Perang Iran-Israel dan Narasi Sektarian Sunni-Syi'ah

Wait 5 sec.

Ilustrasi dibuat dengan bantuan AI oleh ChatGPT, tanpa referensi visual dari pihak ketiga.Pada 3 Januari 2026, dunia internasional dihebohkan dengan penangkapan presiden negara berdaulat Venezuela, Maduro, oleh Amerika Serikat (AS). Penangkapan Maduro dilakukan atas dalih pemberantasan naco-terorisme, penyelundupan kokain dan arus narkoba. Dalam waktu singkat Maduro dibawa ke New York.Para analis menyebut bahwa keputusan inkonstitusional yang dilakukan oleh Trump berkaitan dengan monopoli pertambangan minyak mentah. Venezuela diketahui memiliki cadangan minyak yang besar—atau jika hendak mau dikata, Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia.Dalam rentang waktu yang berdekatan—penangkapan Maduro di Amerika Latin—terdapat demo besar-besaran yang terjadi di Iran pada akhir Desember 2025 dan awal Januari 2026. Demonstrasi ini dinilai sebagai fase paling kritis dalam sejarah Iran pasca Revolusi 1979. Ada lebih dari 3000 orang meregang nyawa dalam demonstrasi yang berujung kerusuhan tersebut.Potret pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, terpampang di layar yang ada di belakang rudal di Baharestan, Teheran, Iran, November 2018 (Sumber: kumparan.com)Intelijen Garda Revolusi Islam (IRGC) menyebut adanya keterlibatan agen CIA dan Mossad dalam demonstrasi yang awalnya berlangsung damai tersebut. Intervensi CIA di Iran bukan barang baru. Sebelum Iran mengubah bentuk negaranya menjadi pemerintahan berdasarkan teokrasi. Shah Reza Pahlevi—rezim sekular yang digantikan Khomeini—justru naik ke tahta kekuasaan Iran berkat menggulingkan Mossadegh yang terpilih secara demokratis berkat bantuan CIA dan MI6 dalam kudeta tahun 1953.Demonstrasi yang berdarah serta keterlibatan program nuklir Iran menjadi dalih Trump untuk menyerang Iran. Berbeda dengan operasi di Venezuela yang secepat kilat, di Iran, AS menghadapi perlawanan serius. Trump yang yakin bahwa peperangan ini dapat berakhir dalam hitungan hari ternyata salah kalkulasi. Perang telah berlangsung berminggu-minggu.Serangan AS dibawah perintah Trump diikuti oleh Israel yang sejak awal menganggap Iran sebagai musuh utama kawasan. Koalisi Israel-AS resmi melancarkan serangan bertubi-tubi pada Iran sejak Februari 2026. Peperangan ini tidak hanya riuh di dunia nyata dan merangsek masuk ke sela-sela obrolan kaum urban hingga masyarakat pedesaan namun juga direkonstruksi secara sosial di dunia maya.Seorang muslim berdoa ketika matahari hampir terbenam (Sumber: kumparan.com)Hal yang menarik dalam percakapan di dunia maya ialah, adanya upaya mereduksi perang ini tidak sebagai tragedi kemanusiaan dan tindakan inkonstitusional terhadap negara berdaulat melainkan hanya sekadar simbol sektarian Sunni-Syi’ah. Sesuatu yang ironis yang mana, agresi militer AS dalam kurun waktu dua bulan terhadap dua negara diindahkan dan serangan agresif pada Iran dapat dibenarkan dengan alasan sektarian.Sudah menjadi pengetahuan umum, bahwa Iran adalah negara teokrasi berideologi Islam Syi’ah. Pemahaman Syi’ah inilah yang direkonstruksi di media sosial. Arus utama dibalik penekanan narasi Sunni-Syi’ah dapat dilacak ke pemahaman Wahabisme. Ideologi Wahabi inilah sebagai “donatur” framing narasi Sunni-Syi’ah tersebut.Aliran Wahabi dikenal menganut gerakan puritanisme yang ketat. Pemahaman Wahabi cenderung melakukan kritik terhadap kelompok-kelompok sesama muslim baik dari golongan Sunni terlebih Syi’ah. Perbedaan aqidah memang menjadi persoalan, namun konflik geopolitik semakin memperuncing hubungan dua negara.Pasca revolusi 1979, Iran menjadi aktor kawasan yang sama sekali berbeda. Selain mengancam bentuk monarkisme di regional, Iran seakan menentang status quo kawasan yang dipimpin Arab Saudi. Dua spektrum yang berlawanan, Syi’ah yang dimotori Iran dan Sunni (Wahabisme) yang dimotori Arab Saudi menjadi aktor politik yang memainkan peran signifikan hingga hari ini.Di media sosial, yang mana segala akses informasi dapat dipeoleh dengan mudah, justru menghadapi tantangan berupa sulitnya membedakan antara informasi dan upaya pengendalian opini. Perang Iran-Israel justru diabaikan dan menjadi alat framing penyudutan Syi’ah.Beberapa clipping video di media sosial yang mengambil referensi dari para pemuka agama berideologi Wahabi, seperti Khalid Basalamah, Yazid Jawas hingga Riyadh Bajrey menyatakan bahwa perang Iran-Israel tersebut hanya “sandiwara”. Sejatinya Syi’ah dan Yahudi itu ialah teman sejati. Atau secara eksplisit Khalid Basalamah menyebut bahwa tidak ada satupun rudal Iran