Influencer jadi “Penentu Kehidupan”: Bahaya Appeal to Authority di Media Sosial

Wait 5 sec.

Ilustrasi influencer. Foto: PexelsDi era serba digital hari ini, media sosial adalah suatu hal yang sudah tidak terpisahkan dari kehidupan. Menurut data dari We Are Social 2025, terdapat 143 juta pengguna media sosial di Indonesia dengan rata-rata penggunaan waktu 3 jam per harinya.Di tengah kehidupan online tersebut, muncul figur-figur terkenal yang punya pengaruh besar dalam membentuk opini masyarakat, yaitu influencer. Influencer adalah seseorang yang dapat mempengaruhi massa untuk melakukan sesuatu. Dalam konteks media sosial, influencer merujuk pada orang dengan pengikut yang banyak di media sosial (CNN, 2023). Berbagai penelitian menunjukkan bahwa influencer memiliki kekuatan signifikan dalam memengaruhi sikap dan keputusan masyarakat. Penelitian dari Gaspersz. dkk (2024) menegaskan bahwa influencer memengaruhi opini publik secara luas, bahkan Gaspersz menyebut mereka sebagai Opinion Leader Digital.Influencer aktif merekomendasikan produk-produk kecantikan, life style, hingga pandangan tentang kesehatan, pendidikan, bahkan politik. Namun, dari fenomena tersebut muncul permasalahan baru, yaitu apa yang disampaikan influencer kerap disetujui begitu saja oleh audiensnya.Fenomena ini tidak terlepas dari meningkatnya peran media sosial dalam kehidupan sehari-hari, di mana individu lebih banyak mengakses informasi melalui media sosial dibandingkan sumber informasi lainnya yang lebih tepercaya.Bahkan, dalam konteks bisnis, faktor seperti kredibilitas, kepercayaan, dan kedekatan emosional dengan influencer terbukti memengaruhi keputusan audiens. Dengan kata lain, influencer tidak hanya dilihat sebagai pembuat konten, tetapi juga sebagai sumber informasi.Namun, di balik pengaruh besar tersebut, muncul persoalan serius dalam ranah filsafat dan logika, yaitu maraknya logical fallacy appeal to authority atau kesalahan berpikir yang mengandalkan otoritas sebagai dasar kebenaran.Ketika Popularitas Dianggap KebenaranIlustrasi berpikir. Foto: ShutterstockAppeal to authority adalah kesalahan logika di mana suatu pernyataan dianggap benar hanya karena disampaikan oleh figur yang dianggap memiliki otoritas, tanpa menguji argumen itu sendiri. Dalam konteks media sosial, influencer sering kali diposisikan sebagai “otoritas baru”, meskipun tidak selalu memiliki kompetensi di bidang yang mereka bicarakan.Misalnya, seorang influencer dengan jutaan pengikut memberikan opini tentang kesehatan atau investasi. Tanpa latar belakang keilmuan yang memadai, pendapat tersebut tetap dipercaya oleh audiens hanya karena berasal dari figur yang populer. Dalam hal ini, popularitas menggantikan validitas sebagai tolok ukur kebenaran.Fenomena ini diperkuat oleh berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa popularitas influencer dapat meningkatkan kepercayaan dan keterlibatan audiens secara signifikan. Menurut Chen dkk. (2024), influencer populer dapat menjangkau audiens yang lebih besar dan meningkatkan peluang interaksi audiens dengan konten yang mereka buat.Bahkan, popularitas tersebut dapat menimbulkan kepercayaan dan dapat memengaruhi keputusan tanpa perlu adanya bukti yang kuat. Inilah titik di mana kesalahan logika mulai muncul dalam kehidupan sehari-hari.Krisis Epistemologi di Era DigitalDari sudut pandang filsafat, fenomena ini menunjukkan adanya krisis epistemologi, yakni melemahnya cara manusia memperoleh dan memvalidasi pengetahuan yang benar (Pajriani, T.R., et al. 2023). Epistemologi menekankan bahwa suatu pengetahuan harus didasarkan pada pemikiran yang rasional, bukti empiris, dan proses berpikir kritis.Namun, dalam praktik bermedia sosial, proses tersebut sering kali diabaikan. Informasi tidak lagi diuji berdasarkan kebenarannya, tetapi berdasarkan siapa yang menyampaikannya. Ketika influencer menjadi sumber utama informasi, otoritas personal menggantikan otoritas ilmiah.Hal ini diperparah oleh karakter media sosial yang serba cepat dan instan. Audiens tidak memiliki cukup waktu atau