Sederhana tapi menjebak: Bahaya tersembunyi konsep ‘love language’ dalam hubungan

Wait 5 sec.

Tahukah kamu bagaimana caramu memberi dan menerima kasih sayang? Apakah kamu tipe orang yang lebih menyukai words of affirmation (ungkapan sayang lewat kata-kata) atau quality time (menghabiskan waktu bersama)? Atau bisa jadi kamu lebih nyaman dengan acts of service (tindakan melayani), receiving gifts (menerima hadiah), atau physical touch (sentuhan fisik)?Mencari tahu bahasa cinta atau love language menjadi salah satu ide konsep hubungan yang paling populer dalam dua dekade terakhir. Hal ini karena ide love language begitu sederhana, menarik, dan juga mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.Gagasan ini pertama kali diperkenalkan oleh Gary Champan, seorang pendeta sekaligus konselor pernikahan asal Amerika Serikat. Ia menuliskannya dalam buku The 5 Love Languages: The Secret to Love that Lasts pada 1992. Kini, ide tersebut menjadi acuan populer dalam berbagai saran percintaan modern.Meskipun kini sangat populer dan sering dijadikan jurus andalan saat kencan pertama, penelitian terbaru justru menunjukkan hal yang berbeda. Konsep love language ternyata tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat untuk mendukung klaimnya.Alih-alih berlandaskan sains, love language sebenarnya hanyalah sesuatu yang menarik secara budaya. Konsep ini cenderung membuat persoalan hubungan seolah-olah hanya soal preferensi pribadi seseorang saja. Padahal, dinamika relasi jauh lebih kompleks, mengabaikan persoalan penting, termasuk masalah ketimpangan kuasa di dalam hubungan. Bukannya berupaya memahami dinamika relasi secara mendalam agar bisa langgeng dengan pasangan, love language membuat kita sekadar sibuk mengisi daftar checklist yang harus dipenuhi.Ide sederhana yang mengganti bukti ilmiahPopularitas love language merupakan contoh buruk psikologi populer yang kerap terlalu menyederhanakan sesuatu yang rumit. Hubungan yang kompleks diringkas menjadi lima kategori yang mudah diingat, lantas kemudian dianggap sebagai penjelasan, diagnosis, sekaligus solusi untuk semua masalah dalam satu waktu. Menariknya, konsep ini awalnya lahir dari konseling keagamaan dan bukan dari riset sistematis. Klaim utamanya adalah setiap orang punya satu bahasa cinta utama yang tetap. Bahasa ini lantas harus “dicocokkan” agar hubungan seseorang berhasil. Padahal, anggapan ini tidak sejalan dengan kenyataan tentang bagaimana kebutuhan dalam hubungan sebenarnya bekerja. Pada dasarnya, kita semua membutuhkan kelima bentuk ekspresi love language. Mulai dari quality time, words of affirmation, receiving gift, act of service, hingga physical touch. Selain itu, bahasa cinta seseorang juga bisa berubah-berubah mengikuti situasi. Misalnya, bergantung pada tingkat stres, fase kehidupan, dan juga kondisi kesehatan. Beban mengurus keluarga sampai riwayat konflik yang pernah dialami juga turut berpengaruh pada love language kita.Love language yang disebut paling dominan pada seseorang sebenarnya hanyalah penanda tentang apa yang paling dibutuhkan saat itu. Ia bukan sifat yang tetap, melainkan sinyal tentang hal-hal yang belum seseorang dapatkan dari pasangannya. Karena kategorinya yang luas dan bisa menyentuh emosi, Love language akhirnya memicu Barnum Effect —yaitu kecenderungan seseorang merasa sebuah deskripsi sangat akurat, padahal sebenarnya cukup umum dan bisa berlaku untuk banyak orang.Ketika kasih sayang disederhanakan jadi checklist semataMasalah lain dari kelima love language adalah ia memengaruhi pandangan kita soal cara mendukung satu sama lain dalam suatu hubungan.Kedekatan emosional seolah cukup dicapai dengan “menerjemahkan” preferensi pasangan semata.Seolah-olah jika seseorang melakukan hal yang sesuai dengan bahasa cinta pasangannya, maka pasangannya otomatis bakal merasa dicintai.Hal ini bisa membuat kita terjebak dalam hubungan yang transaksional. Contohnya: “Aku sudah memakai love language-mu, jadi kamu harusnya merasa puas.”Rasa ingin tahu kita terhadap pasangan makin berkurang. Kita jadi jarang bertanya apa