mengenai Israel. Dan yang paling menghebohkan ia menyebut bahwa Khomeini yang menyandang gelar Ayatullah disebut sebagai keturunan Yahudi dan mengubah nama Ayatullah menjadi Ayatsyaithon.Jika dilacak secara geneaologi, justru nasab Khomeini sampai kepada Muhammad sebagai Rasul yang diyakini umat Islam. Ini dibuktikan dengan gelar “sayyid” pada namanya (Ayatollah Sayyid Ruhollah Musavi Khomeini). Narasi tersebut dapat dibantah dengan mudah dan realitas menunjukkan perang Iran dan Israel bukan “panggung sandiwara”. Proses pemakaman Ayatollah Sayyid Ruhollah Musavi Khomeini, pemimpin Revolusi Iran 1979 (Sumber: kumparan.com)Mengingat gugurnya Ali Khamenei sebagai supreme leader Iran adalah sebuah fakta yang tidak terbantahkan. Namun, fakta ini tetap dibantah dengan narasi-narasi yang menyebutkan bahwa rudal Iran justru lebih banyak menyerang Negara Teluk alih-alih Israel dan AS—tanpa mempertimbangkan fakta bahwa rudal Iran agaknya masih belum mampu untuk mencapai daratan AS dan serangan ke negara-negar Teluk merupakan serangan terhadap pangakalan dan fasilitas AS di negara-negara tersebut.Lalu beberapa media sosial terafiliasi dengan pemahaman Wahabisme seperti @saudinesia dan @fotodakwah mengunggah konten-konten yang bermuatan konflik sektarian, seperti menekankan kekejaman Assad selama menjadi pemimpin Suriah. Penyederhanaan ini justru berbahaya, Assad disimplifikasikan sebagai perwakilan Syi’ah seluruh dunia. Meski memang benar ia penganut Syi’ah, namun ia adalah penganut sekte Alawi. Meski sekte Alawi sendiri menyatakan ia adalah aliran tersendiri.Para pemimpin Alawi sendiri menyatakan mereka telah memasukkan unsur-unsur agama lain ke dalam tradisi mereka, terutama Yudaisme dan Kristen. Kehidupan spiritual mereka yang tertutup, menjadi sulit untuk mengidentifikasi praktik keagamaan mereka. Bahkan beberapa kalangan memasukkan sekte Alawi sebagai sekte etnoreligius tersendiri.Beberapa ulama Syi’ah di masa lampau justru menganggap sekte ini sebagai sekte ekstrem (ghulat) dalam peradaban Syi’ah. Al-Hasan ibn Musa al-Nawbakhti dalam kitabnya yang terkenal Firaq al-Shi’a (Sekte-Sekte Syi’ah). Lalu akun-akun media yang disebut di atas juga melakukan framing dengan menyebut bahwa Syi’ah Houthi yang berada di Yaman hendak merudal Ka’bah. Sesuatu yang sebenarnya secara logis dapat dibantah.Syi’ah Houthi yang berada di Yaman ialah Syi’ah bermazhab Zaidiyah. Mazhab Syi’ah Zaidiyah dianggap Syi’ah paling moderat dan dekat dengan Ahlusunnah (Sunni). Mereka juga mengakui legitimasi kepemimpinan Abu Bakar dan Umar. Bahkan mereka menolak beberapa konsep Syi’ah Ismailiyah yang berpusat di Iran.Militan Syi'ah Houthi di yaman (Sumber: kumparan.com)Andai Syi’ah benar-benar hendak menyerang Ka’bah dengan rudal balistik? Ini justru paradoks yang tidak masuk di akal. Iran yang sedang membutuhkan dukungan regional dan komunitas muslim dunia, justru akan dikucilkan dan menjadi target bersama. Penyerangan terhadap Ka’bah selain tidak masuk akal justru akan melemahkan posisi Syi’ah yang merupakan minoritas dalam komunitas muslim dunia. Alih-alih memperoleh simpati, justru yang didapat ialah antipati.Selanjutnya, menurut riset International Crisis Group (ICG), isu rudal yang dilancarkan Houthi ke Makkah tidak lain merupakan alat mobilisasi untuk menyudutkan Houthi. Mengingat koalisi yang dipimpin Arab Saudi sejak Maret 2015 menggempur Yaman dan menargetkan penghancuran kelompok Houti. Narasi semacam ini, jika tidak ditanggapi dengan kepala jernih dan kritis, justru akan memicu polarisasi dalam tubuh umat Islam.Berakar pada temuan-temuan di atas. Narasi yang mencoba menyederhanakan semua kelompok Syi’ah memiliki pola yang sama dengan propaganda AS yang menyebut agama Islam adalah kelompok teroris hanya karena memframing Islam sekadar Al-Qaeda atau ISIS. Padahal jumhur ulama justru menyebut tindakan mereka sama sekali tidak mewakili Islam.Pada akhirnya, upaya mereduksi serangan AS dan Israel terhadap Iran adalah sebuah hal yang berbahaya. Selain menihilkan ribuan nyawa yang gugur, upaya ini secara sistemik menghilangkan kejahatan perang AS-Israel. Bagaimana tidak, beberapa sekolah dasar dihantam rudal balistik negara itu dan menewaskan ratusan anak-anak kecil yang tak berdosa.Upaya mereduksi serangan ini juga seolah menggiring masyarakat untuk tidak memahami geopolitik, pelanggaran atas kedaulatan negara dan yang paling berbahaya menganggap nyawa-nyawa korban bukan sebagai manusia namun sebagai angka statistika yang tidak dianggap masalah hanya karena satu alasan: yakni bahwa mereka adalah penganut Syi’ah.