dorongan untuk memverifikasi informasi. Akibatnya, proses berpikir kritis tergantikan oleh penerimaan pasif.Logika yang Tergeser oleh AlgoritmaIlustrasi logika. Foto: ShutterstockSelain epistemologi, persoalan ini juga berkaitan dengan logika sebagai alat berpikir rasional. Dalam logika, kebenaran suatu argumen tidak ditentukan oleh siapa yang berbicara, tetapi oleh kekuatan hubungan antara premis dan kesimpulan.Namun, dalam ekosistem media sosial, logika sering kali kalah oleh algoritma. Konten yang menarik perhatian akan lebih banyak muncul di beranda pengguna dan mengalahkan konten yang benar. Influencer yang mampu menarik perhatian dengan gaya komunikasi dan editing yang meyakinkan cenderung lebih dipercaya, meskipun argumennya lemah.Penelitian dari Diany, A.A. & Yuliyanti, R (2025) juga menunjukkan bahwa influencer punya peran yang signifikan dalam pemasaran digital karena trust dan engagement merupakan determinan utama dalam memengaruhi keputusan pembelian. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi konsumen dari aspek rasional (kredibilitas) ke aspek emosional (engagement dan trust).Dari Otoritas Ilmiah ke Otoritas SosialSecara historis, otoritas dalam pengetahuan berasal dari institusi yang memiliki legitimasi, seperti akademisi, ilmuwan, atau lembaga penelitian. Namun, media sosial telah menggeser bentuk otoritas tersebut menjadi lebih fleksibel dan berbasis popularitas.Influencer tidak perlu memiliki gelar akademik untuk dianggap “ahli”. Cukup dengan jumlah pengikut yang besar dan tingkat engagement yang tinggi, mereka sudah dapat membentuk opini publik. Dalam konteks ini, otoritas tidak lagi berbasis kompetensi, tetapi berbasis visibilitas dan popularitas.Perubahan ini menciptakan tantangan besar bagi masyarakat. Ketika otoritas tidak lagi dapat diandalkan sebagai indikator kebenaran, individu dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir kritis yang lebih tinggi. Tanpa itu, masyarakat akan mudah terjebak dalam kesalahan logika yang sistematis dan mendalam.Dampak Sosial: dari Konsumsi hingga Opini PublikIlustrasi masyarakat. Foto: Djem/ShutterstockDampak dari fenomena ini tidak hanya terbatas pada kesalahan berpikir, tetapi juga merambah ke berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks ekonomi, influencer terbukti mampu memengaruhi keputusan pembelian konsumen secara signifikan. Dalam konteks sosial, mereka juga dapat membentuk opini tentang isu-isu publik.Masalahnya, ketika opini tersebut dibangun di atas kesalahan logika, keputusan yang dihasilkan juga berpotensi keliru. Masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang tidak valid, yang pada akhirnya merugikan diri sendiri, orang lain, maupun bangsa.Membangun Kembali Nalar KritisDalam menghadapi permasalahan ini, langkah yang paling penting adalah mengembalikan peran nalar kritis dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat perlu menyadari bahwa tidak semua yang disampaikan influencer dapat dijadikan rujukan kebenaran.Literasi digital menjadi kunci utama untuk membangun kembali penalaran. Tidak hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan untuk mengevaluasi sumber informasi, memahami konteks, dan mengidentifikasi kesalahan logika. Selain itu, penting untuk membedakan antara “terkenal” dan “berkompeten”. Popularitas tidak selalu berbanding lurus dengan keahlian. Dengan kesadaran ini, masyarakat dapat lebih selektif dalam menerima informasi.PenutupFenomena appeal to authority yang dilakukan oleh beberapa influencer menunjukkan bahwa masalah filsafat dan logika bukanlah sesuatu yang abstrak, melainkan sangat nyata dalam kehidupan sehari-hari. Di era media sosial, kesalahan berpikir dapat menyebar dengan cepat dan memengaruhi jutaan orang dalam waktu singkat.Oleh karena itu, penting bagi kita untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif informasi, tetapi juga menjadi pemikir yang aktif dan kritis. Sebab, di tengah derasnya arus informasi, kemampuan untuk berpikir rasional bukan lagi sekadar keunggulan, melainkan juga kebutuhan.