Road test B50 di Lembang hingga Cirebon, Selasa (21/4/2026). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparanPemerintah mulai menguji penggunaan biodiesel 50 persen (B50) pada moda transportasi massal. Sektor perkeretaapian dijadwalkan menjadi tahap berikutnya dalam uji coba, yang akan dimulai pekan depan sebagai bagian dari percepatan implementasi nasional pada Juli 2026.Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai memperluas pengujian B50 ke sektor perkeretaapian. Uji coba ini dijadwalkan berlangsung pekan depan, sebagai bagian dari langkah menuju implementasi komersial pada Juli 2026.Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan pengujian kereta sempat tertunda karena menunggu periode libur Lebaran selesai. Pengujian akan difokuskan pada rute jarak jauh di Pulau Jawa untuk menguji ketahanan mesin lokomotif dalam penggunaan B50."Minggu depan kita jalankan menggunakan rute dari Jogja ke Pasar Senen dari Stasiun Lempuyangan ke Pasar Senen. Satu lagi lokomotif dari Gambir ke Pasar Turi. Nah itu yang sudah kita lakukan dan yang kereta nanti baru mau dimulai karena memang menunggu habis lebaran," kata Eniya kepada wartawan di Lembang, Rabu (22/4).Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi dalam uji coba B50 di Lembang, Selasa (21/4). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparanLangkah ini melengkapi rangkaian uji coba B50 yang lebih dulu berjalan di sektor otomotif, pertambangan, dan maritim. Pemerintah menargetkan pengujian di tiga sektor utama tersebut bisa rampung pada Juli, sehingga implementasi B50 dapat dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia."Prediksi kita Juli sudah selesai tiga sektor. Insyaallah sesuai dengan arahan bisa 1 Juli," ungkapnya.Di sisi lain, pemerintah juga memperketat standar bahan bakar nabati (FAME) yang menjadi campuran utama B50. Pengetatan ini dilakukan untuk memastikan performa mesin tetap optimal, terutama dengan menurunkan batas kandungan air dan monogliserida dibandingkan standar B40, guna mencegah endapan dan gangguan teknis pada mesin diesel."Jadi ini persyaratan ke badan usaha bahan bakar nabatinya itu kita syaratkan seperti itu agar performanya bagus. Pastinya ditingkatkan karena performanya ini kan kita uji juga kan makanya kita tetapkan spesifikasi B100-nya itu jauh lebih bagus," kata dia.Berdasarkan data Kementerian ESDM, implementasi B50 yang ditargetkan mulai Juli 2026 berpotensi menghemat devisa hingga Rp 157,28 triliun. Selain itu, program ini juga diproyeksikan membuka lebih dari 2,2 juta lapangan kerja.Dari sisi lingkungan, penggunaan B50 ditargetkan mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 46,72 juta ton CO2 pada 2026. Sementara hingga pertengahan April 2026, realisasi penyaluran biodiesel nasional telah mencapai 3,90 juta kiloliter atau sekitar 24,9 persen dari total alokasi awal tahun sebesar 15,65 juta kiloliter.Secara teknis, kualitas B50 juga ditingkatkan, termasuk pembatasan kadar air maksimal 300 ppm dan monogliserida 0,47 persen massa. Stabilitas oksidasi pun diperkuat hingga minimal 900 menit agar bahan bakar tetap stabil selama penyimpanan dan distribusi.Pemerintah menargetkan pengujian di sektor otomotif selesai pada Juni 2026, sementara sektor lain seperti alat berat dan perkeretaapian akan menyusul secara bertahap hingga akhir tahun. Dengan hasil uji awal yang dinilai aman dan andal, B50 diharapkan menjadi salah satu pilar penguatan kemandirian energi nasional.