Napak Tilas Sejarah Monumen Ari-ari RA Kartini di Jepara

Wait 5 sec.

Sumur yang masih berfungsi di kompleks dengan Monumen Ari-Ari RA Kartini di Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparanMonumen Ari-ari RA Kartini menjadi saksi sejarah lahirnya pahlawan nasional Indonesia, Raden Ayu Kartini. Monumen ini diyakini sebagai titik dikuburkannya ari-ari atau plasenta RA Kartini.RA Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879. RA Kartini merupakan pelopor emansipasi perempuan. Ia menulis buku berjudul 'Habis Gelap Terbitlah Terang' yang berisi kumpulan surat yang ditulisnya untuk sahabatnya di Belanda.Monumen Ari-ari RA Kartini berlokasi di Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.Monumen Ari-ari RA Kartini berada tak jauh dari Kantor Kecamatan Mayong. Di kawasan monumen ini terdapat beberapa bangunan. Selain monumen utama, terdapat juga monumen bunga teratai, sumur, dan pohon kantil.Pada Monumen Ari-ari RA Kartini terdapat tulisan, "Tempat RA Kartini dilahirkan 21 April 1879". Lalu, ada keterangan tahun pembangunan monumen yang ditulis dengan kalimat "10 Nopember 1951".Camat Mayong, Muh Taufik, mengatakan Monumen Ari-ari RA Kartini dibangun pada 10 November 1951. Ia menjelaskan, menurut sejarah, diyakini ari-ari RA Kartini ditanam di sekitar monumen."Diyakini ari-ari beliau ditanam di sini. Maka dibangunlah monumen ini. Awalnya di sini hanya ada monumen ari-ari, kemudian ditambah dengan pendapa beberapa tahun setelahnya," katanya, Jumat (17/4).Pintu masuk menuju sumur yang masih berfungsi di kompleks dengan Monumen Ari-Ari RA Kartini di Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparanIa menjelaskan, RA Kartini merupakan putri dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan Ngasirah. Kala itu, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat menjabat sebagai wedana.Wedana merupakan pejabat pribumi pada masa Hindia Belanda. Kala itu, wedana bertugas memimpin wilayah kewedanaan atau distrik."Kalau sekarang, jabatan wedana itu seperti pembantu bupati," ujarnya.Lebih lanjut, RA Kartini sejak lahir hingga berusia dua tahun menghabiskan waktu di Kecamatan Mayong. Setelah itu, ia pindah ke Kota Jepara dan menempati Pendapa Kabupaten Jepara."RA Kartini setelah usia dua tahun pindah ke Kota Jepara karena ayahnya diangkat menjadi Bupati Jepara," jelasnya.Ada filosofi yang terdapat pada Monumen Ari-ari RA Kartini ini. Seperti umumnya bayi yang lahir, plasenta atau ari-ari biasanya ditutup dengan keranjang. Hal itu dilakukan agar ari-ari tidak dirusak oleh hewan."Nah, sama seperti kepercayaan orang Jawa pada umumnya, Monumen Ari-ari RA Kartini dibangun dengan bentuk menyerupai keranjang yang seakan-akan menutupi titik dikuburkannya ari-ari," jelasnya.Camat Mayong, Muh Taufik menunjukkan sumur yang masih berfungsi di kompleks dengan Monumen Ari-Ari RA Kartini di Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparanIa menjelaskan, monumen ini dibangun untuk mengenang sosok RA Kartini. Selain itu, untuk mengingatkan masyarakat Jepara agar mengenang jasa-jasa pahlawan emansipasi perempuan tersebut."Sebagai pengingat bahwa di Kecamatan Mayong ini lahir seorang pahlawan bernama RA Kartini," terangnya.Di sekitar Monumen Ari-ari RA Kartini terdapat bangunan berbentuk bunga teratai. Konon, bunga teratai ini merupakan kesukaan RA Kartini. Bangunan ini juga memiliki filosofi.Di bawah kelopak bunga terdapat 21 lengkungan yang menandakan tanggal lahir RA Kartini. Kemudian, bangunan bunga teratai memiliki empat tingkatan sebagai tanda bulan keempat, yakni April."Selanjutnya, pada bagian bawah ada 18 lengkungan sebagai tanda tahun 1800. Kemudian ada tujuh ukuran yang menandakan angka 70. Lalu, ada kelopak berwarna merah sebanyak sembilan. Jika digabungkan menjadi 1879, yakni tahun lahir beliau," jelasnya.Di lokasi monumen juga terdapat sumur yang masih dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk mengambil air maupun berwudu."Sumur ini diyakini dahulu sering dipakai RA Kartini. Selain sumur, di area ini ada pohon kantil yang juga diyakini kesukaan beliau," ungkapnya.Kini, kawasan Monumen Ari-ari RA Kartini sudah dilengkapi dengan bangunan semacam pendapa. Kawasan tersebut juga dibersihkan setiap hari agar memberikan kenyamanan bagi pengunjung.Foto RA Kartini. Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTOMenurutnya, kenyamanan pengunjung sangat penting agar mereka dapat menikmati kunjungan dengan baik.Selama ini, menurut Muh Taufik, pengunjung berasal dari berbagai kalangan usia, mayoritas pelajar. Pengunjung datang dari Kabupaten Jepara maupun daerah sekitar.Pengunjung yang datang tidak dipungut biaya masuk alias gratis. Waktu kunjungan pun fleksibel, mulai pagi hingga sore hari.Keberadaan Monumen Ari-ari RA Kartini di Kecamatan Mayong menjadi pengingat jasa-jasa RA Kartini dalam memperjuangkan kaum perempuan agar lebih berdaya."Beliau memperjuangkan kaum perempuan. Oleh karena itu, jangan pernah melupakan jasa RA Kartini," imbuhnya.