Studi: Lobster Bisa Merasakan Sakit, Ilmuwan Minta Jangan Dimasak Hidup-hidup

Wait 5 sec.

Ilustrasi lobster. Foto: Zuhri Noviandi/kumparanStudi terbaru tentang lobster Norwegia menambah bukti bahwa hewan krustasea ini kemungkinan besar dapat merasakan sakit, sebuah dugaan yang telah lama dibicarakan para ilmuwan, bahkan pernah menginspirasi esai terkenal “Consider the Lobster” karya David Foster Wallace.Dalam studi yang dipublikasikan pada 13 April 2026 di jurnal Scientific Reports, para peneliti menemukan dua obat pereda nyeri yang biasa digunakan pada manusia, aspirin dan lidokain, yang secara signifikan mengurangi respons melarikan diri pada lobster Norwegia (Nephrops norvegicus) ketika mereka diberi kejutan listrik.Para peneliti berpendapat bahwa obat tersebut menekan proses persepsi rasa sakit pada hewan tersebut. Artinya, gerakan membalikkan ekor (tail flip) yang dilakukan lobster kemungkinan merupakan refleks rasa sakit, bukan sekadar respons terhadap stres. Temuan ini memperkuat argumen bahwa lobster layak mendapatkan perlakuan yang lebih etis.“Fakta bahwa obat penghilang rasa sakit untuk manusia juga bekerja pada lobster Norwegia menunjukkan betapa miripnya cara tubuh kita berfungsi,” ujar Lynne Sneddon dari University of Gothenburg. “Karena itu, penting untuk memperhatikan bagaimana kita memperlakukan dan membunuh krustasea, seperti halnya ayam dan sapi.”Sejumlah negara seperti Norwegia, Selandia Baru, Austria, dan beberapa wilayah di Australia telah melarang praktik merebus krustasea hidup-hidup karena alasan kesejahteraan hewan.Kondisi lobster setelah dimasak. Foto: MaxPixelTemuan terbaru ini diperkirakan akan meningkatkan tekanan untuk reformasi yang lebih luas dalam cara manusia memperlakukan dan memproses hewan-hewan tersebut.Di Inggris, regulasi serupa tengah diusulkan. Sementara itu, industri dan peneliti mulai mengeksplorasi metode alternatif seperti penyetruman listrik (electrical stunning) sebagai cara yang lebih manusiawi dibandingkan merebus hewan hidup-hidup.Eksperimen Rasa SakitDalam penelitian ini, para ilmuwan membagi 105 lobster ke dalam beberapa kelompok. Sebagian tidak diberi perlakuan (kelompok kontrol), sementara kelompok lain diberi kejutan listrik dengan atau tanpa obat pereda nyeri.Lidokain diberikan melalui air dalam tangki, sementara aspirin disuntikkan langsung ke tubuh lobster. Ketika diberi kejutan listrik selama 10 detik, lobster menunjukkan respons melarikan diri dengan gerakan membalikkan ekor, mekanisme pertahanan umum pada krustasea.Namun, pada lobster yang telah diberi obat pereda nyeri, frekuensi gerakan tersebut menurun drastis. Hanya tujuh dari 13 lobster yang diberi lidokain dan tiga dari 13 yang diberi aspirin menunjukkan respons tersebut, jauh lebih rendah dibanding kelompok tanpa perlakuan.Ilustrasi lobster hasil tangkapan nelayan. Foto: TREVOR COLLENS/AFPPeneliti menyimpulkan bahwa respons tersebut bukan sekadar kontraksi otot akibat listrik, melainkan reaksi terhadap rasa sakit. Hal ini karena jika hanya dipicu listrik, obat pereda nyeri seharusnya tidak memengaruhi respons tersebut.Temuan ini menunjukkan adanya proses neurologis yang disebut nociception, yakni mekanisme di mana sinyal dari bagian tubuh yang terkena rangsangan berbahaya dikirim ke otak dan memicu pengalaman negatif yang berkaitan dengan rasa sakit.Penelitian ini menambah daftar bukti bahwa hewan tanpa tulang belakang seperti kepiting dan gurita juga dapat merasakan sakit.Dalam studi sebelumnya, kepiting pertapa diketahui meninggalkan cangkangnya setelah diberi kejutan listrik. Sementara gurita menunjukkan kemampuan menghindari lokasi yang dikaitkan dengan rasa sakit dan lebih memilih tempat yang memberikan rasa lega.Perkembangan bukti ilmiah ini mulai memengaruhi kebijakan. Di Inggris, kepiting, lobster, dan gurita kini diakui sebagai makhluk hidup yang mampu merasakan sakit berdasarkan undang-undang kesejahteraan hewan tahun 2022.Selandia Baru juga telah menerapkan aturan yang mewajibkan krustasea dibuat tidak sadar sebelum dibunuh secara komersial. Di Amerika Serikat, beberapa negara bagian seperti California dan Washington bahkan melarang budidaya gurita karena alasan kesejahteraan hewan. Sejumlah wilayah lain juga tengah mempertimbangkan kebijakan serupa.