Produk Lokal Jadi Kunci Tangkal Banjir Mobil Listrik CBU China

Wait 5 sec.

Aktivitas produksi mobil listrik VinFast di pabrik Subang, Jawa Barat, Senin (15/12/2025). Foto: Laras Kiranasari/kumparanPeneliti senior dari Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan ITB, Agus Purwadi mengingatkan potensi perubahan besar-besaran yang tak terkendali di pasar otomotif domestik, bila negara terlalu leluasa membuka jalan untuk masuknya produk China secara masif.Agus memaparkan, mobil listrik murni atau battery electric vehicle (BEV) asal China tengah naik daun berkat kebijakan insentif pemerintah untuk adopsi awal bagi masyarakat luas. Namun, pertumbuhan itu disebutnya tetap perlu dicermati lebih saksama."Coba lihat negara tetangga kita yang memulai itu sama Thailand, ternyata mereka juga lebih dominan dikuasai pemain China. Tetapi justru memunculkan masalah baru, yang membuat growth-nya juga sedikit," buka Agus di Jakarta, Selasa (14/4/2026).Lewat materi yang dipaparkannya, populasi mobil listrik asal China yang beredar di Thailand mencapai 80 persen dari total pasar. Sisanya dari merek lain non-China tetapi membuat produknya di Negeri Tirai Bambu.Tampilan depan dan belakang mobil i2C. Foto: Dok. Italdesign"Thailand sudah menghadapi masalah di otomotifnya, banyak pabrik-pabrik yang mulai menghadapi tantangan. Jadinya kanibal, harusnya dengan kedatangan produk atau merek baru kan menambah penjualan. Tetapi ini justru mereduksi pasar yang sudah ada," jelas Agus.Satu korbannya telah mencuat, adalah Suzuki Motor Corporation secara resmi menutup pabriknya di Rayong, Thailand pada akhir 2025. Keputusan tersebut diambil setelah evaluasi struktur produksi global."Dua negara Asia Pasifik seperti India dan Vietnam justru mampu mempertahankan industri dalam negeri karena memang punya pemain lokal. Tetap ada produsen lainnya, termasuk dari China," lanjutnya."Mereka berhasil membangun elektrifikasi internal-nya karena memang punya policy dan juga implementasi yang terukur. Jadi itu mereka bisa mendorong produknya, India itu GDP-nya sedikit lebih rendah dari kita," kata Agus.Porsi populasi mobil listrik di beberapa negara selama 2024. Foto: ITBIndia memiliki produsen tempatan yang sudah kuat dan lama beroperasi, misalnya Tata Motors dan Mahindra. Sementara Vietnam tengah melakukan ekspansi otomotif besar-besaran lewat perusahan VinFast."Jadi basis lokalnya paling tidak, ada. Ini seharusnya menjadi pembelajaran untuk kita kenapa pada akhirnya India dan Vietnam bisa membangun (pasar) elektrifikasinya," bilang Agus.Agus menambahkan, kedatangan pemain baru memang bagus untuk investasi dalam negeri. Namun perkembangan yang tidak diikuti dengan pengawasan dan kebijakan yang adil, dikhawatirkan akan mengguncang fondasi yang sudah terbentuk."Kita kan harapannya ini sama-sama tumbuh, yang sudah eksis juga diberi bantuan stimulus agar tetap bertahan karena ekosistem industri mereka sudah terbentuk di sini. Sementara yang baru (hadir) dibantu agar bisa dijangkau oleh masyarakat," terangnya.Mobil pick up truck single dan double cabin yang jamak ditemui di Thailand. Foto: Sena Pratama/kumparanAgus menjelaskan setidaknya 60 persen BEV yang terjual di Tanah Air saat ini mayoritas berasal dari China. Sisanya merupakan hasil rakitan lokal (completely knocked down/CKD) atau didatangkan dari negara lainnya.Coba menilik data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), pengiriman dari pabrik ke diler atau wholesales mobil listrik murni sepanjang 2025 nyaris mencapai seratus ribu unit. Tepatnya 99.372 unit.Lebih detailnya, model yang didatangkan utuh atau completely built up (CBU) China jumlahnya mencapai 60.671 unit atau komposisinya 61 persen dari segmen BEV 2025. Sedangkan model non-CBU China atau CKD 38.701 unit atau 38,9 persen.