Menjangkau yang Tak Terjangkau: Reorientasi Pendidikan Nonformal

Wait 5 sec.

Ilustrasi reorientasi pendidikan nonformal. Foto: Generated by AISetiap tahun, ratusan ribu anak Indonesia keluar dari sistem pendidikan. Mereka tidak benar-benar hilang, tetapi perlahan menjauh dari ruang yang seharusnya menjamin masa depan mereka.Data Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa sejak 2022 hingga 2024, lebih dari 3 juta anak berada di luar sekolah. Pada saat yang sama, angka putus sekolah di beberapa jenjang pendidikan justru mengalami peningkatan. Fakta ini mengingatkan kita bahwa masih ada celah sistem pendidikan yang belum sepenuhnya terjawab.Di satu sisi, berbagai upaya terus dilakukan, mulai dari penguatan kurikulum hingga perluasan akses pendidikan. Namun di sisi lain, realitas menunjukkan bahwa tidak semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk bertahan dalam sistem formal. Faktor ekonomi, kondisi sosial, dan keterbatasan akses masih menjadi tantangan yang nyata.Ilustrasi pendidikan di Indonesia. Foto: KemendikbudristekDi titik inilah, cara pandang kita tentang pendidikan perlu diperluas.Dalam kerangka Pendidikan Nonformal, proses belajar tidak terbatas pada ruang kelas. Pendidikan nonformal hadir melalui Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), program kesetaraan Paket A, B, dan C, serta berbagai pelatihan berbasis komunitas yang menjangkau masyarakat secara lebih fleksibel.Data Kementerian Pendidikan menunjukkan jumlah PKBM di Indonesia telah mencapai belasan ribu unit yang tersebar hingga ke berbagai daerah. Lembaga ini menjadi garda terdepan dalam menjangkau masyarakat yang tidak terlayani pendidikan formal.Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar saat bulan Ramadhan di SDN Slipi 15, Jakarta, Kamis (6/3/2025). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO Program kesetaraan setiap tahun menampung ratusan ribu warga belajar, memberikan kesempatan bagi mereka yang sempat terhenti langkahnya. Tidak sedikit lulusan Paket C yang kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi maupun terserap di dunia kerja.Bagi sebagian masyarakat, jalur ini bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Pendidikan nonformal menjadi ruang kedua bagi buru, pekerja informal, hingga ibu rumah tangga untuk tetap belajar dan meningkatkan kualitas hidupnya.Keunggulan pendidikan nonformal terletak pada kemampuannya menyesuaikan dengan kebutuhan nyata masyarakat. Pendekatannya lebih lentur, lebih kontekstual, dan lebih cepat merespons perubahan.Ilustrasi UNESCO. Foto: Alexandros Michailidis/ShutterstockHal ini sejalan dengan gagasan lifelong learning yang di dorong oleh UNESCO, bahwa pendidikan merupakan proses sepanjang hayat yang tidak berhenti di bangku sekolah.Meski demikian, peran strategis pendidikan nonformal masih memerlukan penguatan. Di berbagai daerah, PKBM dan lembaga sejenis masih menghadapi keterbatasan sarana, dukungan anggaran, serta kesejahteraan tenaga pendidik. Tantangan ini tentu sangat memengaruhi optimalisasi peran mereka di lapangan.Karena itu, penting bagi kita untuk menempatkan pendidikan nonformal sebagai bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Bukan sekadar pelengkap, melainkan juga sebagai mitra strategis dalam memperluas akses dan memastikan keberlanjutan belajar bagi seluruh warga negara.Ilustrasi kebijakan. Foto: SsCreativeStudio/ShutterstockPenguatan kebijakan, dukungan sumber daya, serta kolaborasi dengan masyarakat dan sektor swasta menjadi langkah yang perlu terus didorong. Dengan demikian, pendidikan nonformal dapat berkembang lebih optimal dan menjangkau lebih banyak masyarakat yang membutuhkan.Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang mereka yang mampu bertahan dalam sistem, melainkan juga tentang bagaimana kita memastikan tidak ada yang tertinggal di luar.Pendidikan nonformal mungkin tidak selalu berada di garis depan sorotan. Namun dalam banyak hal, ia telah menjadi ruang harapan tempat di mana kesempatan kedua tetap terbuka, dan masa depan tidak sepenuhnya hilang.