Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto di Sekolah Partai DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan pada Rabu (24/9/2025). Foto: Abid Raihan/kumparanSekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan bahwa dukungan Indonesia terhadap Palestina bukan sekadar sikap politik, melainkan mandat sejarah yang lahir dari semangat Konferensi Asia Afrika.Hal itu disampaikan Hasto dalam sambutannya di peringatan ke-71 Konferensi Asia Afrika di Sekolah Partai DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4).Menurutnya, komitmen terhadap Palestina telah ditegaskan sejak awal melalui komunike politik Konferensi Asia Afrika yang mendukung hak bangsa Palestina dan menyerukan penyelesaian damai.Ia menekankan bahwa perjuangan melawan penjajahan merupakan bagian dari gerakan kebudayaan yang harus terus dihidupkan, termasuk dalam konteks solidaritas global terhadap Palestina."Ini ditandatangani 29 pemimpin negara di dalam Konferensi Asia Afrika tersebut, di mana seluruh pemimpin dalam komunike politik itu adalah dari Indonesia kita," kata Hasto."Maka saudara-saudara sekalian, inilah mengapa kita harus konsisten memperjuangkan Palestina. Kemudian yang kedua, dalam hubungan sikap yang telah dinyatakan mengenai penghapusan kolonialisme, Konferensi Asia Afrika menyokong kedudukan Indonesia dalam persoalan Irian Barat," tambahnya.Hasto menambahkan, semangat pembebasan dari Konferensi Asia Afrika harus terus dijaga sebagai bagian dari komitmen Indonesia terhadap keadilan dan kemanusiaan global.“Inilah mengapa kita harus konsisten memperjuangkan Palestina,” tegas Hasto.Sementara itu, Ketua DPP PDIP Bidang Luar Negeri Ahmad Basarah menilai pemikiran Soekarno tetap relevan dalam membaca dinamika global saat ini, termasuk konflik dan ketegangan geopolitik.Basarah menyebut Konferensi Asia Afrika sebagai tonggak penting yang menunjukkan kepemimpinan Bung Karno dalam membangun solidaritas negara-negara Asia-Afrika melawan kolonialisme dan imperialisme.“Prinsip Dasasila Bandung hingga hari ini tetap relevan sebagai fondasi hubungan internasional yang berkeadilan dan beradab,” kata Basarah.Ilustrasi peringatan KAA. Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTOIa menilai, meskipun kolonialisme klasik telah berakhir, praktiknya kini hadir dalam bentuk baru seperti dominasi ekonomi, ketergantungan teknologi, hingga hegemoni informasi.Menurutnya, kondisi global yang diwarnai konflik dan ketimpangan semakin menegaskan ketepatan analisis Bung Karno tentang munculnya neoimperialisme dan neokolonialisme“Yang kita saksikan hari ini adalah konfirmasi dari apa yang sudah diramalkan Bung Karno,” ujarnya.Basarah menambahkan, konsep Trisakti, berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan, menjadi arah penting bagi Indonesia dalam menghadapi tekanan global sekaligus menjaga kedaulatan nasional.Peringatan Konferensi Asia Afrika ini, lanjutnya, menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat solidaritas global, termasuk dalam memperjuangkan kemerdekaan dan keadilan dunia.