yang pasangan kita sedang alami minggu ini. Kita juga abai menanyakan bentuk dukungan atau kasih sayang seperti apa yang sebenarnya sedang dibutuhkan.Konsep ini juga membuat masalah hubungan seolah cuma tanggung jawab pribadi atau ketidakcocokan preferensi. Padahal, hubungan adalah proses yang butuh usaha memahami terus-menerus.Begitu label ini masuk ke dalam suatu hubungan, obrolan justru menemui jalan buntu.Konsep love language juga tidak membahas regulasi konflik, kepekaan, atau cara pasangan menghadapi stres. Hal ini berbeda dengan sains tentang hubungan yang memiliki penjelasan lebih lengkap. Banyak konflik dalam hubungan percintaan pada dasarnya bukan karena seseorang kurang ‘menerima hadiah’ atau dapat ‘kata-kata pujian’ dari pasangan. Akar masalahnya justru terletak pada ketidakselarasan satu sama lain yang terjadi secara terus menerus atau beban emosional yang tak seimbang. Bisa juga karena perasaan diabaikan atau tanda hubungan yang sudah tidak aman.Kondisi struktural yang diabaikan love languageLove language juga bisa menutup mata kita terhadap relasi kuasa. Konsep ini seolah mewajarkan ketidaksetaraan.Beberapa kategorinya gampang terjebak dalam pembagian tugas berdasarkan kategori gender. Misalnya, acts of service atau dukungan emosional yang biasanya sering dianggap sebagai tugas perempuan semata.Akhirnya, pasangan lain hanya menikmati hasilnya tanpa peduli pada beban yang berat sebelah.Konsep ini juga menutup mata terhadap kondisi seperti kemiskinan, disabilitas, atau penyakit. Ada juga faktor kelas sosial dan norma agama yang membatasi pilihan kita dalam hubungan.Saat seorang sedang terlalu lelah atau sakit, masalahnya bukan lagi soal salah menggunakan love language yang tepat. Keadaan yang sulit sering kali membuat rasa saling mengerti jadi susah dilakukan.Memakai love language akhirnya cuma jadi cara meredam gejala tanpa menyentuh akar masalahnya.Ide ini juga sangat berisiko jika menyangkut soal consent dan kondisi seseorang yang sedang lemah. Sentuhan fisik sebagai bentuk love language seringkali dipakai untuk membenarkan ‘akses’ terhadap tubuh pasangan. Hal demikian juga berisiko dalam hubungan intim, pemaksaan, atau masa pemulihan setelah melahirkan. Hal ini juga berlaku jika ada trauma atau rasa sakit yang tidak kunjung sembuh.Hal yang membuat hubungan tetap awet selain sekadar labelKonsep love language sering menganggap sentuhan sebagai hal yang selalu berakibat baik. Padahal, sentuhan sangat bergantung pada situasi, izin, rasa aman, hingga waktu yang pas.Hak atas tubuh sendiri juga amat krusial saat seseorang tengah dilanda kondisi seperti kanker, disabilitas, dalam pengaruh obat, maupun keadaan depresi. Kedekatan dengan pasangan pasti juga ikut berubah saat kondisi fisik dan kesehatan seseorang tengah berubahIde yang mewajibkan pasangan memberikan sentuhan bisa bisa berakhir salah kaprah. Padahal, yang sering kita butuhkan adalah kesabaran dan cara baru untuk menikmati kemesraan. Kita perlu bekerja sama menghadapi masalah, bukan sekadar memberikan kontak fisik sebagai bukti cinta.Bagaimana pun itu, love language tetaplah populer karena sangat laku dijual. Konsep ini memberikan kepuasan karena kita merasa jadi lebih paham diri sendiri. Ada pula iming-iming kecocokan dengan pasangan serta solusi yang serba instan.Masalah hubungan bagaimanapun tentunya tidak akan selesai jika hanya bermodalkan ‘label’ semata. Hal yang paling penting adalah kepekaan terhadap satu sama lain, pembagian beban yang adil secara emosional, serta kemampuan untuk memperbaiki keadaan setelah adanya luka atau pun konflik. Terakhir, kita perlu beradaptasi saat kondisi tubuh dan hidup mulai berubah. Jika love language memang ada gunanya, maka ia esensinya cuma berguna sebagai kosakata awal untuk membicarakan bagaimana kita bisa memberi perhatian pada pasangan. Konsep ini bukan suatu kerangka kerja diagnostik atau pengganti untuk menghadapi ketidakselarasan, ketimpangan kekuasaan, dan kondisi nyata yang membuat keintiman tetap bertahan.Maha Khawaja tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.