Ketika Standar Hidup Dibentuk oleh Algoritma

Wait 5 sec.

Ilustrasi: Standar Hidup Dibentuk oleh Algoritma. dok: aIBaru lima menit membuka Instagram atau TikTok, tiba-tiba muncul perasaan tertinggal. Ada yang sudah sukses di usia muda, punya pekerjaan impian, hidup estetik, atau tampak selalu bahagia. Tanpa disadari, dari situlah standar hidup baru mulai terbentuk bukan dari realitas kita sendiri, melainkan dari algoritma.Media sosial bekerja dengan logika sederhana, menampilkan konten yang paling menarik perhatian. Masalahnya, yang dianggap menarik sering kali adalah potret kehidupan yang terlihat sempurna. Kesuksesan, kemewahan, dan pencapaian besar lebih mudah viral dibanding proses panjang, kegagalan, atau hidup yang berjalan biasa saja. Akibatnya, apa yang sering kita lihat perlahan dianggap sebagai sesuatu yang normal dan seharusnya dicapai.Di sinilah algoritma memainkan perannya. Ia tidak sekadar mengatur konten, tetapi juga membentuk cara kita memandang hidup. Standar bahagia, sukses, bahkan cukup, perlahan digeser mengikuti apa yang sering muncul di linimasa. Padahal, kehidupan di media sosial bukan gambaran utuh, melainkan potongan yang sudah dikurasi dan dipoles.Masalah menjadi lebih serius ketika standar hidup yang dibentuk algoritma tidak sesuai dengan kenyataan mayoritas orang. Tidak semua orang memiliki akses pendidikan yang sama, modal ekonomi yang cukup, atau kesempatan yang setara. Namun, algoritma tidak peduli pada konteks tersebut. Ia menyamaratakan ekspektasi dan secara tidak langsung membuat kegagalan terasa sebagai kesalahan pribadi.Fenomena ini sangat terasa di kalangan generasi muda. Banyak anak muda merasa tidak produktif, tidak cukup berhasil, bahkan merasa “gagal” menjalani hidup, hanya karena membandingkan diri dengan konten orang lain. Padahal, yang dibandingkan bukan realitas utuh, melainkan versi terbaik dari kehidupan seseorang yang ditampilkan untuk konsumsi publik.Lebih jauh, algoritma juga memengaruhi nilai yang kita anggap penting. Kesuksesan sering direduksi menjadi hal-hal yang mudah dilihat dan diukur: jumlah pengikut, penghasilan besar, atau gaya hidup konsumtif. Nilai seperti proses belajar, ketekunan, kontribusi sosial, dan kebermanfaatan jangka panjang menjadi kurang mendapat perhatian karena tidak selalu menarik secara visual atau viral.Tanpa disadari, media sosial berubah menjadi arena pembentukan norma sosial baru. Apa yang sering muncul dianggap wajar, apa yang jarang terlihat dianggap tertinggal. Kita pun mulai menyesuaikan diri, bukan berdasarkan kebutuhan atau nilai pribadi, melainkan demi memenuhi standar yang dibentuk algoritma.Namun, menyalahkan algoritma sepenuhnya juga bukan jawaban. Algoritma adalah produk dari sistem ekonomi digital yang mengejar perhatian dan keuntungan. Tantangan terbesarnya justru ada pada kita sebagai pengguna: apakah kita menyadari bahwa apa yang kita lihat bukan cerminan realitas secara utuh?Literasi digital menjadi kunci penting. Kesadaran bahwa media sosial bekerja dengan logika tertentu dapat membantu kita mengambil jarak dari tekanan standar hidup semu. Tidak semua yang viral harus ditiru, dan tidak semua yang terlihat sukses benar-benar mencerminkan kehidupan yang utuh dan bermakna.Pada akhirnya, standar hidup seharusnya lahir dari refleksi diri, kemampuan, dan konteks masing-masing individu. Hidup bukan lomba siapa yang paling cepat terlihat berhasil, melainkan perjalanan yang unik bagi setiap orang. Jika kita terus membiarkan algoritma mendikte definisi bahagia dan sukses, maka yang hilang bukan hanya ketenangan, tetapi juga kebebasan untuk memaknai hidup dengan cara kita sendiri.