prodi Sastra China UI menerima sekitar 70 sampai 75 mahasiswa baru untuk semua jalur. Deretan Prodi Keketatan Rendah: Ada yang Pendaftarnya Cuma SatuProdi dengan keketatan paling rendah pada bidang saintek adalah teknologi penangkapan ikan. Pendaftar prodi ini hanya satu siswa pada 2025, sedangkan daya tampungnya untuk 30 mahasiswa. Sehingga angka keketatannya ada di angka 3000 persen. Prodi ini hanya tersedia di Universitas Negeri Gorontalo (UNG).Selanjutnya ada prodi pendidikan vokasional konstruksi bangunan. Prodi ini punya keketatan sebesar 1700 persen. Daya tampung prodi untuk 17 mahasiswa baru, sementara yang mendaftar cuma satu orang. Sama dengan Teknologi Penangkapan Ikan, pendaftar prodi ini pada 2025 hanya satu siswa dan hanya tersedia di UNG.Posisi ketiga ada pemanfaatan sumberdaya perairan. Prodi ini menampung 25 mahasiswa, pendaftarnya hanya 2 siswa. Sehingga keketatannya 1250 persen. Prodi ini hanya tersedia di Universitas Khairun, Kota Ternate, Maluku Utara. Untuk bidang soshum, prodi dengan keketatan terendah adalah seni kriya. Prodi ini menampung 53 mahasiswa baru, namun pendaftarnya hanya 10 siswa. Praktis, keketatan prodi ini pun ada di angka 530 persen. Prodi seni kriya tersedia di Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Tanah Papua. Disusul prodi tradisi lisan dengan 8 pendaftar dan daya tampung sebanyak 31 mahasiswa. Keketatan prodi ini 387,5 persen. Prodi ini hanya tersedia di Universitas Haluoleo. Selanjutnya ada prodi kajian sastra budaya. Prodi ini menampung 28 mahasiswa baru, pendaftarnya hanya 8 siswa. Keketatan prodi ini 300 persen. Prodi ini hanya tersedia di ISBI Aceh.